Tanah Abang

Penulis Aries Tanjung

Waktu itu, gadis sulungku, sudah tiga bulan belajar bekerja sebagai content writer di sebuah perusahaan semacam biro iklan.

Tempo hari, sebelum ‘diperbolehkan’ maju membuat skripsi dia harus punya pengalaman magang di tiga buah perusahaan. Lokasi kantor tempat magangnya terakhir agak jauh dari rumah, sehingga dia harus naik kereta api, berpindah-pindah tiga kali, barulah sampai tujuan.

Hari pertama magang di kantor televisi itu, membuatku senewen! Karena jam setengah dua belas, hampir tengah malam dia masih mununggu kereta api yang membawanya ke stasiun Pondok Ranji atau Sudimara, lalu naik ojek lagi barulah sampai di rumah. Bayangkanlah dunsanak: seorang gadis (cantik pula hehe…), tengah malam sendirian di daerah Tanah Abang!…

Ketika aku telepon, dengan tenangnya gadisku mengatakan: “Tenang ayaaah, jangan berfikir seperti stasiun Tanah Abang jaman ayah remaja duluuu. Sekarang sudah rapi, tak semrawut, bersih dan nah ini yang terpenting,… amaaan. Tak sembarang orang boleh berseliweran tak karuan di stasiun jika dia tak punya tiket keretaapi”.

Sejak kecil, yang ada di benak sebagian besar orang Jakarta tentang pasar Tanah Abang dan sekitarnya adalah: kusut, semrawut, pedagang kaki lima menggelar dagangannya di sepanjang jalan dan sudah pasti macet.

Ketika SD, aku sering diajak ayah membeli sepatu bekas di tukang loak. Sampai menikah, jika istri ‘memaksa’ untuk berbelanja di pasar-yang konon terkenal sampai Afrika-itu, aku menumpang parkir di sekitar pasar Paal Merah (ini pun daerah yang tak kalah tua dan melegenda), kantor lamaku. Barulah dari sana kami naik angkot.

Pasar Tanah Abang dgn ‘segala kekusutannya’ sudah terlanjur menempel dalam benak warga Jakarta. Pasar itu tak pernah tidur, “kagak ade matinye” kata anak Betawi.

Ketika aku berkantor di Paal Merah, pernah seorang teman wartawan, karena pulang tengah malam bertanya, sampai jam berapa angkot dari Tanah Abang ke Kebayoran Lama, aku bilang: “Setiap saat, jam berapa saja,…bukan lagi 24, tapi 25 jam sehari!”.

Ada gurauan, ketika seorang sopir angkot merayu gadis pujaannya yang merantau dari seberang. Sang pemuda sopir angkot sesumbar(sesumbar ini bukan seluruh Sumatra Barat, tapi pamer, dialeg Betawi), begini katanya:

“Dek, jelek-jelek begini, adek boleh tanya sama pentolan daerah sini. Mulai dari Pejompongan sonoan ‘dikit, Kebon Pala, Kebon Kacang, Kebon Melati, Kebon Jahe sampe Cideng,…itu Tanah Abang semuaaahhh!”…

Beberapa gubernur datang dan pergi memimpin Jakarta. Tanah Abang ‘stand still’ dengan segala ciri khasnya. Ada yang bilang, banyak pedagang kaki-lima yang bersedia membayar sangat mahal untuk sebidang lapak kecil saja untuk menggelar dagangannya.

Ada yang bilang: preman-preman pasar itu silih berganti tergantung siapa yg kuat. Kuat di sini bisa berarti sangat harafiah-secara fisik-atau kuat secara finansial. Artinya banyak orang yang bersedia membayar atau dibayar untuk ‘bertarung’ memperebutkan lapak itu. Tentu, ‘pertarungan’ itu tak mudah dibuktikan. Aku tak punya kepentingan dan tak ‘berselera’ untuk membuktikannya. Lagipula soal pertarungan kepentingan itu sudah menjadi rahasia umum bukan?.

Tiba-tiba, seseorang yang datang dari Belitung dengan keberanian dan dengan ‘kurang ajar’ menbereskan segala kekusutan itu.

Bahkan dia bilang secara bergurau: “Kalo mau kuat-kuatan, gw juga preman. Bedanya gw punya kekuatan yang resmi dari negara”.

Maka pasar itu, yang puluhan tahun, berkali-kali gonta-ganti gubernur, senrawut seperti tak tersentuh, toh bisa ‘ditaklukan’, tiba-tiba bersih.

Pasar Tanah Abang rapi! Kendaraan lancar. Orang bisa berbelanja dengan tenang. Warga Jakarta tercengang!
Tapi, semua keteraturan itu tak berjalan lama.

Ketika ‘Anak Belitung’ itu dipenjara, berangsur-angsur para pedagang mulai kembali berani membuka lapaknya.

Sekarang, Pasar Tanah Abang sudah kembali “seperti sedia-kala” dengan segala kesemrawutan yang sudah terlanjur menjadi ciri-khasnya…

(Aries Tanjung)