Cabai, Sejarah, dan Kandungan Fitokimia

Seide.id – Cabai sudah menjadi primadona tersendiri dalam dunia kuliner di Indonesia.
Hampir semua masakan menyertakan cabai sebagai komposisi bumbunya.

Selain itu, harga cabai selalu menjadi hal yang sering dipantau oleh ibu-ibu. Baik ibu-ibu yang memiliki usaha warung makan, maupun ibu-ibu yang memasak hanya untuk keluarga di rumah, sama-sama khawatir saat harga cabai melonjak.

Berbicara tentang cabai, tahukah kita sejarah tanaman cabai?

Sejarah cabai

Tanaman cabai yang memiliki nama Latin Capsicum annum L berasal dari daerah tropika dan subtropika benua Amerika, khususnya Kolombia, Amerika Selatan, dan terus menyebar ke Amerika Latin.

Bukti budidaya cabai pertama kali ditemukan dalam tapak galian sejarah Peru dan sisaan biji yang telah berumur lebih dari 5000 tahun SM didalam gua di Tehuacan, Meksiko.
Penyebaran cabai ke seluruh dunia, termasuk ke negara-negara di Asia, Indonesia contohnya, dilakukan oleh pedagang Spanyol dan Portugis.

Kandungan fitokimia cabai

Cabai mengandung capsaicin, dihydrocapsaicin, vitamin A, vitamin C, capsanthin, karoten, capsorubin, zeaxanthin, dan pewarna cryptoxanthin.

Mineral mikro, antara lain zat besi, kalium, kalsium, fosfor, dan niasin, juga terkandung dalam cabai.

Capsaicin merupakan zat bioaktif pada cabai yang menimbulkan rasa pedas dan panas.
Zat ini sering digunakan untuk mengurangi nyeri karena khasiatnya sebagai antinyeri.

About Khoirunnis Salamah