5. Nasihat Wasista
Duka nestapa Prabu Dasarata nan bijak itu belum pula menunjukkan keredaannya. Ia terus memikirkan kelestarian tahta Kerajaan Ayodya. Kehadiran seorang anak laki-laki sebagai ksatria utama yang hendak meneruskan tahta Ayodya kelak masih dirindukannya.
Pada suatu waktu, ia meminta nasihat bijak dari Bagawan Wasista.
“Rama Bagawan Wasista, ujian yang aku terima sungguhlah besar. Rama Bagawan tahu bahwa dari ketiga isteriku sampai saat ini belum menampakkan adanya tanda-tanda hanggarbini (mengandung). Apakah kiranya kelanjutan pemerintahan Ayodya akan berakhir sampai di sini saja?” Kata Prabu Dasarata kepada Bagawan Wasista.
Dengan rendah hati, Bagawan Wasista memberikan nasihat nan bijak kepada Prabu Dasarata.
“Sungguhlah agung dan harum jika Ananda Prabu berkenan dengan tulus dan ikhlas untuk mengadakan Sesaji Aswamedha”.
6. Sesaji Aswamedha
Saran baik dari Bagawan Wasista diindahkan oleh Prabu Dasarata. Memperbanyak pujian melalui sesaji atau upacara agung Aswamedha kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi (Tuhan Seru Sekalian Alam) adalah jalan yang baik.
Melalui sesaji Aswamedha, Prabu Dasarata berharap semoga segera dikaruniai wiji sejati (anak) yang dapat meneruskan tahta Kerajaan Ayodya di kelak kemudian hari.
Segera diperintahkan kepada para punggawa dan nayaka praja (pegawai Kerajaan) untuk menyiapkan ubarampe (peralatan) sesaji Aswamedha.
Setelah semua ubarampe lengkap. Sesaji Aswamedha dimulai, dipimpin oleh Bagawan Wasista. Sesaji Aswamedha berjalan dengan lancar dan khidmad. Lagu-lagu pujian bagi Tuhan Seru Sekalian Alam dilantunkan dengan merdu. Prabu Dasarata berharap semoga ‘Wahyu Jatmika’ (datangnya kebaikan) meliputi Kerajaan Ayodya.
( bersambung )





