Selebrasi Ibu Setiap Hari

Selebrasi ibu setiap hari (Foto: ruangguru)

Foto : ruangguru

IVY SUDJANA

“Minta ya gambarnya!”

Unggahan saya tentang sejarah hari Ibu yang bermula dari Konggres Perempuan di Yogyakarta ternyata mengundang respon baik.

Seorang perempuan yang sudah bersuami-yang katanya juga mendapat panggilan Ibu bila berpegang KBBI-tetapi belum dianugerahi seorang anak pun, merasa perlu memasangnya di status.

Saya paham perasaannya. Ketika perempuan dewasa yang lain beramai-ramai merasakan euphoria dengan mengunggah foto ucapan maupun hadiah dari suami dan anak-anak, bagaimana sedihnya ia dan perempuan yang bernasib sama.

Baper? Mungkin dan hal itu bagi saya adalah kewajaran. Tak menampik pilihan orang tentang child free, ada pula perempuan yang tak berhenti berharap menunggu strip dua sampai menimang bayi di pelukannya.

Saya juga bukan orang yang hatinya mudah tersentuh dengan selebrasi semacam ini. Meski tidak menentang karena itu hak masing-masing, beberapa hal yang menjadi komodifikasi kapital dengan produk-produk diskon untuk para Ibu atau lomba dengan hadiah lumayan tentu menyenangkan saya juga.

Selebrasi memuliakan Ibu selayaknya tidak hanya pada tanggal 22 Desember saja. Setiap hari sesungguhnya menjadi momen setiap orang untuk mengapresiasi dan belajar banyak dari sosok perempuan yang telah melahirkan, membesarkan maupun mengasuh didik kita.

Apalagi menilik asal mulanya dari pergerakan perempuan, sehingga selayaknya 22 Desember adalah ajang mensyukuri kesetaraan kedudukan perempuan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Kenyataannya tak perlu menunggu menjadi Ibu dulu untuk memperjuangkan hal-hal yang menjadi PR perempuan. Mulai dari kodrat alami menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.

Berapa banyak dari kita-sebagai perempuan-masih terus memperdebatkan bahwa melahirkan normal lebih mulia daripada bedah caesar? Berapa banyak dari kita menyinyiri penggunaan pembalut sekali pakai pada beberapa perempuan?

Berapa banyak yang berisik berkomentar tentang ASI dan susu formula?

Termasuk perdebatan Ibu bekerja dan tidak bekerja?

Terikut juga sikap-sikap sinis kepada teman-teman single mom?

Berapa banyak dari kita justru bersemangat luar biasa untuk menjatuhkan perempuan lain?

Belum pagi PR tentang kekerasan demi kekerasan terhadap perempuan.  

Selebrasi ini seharusnya mengajak kita merenungkan kembali. Selain sosok Ibu sempurna yang beruntung dimiliki beberapa teman, tetap ada kasus Ibu yang mengabaikan anak-anaknya, ada Ibu yang ‘toxic’ dan tak menyadari mengasuh didik dengan verbal abuse, bahkan physical abuse.

Tentu bagi teman-teman yang dulunya atau sampai saat ini masih mengalami, selebrasi hari Ibu malah menjadi momok karena mengingatkan akan trauma dan kejadian buruk di waktu lalu.

Menutup tulisan ini, patutlah kita berpikir lagi beberapa hal sebagai kesimpulan.

– Melahirkan tak serta-merta membuatmu menjadi Ibu

– Tak ada sekolah menjadi orang tua, sehingga proses parenting sebenarnya adalah trial dan error.

– Tak ada Ibu yang sempurna, tak ada Ibu yang luput dari berbuat salah. Ibu yang mau belajar dan berusaha sebaik mungkin akan membantu proses pencapaian  itu.

– Memilih menjadi Ibu adalah pilihan personal dengan segala konsekuensinya.

– Tak harus menunggu menjadi Ibu dulu untuk menjadi sosok yang mulia dan bisa bernilai.

– Merayakan dan tidak merayakan  hari Ibu adalah pilihan, bukan kewajiban.

Virtual hugs untuk semua perempuan, baik Ibu maupun tidak, pekerjaan rumah untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, mempersiapkan generasi masa depan; masih menanti kerja keras kita.

Yuk … tak hanya berhenti di selebrasi. Mari berkontribusi setiap hari.

BACA LAINNYA

Sekolah Menjadi Ibu

Surat kepada Ibu yang Tidak Bisa Membaca dan Menulis

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta