Bukan Getok Kepala atau Getok Harga, Tapi Getok Tular

Jangan main getok-getokan, karena kita tidak ingin saling melukai, apalagi menyakiti. Kita juga tidak ingin getok kepala atau getok harga, melainkan getok tular hal-hal yang baik dan benar. Kita hidup untuk saling mengasihi dan bahagia.

Getok kepala, maksudnya bukan kepala yang digetok. Tapi rayuan maut yang mampu membuat kita terbius dan lupa diri, sehingga kita terperdaya. Hal itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Coba simak bujuk rayu pinjol di saat pandemi seperti ini. SMS atau WA yang salah alamat. Kita dapat hadiah, menang undian, dsb. Atau ajakan orang yang menawarkan proyek bodong.

Ketika kita hilang kewaspadaan untuk berhati-hati, berarti kita masuk ke dalam perangkap untuk diperdaya, sehingga menelan kerugian materi yang besar. Belum lagi, jika nama kita dicatut dan dimanfaatkan untuk tujuan jahat.

Berpikir jernih adalah langkah bijak untuk mengantisipasi agar kita tidak terjerumus melakukan hal-hal konyol yang merugikan diri sendiri. Resepnya adalah jangan malas berpikir menggunakan logika, bersikap tegas, dan jujur agar kita sukses atasi niat jahat dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Tidak jauh dengan getok kepala adalah getok harga. Kita sering kali memanfaatkan orang yang kurang berpengalaman, tidak banyak tahu barang yang hendak dibeli, ataupun orang yang butuh dengan mencari keuntungan besar. Misal orang yang berjualan di tempat wisata, keramaian, pemberhentian bis malam saat mudik, dsb. Alasannya, mereka bukan pelanggan tetap dan hanya sesekali.

Mencari untung besar itu tidak dilarang, tidak salah, dan syah. Tapi hal itu bukan cara berbisnis yang baik. Sebaliknya membuat kita rugi sendiri, karena pelanggan menjadi kecewa, kapok, dan tidak mau belanja lagi.

Mencari pelanggan itu tidak mudah. Apalagi untuk merawat dan mempertahankan pelanggan agar tidak pindah ke lain hati. Pelanggan tetap setia pada kita.

Membina hubungan yang baik dengan pelanggan itu ibarat membangun kejujuran. Kita melayani pelanggan tidak sebatas memberikan yang terbaik, tapi kita juga membangun emosi semangat kebersamaan sebagai mitra kerja.

Kepercayaan itu ibarat kertas putih yang harus dijaga keputihannya agar tidak kotor, karena ketidakjujuran kita. Kertas putih yang kotor tidak bakal menjadi putih lagi, kendati dicuci dan diseterika.

Hubungan baik dengan siapapun itu harus dijaga dan dipertahankan. Karena hal-hal yang baik itu harus digetok-tularkan, dari mulut ke mulut, dan sikap kita agar semua orang selalu berbaik sangka, berpikir positif, dan bahagia. (MR)

Membangun Kepercayaan, Fondasinya Pelayanan

Lebih Baik Menjadi Semut, Ketimbang Menjadi Ekor Gajah

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang