65. SARPAKENAKA TIBA DI ALENGKA
Beberapa hari lamanya Sarpakenaka bersama prajuritnya meninggalkan Hutan Dandaka melakukan perjalanan pulang ke Alengka.
“Prajurit, lihatlah! Pintu gerbang Alengka telah terlihat. Ini berarti sebentar lagi kita akan sampai di Kerajaan Alengka!” Kata Dewi Sarpakenaka.
“Iya Sang Dewi.”
“Aku akan mengadu kepada Kakanda Rahwana!”
“Kalau kita sudah bertemu dengan Dewi Sinta?”
“Ya, betul!”
“Kita percaya, Prabu Dasamuka atau Prabu Rahwana akan bertindak cepat untuk bisa bertemu dengan Dewi Sinta dan suaminya, Raden Ramawijaya.”
“Ah, kita semua berharap seperti itu.”
Akhirnya Dewi Sarpakenaka dan prajuritnya telah sampai di Kerajaan Alengka. Buru-buru Dewi Sarpakenaka segera menghadap dan mengadu kepada Rahwana, Raja Alengka.
66. DI HADAPAN RAHWANA, RAJA ALENGKA
Di balairung Kerajaan Alengka. Prabu Dasamuka atau Rahwana duduk di kursi singgasana kerajaan dihadap oleh putra mahkota, Raden Indrajid atau Raden Megananda dan Patih Prahastha yang masih pamannya sendiri.
“Paman Patih Ptahastha,!”
“Dhawuh anak Prabu.”
“Apakah sudah ada kabar tentang keberadaan Dewi Sinta dari adikku Sarpakenaka?”
“Belum ada kabar anak angger.’
“Semoga segera ada kabar Paman?!”
“Sendika Dhawuh anak Prabu.”
Tak lama kemudian seorang prajurit memasuki balairung Alengka.
“Prajurit!”
“Ya, Sinuwun Prabu.”
“Ada kabar apa prajurit?!”
“Adinda Dewi Sarpakenaka beserta para prajurit pilihan dari Alengka telah memasuki pintu gerbang istana.”
“Oh, ya?!”
“Iya Sang Prabu.”
“Ha ha ha ha !!! Semoga mereka membawa kabar baik tentang Dewi Sinta.”
Ketika Dewi Sarpakenaka kelihatan di halaman istana, Rahwana tampak girang bukan kepalang.
“Sarpakenaka, adikku, ha ha ha ha !!!”
“Kanda Prabu!!??”
Rahwana menyambut kedatangan Dewi Sarpakenaka dengan hati berbunga-bunga. Riang gembira.
Dipeluknya Dewi Sarpakenaka.
“Apakah engkau sudah ketemu dengan Dewi Sinta?”
“Sudah. Aku sudah ketemu.”
“Apakah dia cantik?”
“Ya, Dewi Sinta sangat cantik. Ia telah menjadi istri Raden Ramayana.”
“Raden Ramayana dan kedua adiknya Raden Lesmana dan Raden Satrugna semuanya berwajah tampan rupawan. Mereka juga sakti mandraguna.”
“Aku tidak bertanya Rama dan adik-adiknya. Yang kutanyakan Dewi Sinta.”
“Maaf Kanda Prabu.”
“Cukup! Jangan menyanjung musuh! Tidakkah kamu tahu, kakandanu ini raja yang sakti mandraguna pilih tanding dalam berperang!”
“Aku tak mampu berperang melawan mereka!”
“Kamu sudah bertanding dengan mereka?!”
“Sudah, tetapi aku kalah!”
“Kamu kalah?”
“Ya, aku kalah! Lihatlah kedua telingaku ini!”
“Kenapa kedua telingamu Sarpakenaka?”
“Diperung oleh Raden Lesmana, adik Ramayana!”
“Dipotong oleh Lesmana?”
“Iya Kanda Prabu!”
“Mengapa kamu menurut saja, Sarpakenaka?”
“Aku mabuk! Ya, aku mabuk!’
“Kau mabuk?!”
“Aku mabuk dengan ketampanan wajah mereka. Aku kira Raden Lesmana mau memelukku tetapi justru ia memotong kedua telingaku!”
” Huh, wong edan!”
“Tolong aku, Kanda Prabu! Tolong aku!”
“Dengar Sarpakenaka! Aku hendak membalaskan dendam mu!”
“Trimakasih Kanda Prabu! Trimakasih!”




