Seide.id – Tentu survey ini belum tentu sepenuhnya benar. Namun bisa sedikit memberi gambaran barangkali masih ada kebenaran ilmiahnya. Sekurangnya di mata ilmu psikologi.
Soal sexual attraction misalnya, yang berkorelasi dengan latar belakang suku, pendidikan, strata sosial, ihwal ketertarikan gender terhadap bagian tubuh lawan jenisnya. Lelaki strata sosial bawah misalnya lebih tertarik pada wanita berpayudara besar.
Mari kita membaca anggapan gender ihwal keterarikan bagian tubuh lawan jenisnya. Yang lebih benar ihwal anggapan lelaki, dan kalau disandingkan dengan hasil survey ini, anggapan itu ternyata tidak semuanya tepat ihwal ketertarikan wanita terhadap bagian tubuh lelaki. Lelaki umumnya salah beranggapan.
Yaitu bahwa memiliki tubuh yang berotot ternyata hanya 1% saja wanita yang tertarik, dan demikian pula anggapan salah lelaki karena ternyata wanita yang menyukai penis hanya 2% saja, bukan 15% sebagaimana yang dianggap lelaki. Artinya tidak perlu bikin badan berotot, kecuali bila suka saja, dan bukan pula supaya wanita bisa terpikat. Tidak juga perlu mencari Mak Erot untuk permak Mr P dengan harapan menjadi lebih disukai wanita yang hanya 2% saja yang tertarik pada Mr P, bukan 15% sebagaimana dianggap lelaki. Maka sudah cukup yang seadanya, asal bisa menyengat saja.
Yang luput lelaki perhatikan justru sorot mata miliknya, tubuh yang ramping, selain tidak perlulah sampai mengganjal bokong dengan dompet tebal, supaya tidak kelihatan kempis. Kebanyakan lelaki beranggapan sorot mata bergairah, dan tidak buncit, bukan hal yang memikat wanita. Di situ letak keterpikatan wanita pada lelaki.
Selebihnya ihwal fisik, lelaki perlu bersih, rapi, necis, dan wangi.
Itu soal sosok. Tapi wanita umumnya lebih terpesona terhadap lelaki oleh ihwal yang di dalam, yang inner. Wanita lebih terpikat oleh sikap lelaki yang melindungi, yang elegan, yang jujur, dan punya pembawaan sikap yang romantik, selain cerdas. Hal lain, wanita sensitif juga merasakan suara lelaki yang sexy. Seorang wanita bisa terpikat oleh lelaki dengan warna suara tertentu.
Kalau dibandingkan dengan perlunya sosok, wanita lebih memilih keterpikatan yang di dalamnya lelaki. Good looking mungkin tidak seperlu personalitas. Itu maka, untuk terpikat wanita, secara psikologik, lelaki perlu lebih menata kepribadiannya, menampilkan sikap kelelakiannya, dan isi kepalanya. Tidak demikian dengan wanita di mata lelaki.
Seks lelaki itu ada di matanya. Wanita harus bersosok indah, sering-sering tidak begitu perlu pada inner-beauty. Yang penting cantik, ayu, jelita bak bidadari. Tergantung strata sosial lelaki. Namun buat kebanyakan lelaki matang berpendidikan sosok wanita sama perlunya dengan inner-beauty. Lihat pemilik FaceBook, Mark Zuckerberg, memilih istrinya, yang seturut mata keindahan, bukan terbilang cantik. Lihat pula sosok istri Bill Gates, bukan sosok seelok artis.
Sebaliknya seks wanita itu ada di telinganya. Seberapa bagus ungkapan rasa yang didengarnya dari lelakinya. Wanita juga butuh ada rasa. Tanpa ada rasa, ketertarikan itu nyaris tiada. Keterpikatan itu hambar. Juga dalam aktivitas seksual, wanita hanya menikmati apabila ada rasa. Hanya bila ada getaran itu.
Ulasan saya ini juga mungkin tidak seluruhnya benar. Hanya analisis dari buku yang pernah saya baca, dari pengalaman praktik, dan diskusi dengan teman, orang-orang, dan mereka yang punya keahlian psikologi. Analisis literatur saya tentu amat terbatas. Anggap ini cuma buat ungkapan human interest saja, just for fun saja. Anda boleh saja punya pendapat sendiri.
Salam sehat,
Dr Handrawan Nadesul






