Sekolah

Tempohari, ada seorang mentri yg mengagumkan sekaligus mencengangkan. Baik dari sosok sang mentri itu sendiri maupun fihak yg memutuskan untuk mengangkat orang itu menjadi mentri. Kontroversi. Kontroversi itu tentu saja lahir dari ‘keberanian’ mengangkat org itu menjadi mentri. Karena latar belakang pendidikan formalnya yg pas-pasan. Untunglah, dalam sekejap, sang mentri langsung menjadi (istilah media sekarang) ‘media darling’ alias dicintai wartawan, karena kebijakan-kebijakannya yg dinilai baik.

Sang mentri suatu kali berpolemik. Di ujung polemiknya dia mengatakan: “Ijasah itu cuma menandakan bahwa seseorang pernah sekolah. Bukan menandakan bahwa seseorang pernah berfikir”. Ungkapan cerdas itu tentu bukan orisinal atau hasil ciptaan sang mentri. Tapi, mengutip ungkapan itu saja, sudah menunjukkan kecerdasan.

Hari-hari ini, setelah 2 tahun pandemi berkeliaran (masih dan konon malah ditemukan varian baru), murid-murid mulai sekolah. Kebijakannya beragam. Anak SD kabarnya hanya 2-3 jam, setiap hari. SMP sedikit lebih lama. SMA hampir seperti sekolah pada umumnya, sebelum ada pandemi.
Pemerintah sudah mulai mengagendakan vaksinasi untuk anak usia sekolah. Vaksin merah putih, katanya masih terus diolah.

Adik istriku mempunyai anak berusia SD dan SMP. Adiknya yg lain mempunya anak berusia SMA dan kuliah. Tempohari, sekolah selama pandemi, memaksa murid-murid tak berinteraksi dgn guru dan teman-temannya. Secara kesehatan dan untuk menghindari pandemi, tentu itulah memang satu-satunya cara. Tapi secara pendidikan dan kecerdasan? Apa boleh buat, hal itu sungguh menjadi pertanyaan berat. Belum lagi, jika berfikir bahwa tak semua murid (terutama) yg berekonomi pas-pasan, boro-boro bisa membeli perangkat teknologi komunikasi.

Mari kita bayangkan (anggaplah semua murid sdh punya dan bisa menggunakan alat komunikasi). Ketika seorang guru memberi tugas suatu mata pelajaran kepada murid-muridnya. Interaksi berikutnya adalah: guru menanyakan kpd murid-muridnya melalui alat komunikasi. Ada mengerjakan,…banyak juga yg tidak. Jika tidak pun, apakah ada sangsi? Jika ada, paling-paling, dari sekian kali tak mengerjakan tugas itu, maka guru akan memberikan nilai kurang baik. Itu saja. Jika mengerjakan pun, rasa-rasanya tak akan menambah kecerdasan sang murid. Karena, tugas dari guru, berupa soal-soal, pertanyaan-pertanyaan. Sementara semua jawabannya sudah ada di mesin penjawab ajaib bernama Google. Jadi, murid tinggal menyalin saja, bukan menjawab dari fikirannya sendiri.

Semua itu tak mungkin bisa membuat murid-murid menjadi cerdas, boro-boro kritis. Cuma sekadar menyalin dan mengetik semua jawaban itu paling-paling hanya membuat terampil, jemari murid-murid menjadi lincah, mata sepet, kepala mungkin sedikit keliyengan, itu saja. Itu baru soal kuantitas (murid mengerjakan sejumlah tugas, mengerjakan soal). Belum tentang kualitas (apakah tugas menjawab soal itu sudah benar, hampir benar, salah atau ngawur!). Selebihnya,…alat komunikasi itu digunakan untuk…main game! Dari pagi subuh bangun tidur, bahkan masih di tempat tidur, sambil makan, sampai hendak tidur lagi! Nanti jika orangtua bertanya, tinggal dijawab: “Melihat WA, tugas dari sekolah” atau “Menjawab WA, tugas dari sekolah”. Dijamin orangtua tak akan bertanya-tanya lagi.

