Salah satu indera yang berfungsi untuk mengecap rasa adalah lidah, dalam kesatuan dengan semua organ di mulut. Rasa pahit, manis, asam, asin, panas, dingin, semuanya dikecap dengan lidah. Fungsi lidah terganggu kalau lagi luka atau sedang flu, sehingga tidak normal berperan. Selain sebagai indera pengecap rasa, lidah dan kelengkapan organ di mulut dan tenggorokan berguna untuk menghasilkan suara: bicara, bernyanyi, bersiul, dan lain-lain. Lidah tidak bertulang, tapi tak terbatas kata-kata.
Suara, kata-kata, bahasa yang dihasilkan lidah, dan kelengkapan organ di mulut ini membawa dampak; berkat, atau kutuk bagi sang pemilik lidah maupun sesama. Maka, ada ungkapan “mulutmu harimaumu, lidahmu pedang dan silet”, jika lidah menghasilkan kata-kata yang berakibat buruk. Kata-kata hujatan, iri dengki, dendam, permusuhan, kutuk, caci maki, dan semua yang merusak diri dan sesama.
“Memang lidah tak bertulang” sering diungkapkan kepada orang yang menipu dan tidak bisa dipercayai kata-kata ucapannya.
“Lidah yang tajam berwibawa”, etika kata-kata ucapan pemiliknya penuh hikmat, kebenaran, dan kebijaksanaan.
Lidah mustajab dan penuh berkat, dari seorang pendoa dan orang bijak karena ucapannya menyelamatkan dirinya dan sesama.
“Lidah emas – suara emas” dijulukkan kepada yang menghasilkan suara indah sebagai penyanyi dan orator, juga sang komunikator ulung, sehingga menggembirakan dan memberi manfaat istimewa bagi diri dan sesama.
Ada yang digelari “lidah sakti” karena ucapan dan kata-katanya penuh kuasa, ada keistimewaan alamiah serta wibawa untuk berkata dan terjadi, dalam hal-hal tertentu. Misalnya, mengobati yang sakit dan mengusir roh jahat.
Lidah dan mulut dalam menghasilkan suara ternyata dipengaruhi oleh tubuh dan perasaan, tetapi diatur oleh kualitas kesadaran pikiran serta hati nurani setiap pribadi. Pengetahuan, pengalaman, tatanan nilai, dan kebijaksanaan seseorang yang menjadi sumber komando bagi lidah untuk berfungsi bagi kehidupan ini.
Setiap orang menyatakan siapa dirinya antara lain melalui ucapan lidahnya, selain perbuatan dan pilihan cara hidupnya setiap hari. Maka, sering dikatakan bahwa “omongannya bisa dipegang atau tidak”.
Setiap orang membuat pilihan dan keputusan bagi lidahnya untuk menjadi berkat atau kutuk bagi diri dan sesamanya.
Terpujilah Sang Maha Suara atas anugerah lidah serta organ tubuh di mulut dan tenggorokan untuk bisa bicara.
Ajarilah aku untuk mampu menggunakan lidahku, demi menghasilkan berkat bagi diri dan sesama.
Jadikanlah mulutku untuk mewartakan kasih sayang dan keagungan cinta-Mu, dengan selalu bersyukur dan berterima kasih, yang dituntun oleh kesadaran nalar dan jiwa nurani yang bersahaja bijaksana.




