Buku Buku yang Mengubah Kesan

Buku Doni Monardo

Tak diragukan bahwa kehadiran Egy Masadiah bukan hanya tenaga ahli staf khusus atau apalah, melainkan juga jurnalis dan pencatat sejarah. Dan dia juga wartawan perang. Perang melawan bencana baik yang nampak seperti bencana alam, maupun bencana penyakit, seperti Covid 19 yang berlangsung global itu. Maupun bencana tak kasat mata, melawan virus.

OLEH DIMAS SUPRIYANTO

TEMAN lama saya, Egy Massadiah memenuhi janjinya dengan mengirim sejumlah buku karyanya. Awalnya dua buku, setelah saya mengucap terima kasih, karena saya merinci bagian bagian yang saya baca – sebagai tanda saya membacanya, tak sekadar memajangnya di rak, dia lalu mengirim dua buku berikutnya.

Mulanya dia mengirim dua buku tebal; Titik Nol Corona (Januari 2021, 406 halaman) dan Satu Komando Doni Monardo (Maret 2023, 312 hal). Selanjutnya dia mengirim dua buku tebal lagi, Secangkir Kopi di Bawah Pohon (Juli 2019, 282 hal) dan Sepiring Sukun di Pinggir Kali (Mei 2020, 351 hal).

Dengan mengirim dua buku saja, kesan saya tentangnya berubah. Dan dua buku lainnya mengubah lagi citra sosok Egy Massadiah, jurnalis yang juga teaterawan ini. Egy tak cuma menulis buku, dia mencatat peristiwa bersejarah, yang tak bisa dilupakan dunia dan tentu saja kita semua di sini. Dia berada di tengah masa kritis yang menimpa republik pada 2019 – 2021 lalu. Dia ada di tengah bencana juga pandemi global, Covid-19 dan bencana lain di berbagai wilayah dan pelosok tanah air di antara masa itu.

Catatannya yang terangkum dari dua buku yang awal dikirim itu, tak hanya menjadi bacaan penting di saat kini, namun juga akan menjadi kajian di masa depan. Begitu rinci, jam, hari, tanggal bulan dan tahunnya, yang terekam, dari peristiwa, kejadian yang disaksikan langsung.

Pada 50 tahun hingga 100 tahun mendatang – bahkan pada abad berikutnya – buku-buku ini akan tetap dicermati sebagai naskah penting. Bukankah para jurnalis dan sejarawan meriset wabah Flu Spanyol, Polio Amerika, Ebola di Afrika, dan banyak lainnya – dari para pencatat sejarah pada masanya?

Jangan lupakan, dunia memuji Indonesia karena paling cepat dan paling baik dalam menangani bencana pandemi Covid 19 . Melalui WHO dan John Hopkins University menyampaikan Indonesia sebagai “one of the best in the world” dalam menurunkan kasus Covid -19. Pujian diberikan langsung kepada Presiden Jokowi sebagai kepala negara, namun di lapangan Doni Monardo, Letnan Jendral TNI yang dipercayai memimpin penanggulangan bencana mengerikan itu.

SELAMA ini saya cenderung memandang negatif – lebih tepatnya “iri” – kepada rekan jurnalis yang dekat dengan tokoh penting. Sebagaimana para pendakwah tertentu yang sinis pada para ulama yang dekat dengan penguasa (‘umara’). Saya menduga jurnalis yang dekat dengan pejabat sekadar numpang fasilitas, numpang ngetop, ngarep proyek, dan nebeng kekuasaan. Kesan itu yang ada di benak saya tentang Egy Massadiah – tapi kemudian langsung berubah total lewat buku yang dikirimkan olehnya.

Ya, Egy memang dekat dengan Wapres HM Jusuf Kalla dan kemudian menempel pada Letnan Jendral Doni Monardo di BNPB – Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Dan dengan itu dia dekat dengan elite lain dan diperkenalkan dengan para petinggi negara dan jendral lainnya. Tapi apa yang dikerjakannya bukanlah sekadar dekat dan menempel. Dia menjadi bagian tim supporting yang vital dan diperlukan. Mengambil peran di belakang layar. Back up. Dan dalam konteks Egy ada nilai plus. Dia jadi juru catat, reporter, dan notulen – yang berakhir dengan karya jurnalistik.

HM Jusuf Kalla dikenal sebagai juru damai pihak pihak yang sedang berkonflik bukan hanya nasional dan regional melainkan juga internasional. Ada banyak aksi di belakang layar di sana, dengan keberhasilan dan kegagalan dan tak terpublikasi – karena sensitif. Selain itu, sebagai wapres banyak melakukan pekerjaan yang melibatkan banyak gerakan politik kebangsaan. Dengan penjelasan yang dia berikan (yang disampaikan off the record) saya mengubah kesan negatif pada JK selama ini.

Sedangkan Jendral Monardo yang dengannya dia bekerja sesudahnya, adalah jendral panglima perang dan penanggung jawab penanganan bencana (BNPB) yang sehari hari berada di lapangan. Maka, saat mendampingi sang jendral Kopassus ini, Egy pun ikut turun ke lapangan. Melintasi laut, hutan dan gunung, juga menyeberangi sungai yang berbahaya, Doni dan Egy sering berdekatan dengan maut.

Jadi saat dekat dengan tokoh elite dan tokoh bangsa bukan semata mengenal mereka, mendapatkan koneksi, menunjukkan kemampuan bekerja ekstra keras, sebagai pendamping, tim mendukung, pelobi di belakang layar, untuk menyiapkan segala sesuatunya agar semua program berjalan lancar. Dan itu melelahkan. Sangat melelahkan. Menguras energi dan emosi.

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.