‘Bunga Semerah Darah’, Karya WS Rendra yang Di-Teater-Filmkan oleh Iwan Burnani

Drama Rendra01

Mengajak serta aktor dan aktris kondang Tyo Pakusadewo dan Maudy Koesnaedi, sutradara Iwan Burnani Toni menggelar teater film di TIM. Naskah yang ditulis dramawan si Burung Merak itu dirasa masih relevan dan kontekstual di masa paska pandemi ini. foto : Aktor Tio Pakusadewa (kemeja Putih) dan Iwan Burnani Toni (kacamata) serta pendukung Bunga Semerah Darah.

. Seide.id – Sutradara Iwan Burnani Toni menjajal karya genre teater film, dengan mengangkat naskah Bunga Semerah Darah karya almarhum WS Rendra. Anggota senior Bengkel Teater ini menggabungkan antara teater dan film adalah hal yang relatif baru di Indonesia. Ia menampilkan sebuah film format layar lebar berdurasi dengan materi campuran antara adegan-adegan di luar panggung dan di atas panggung .

Mencampurkan antara adegan di luar panggung dan di atas panggung memiliki kesulitan-kesulitan sendiri. Tantangan terbesar adalah bagaimana adegan di luar dan di atas panggung mampu memiliki kontinuitas dan kesinambungan yang natural.

Adegan di luar panggung meliputi adegan di outdoor jalanan sampai adegan di dalam interior rumah. Sementara yang di atas panggung menggunakan proscenium sebagaimana pentas teater.

Proses pengambil syuting di panggung sendiri oleh Iwan tidak diambil one take, one shot – atau sekali jadi sebagaimana proses pendokumentasian sebuah pementasan teater namun dengan pendekatan pengambilan gambar sebuah syuting film. “Seluruh adegan di panggung saya ambil cut to cut persis syuting film, sehingga filmis,” kata Iwan.

Bahkan sebuah adegan bisa dilakukan berkali-kali take. Bisa disebut apa yang dilakukan Iwan ini merupakan eksprimen yang memunculkan alternatif baru dalam dunia teater di Indonesia.

Naskah Bunga Semerah Darah ditulis almarhum WS Rendra saat masih kelas 2 SMP di tahun 1950. Naskah ini adalah naskah realis yang berusaha memotret kemiskinan dan ketimpangan sosial. Melalui naskah ini, memperlihatkan Rendra sudah memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sejak belia. Rendra memiliki simpati yang besar terhadap orang papa, kaum tersisih dan marginal.

”Naskah Bunga Semerah Darah karya guru saya Rendra ini, saya adaptasi agar memiliki relevansi dengan persoalan kekinian yang kita hadapi bersama. Naskah dengan suasana tahun 50-an ini saya bumikan menjadi berlangsung di masa pandemi,” kata Iwan Burnani.

Iwan Burnani Toni sutradara lakon Bunga Semerah darah di TIM – foto HW.

Naskah Bunga Semerah Darah menjadi aktual, ketika akibat Pandemo Covid banyak orang kehilangan pekerjaan dan betapa mereka yang dari golongan ekonomi lemah hidupnya makin tertekan.

Iwan Burnani, yang menyutradarai karyanya kali ini, memulai debut pertama Teater-Film saat membuat Teater-Film Petang di Taman yang bertolak dari naskah drama karya Iwan Simatupang, yang diputar Iwan di Teater Kecil – TIM, pada 16 Januari 2022, saat pandemi masih berlangsung cukup tinggi. Saat itu, Iwan merombak naskah Iwan Simatupang. Ia tidak mentah mentah menyajikan persis naskah Iwan Simatupang.

“Saya berusaha menangkap intinya, membuatnya lebih realis dan kemudian mempertajam kemungkinan konfliknya,”kata Iwan Burnani. Ia menciptakan karakter baru yang tidak ada dalam naskah asli Iwan Simatupang. Naskah asli yang hanya empat tokoh ia buat menjadi enam tokoh. Dan sekarang Iwan Burnani untuk kedua kalinya menyajikan Teater-Film.

Di usianya yang lebih dari 70 tahun Iwan mampu memproduksi dua karya Teater-Film. Sementara banyak pekerja teater lainnya yang berhenti atau menunda berkarya.

Teater-Film Bunga Semerah Darah yang akan ditayangkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jumat, 11 November 2022 pukul 19.30 dimainkan oleh aktor-aktor dan aktris yang telah malang melintang di dunia film dan teater antara lain: Tyo Pakusadewo, Maudy Koesnaedi, Vonny Anggraini, Asrul Dahlan, Adam Syahel, Joind Bayuwinanda dan lain-lain. – dms.

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.