Jadi, apakah tak berinteraksi dgn guru-guru dan murid-murid lain itu, otomatis membuat murid-murid menjadi tak cerdas? Sebetulnya tidak juga! Seorang teman dgn sangat berani, mendidik sendiri anaknya di rumah. Tapi tetap harus berinteraksi secara sosial dgn tmn-tmn sebaya. Dia tak menyekolahkan anaknya di sekolah formal, tapi dia mendidik anaknya sendiri di rumah (bahasa ndesonya: home schooling). Usianya sekarang sekitar 10-11 tahun atau (jika sekolah formal) kelas 4-5 SD. Tapi, anaknya sdh bisa membuat bbrp buah buku,…dalam bahasa Inggris! Bahkan, anaknya sdh bisa ‘main plesetan’ dlm bhs Inggris!

Mendiang Romo Mangunwijaya, Ivan Illich dan Neil Postman adalah 3 orang pakar yg sangat intens dan concern terhadap dunia pendidikan dasar. Mangunwijaya, sangat tajam mengkritik. Katanya: “Dunia pendidikan dasar kita sangat kejam. Murid-murid diberi terlalu banyak mata pelajaran tanpa mereka bisa menolaknya” Lalu dia memberikan perumpamaan yg ‘mengerikan’: “Murid-murid seperti dipasung. Diikat kedua tangan dan kakinya, ditutup matanya, ditutup mulutnya supaya tak bertanya-tanya. Boro-boro bisa menelaah secara cerdas dan kritis”

Neil Postman berkata: “Anak didik di mana pun di seluruh dunia seperti diseragamkan fikirannya. Mereka cuma ‘dicetak’ atau dipersiapkan memasuki dunia kerja. Dipersiakan sedemikian rupa, cuma untuk…menjadi tukang! Supaya pemilik modal bisa mempekerjakan mereka. Tak lebih”.

Ivan Illich pernah meluncurkan buku yang sangat kontroversial berjudul: “Bebas dari Sekolah”. Dengan membaca judulnya saja, kita sudah dibuat terhenyak. Tentu, tak perlu lagi ‘dijembrengkan’ isinya. Jalan fikiran sang Illich. Tentang Ivan Illich, aku
ingat seorang teman cerpenis, penulis naskah drama, dan sutradara teater yg sudah almarhum. Sebagai cerpenis dia aku anggap salah-satu cerpenis yg ‘tertib’ menggunakan bahasa Indonesia yg ‘baik-benar-baku’, meski isi dan tema cerpen-cepennya khas dan santai gaya remaja. Ketika, hendak mengajukan beasiswa ke suatu negara di Eropa, dia disodori pemred tempatku bekerja di mana dia biasa mengirim cerpen-cerpenya (juga sdh almarhum), buku Ivan Illich itu. “Mendingan kamu baca dulu buku ini” kata pemredku yg juga novelis kondang itu. Konon buku itu sempat mempengaruhi pemikiran temanku itu. Tapi karena dosen-dosen di tempat kuliahnya terus-menerus menyemangati dan mendorong, akhir beasiswa tetap diambilnya, meski agak tertunda.

Semua pakar pendidikan yg sangat kritis itu, tentu saja bukan tak setuju dgn dunia pendidikan dasar formal. Tapi yg aku tangkap adalah: bahwa pendidikan itu bukan cuma disekolah formal, apalagi jika sekolah formal itu metodanya tak bisa dikritisi. Tapi sekolah itu bisa di mana saja. Dan belajar itu, seperti kata pepatah Minang: “Dari buaian sampai menjelang masuk ke liang lahat”

Seperti kata seorang novelis Minang, AA Navis dalam bukunya: “Alam takambang jadi guru”…