Penulis Jlitheng
Kalimat I Will Never Forget you, My People ini adalah baris pertama syair lagu yang berjudul I will never forget you, my People. Sangat jelas penulisnya terinspirasi oleh Yesaya 49,15 yang bunyinya sbb: “Dapatkah seorang perempuan lupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan
melupakan engkau.”
Ketika pertama kali saya mendengar lagu itu, dalam sebuah retret, sekitar tahun 75 an, saya sangat terkesan. Lagu itu meneguhkan iman katolikku bahwa selain bukan pendendam, Allah adalah sosok yang dekat, perhatian dan hadir-Nya selalu memberi rasa tenteram. Yesaya 49, 15 : Kalaupun ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak yang dikandungnya, tetapi Aku tidak akan melupakan engkau
Pengalamanku bahwa: menjadi katolik adalah keberuntungan. Saya beruntung karena Allahku adalah pemaaf, dekat dan selalu memberi rasa aman. Dia hadir dan memberi rasa aman sepanjang perjuangan keluarga kami.
Sekalipun rentang hidup berkeluarga kami belum genap 30 tahun, tidak sedikit kami merasa, keempat kaki ini terseok kurang berdaya, padahal kami harus berlari lebih kencang, mengejar semua jenis ketertinggalan sebab kami memang telat berangkat. Itu fakta.
Walaupun demikian, kami tidak pernah sekalipun meragukan kedekatan Allah sepanjang 29 tahun perjalanan keluarga kami.
Allah kami yang tidak suka balas dendam dan dekat itu selalu hadir memberi rasa aman.
Pengalaman dilindungi itu sangat nyata. Kami terima lewat torehan tinta emas dari tangan – tangan penuh berkat romo Hanasa Purba, romo Lamma Sihombing dan ibu Luciana P. Mereka melakukan pekerjaan Tuhan melalui tindakan yang hanya sekali itu namun berdampak kekal bagi hidup kami. Mauliate godang romo dan agunging atur panuwun ibu. Lagu yg cocok untuk panjenengan bertiga adalah “I will never forget you, my friends.”
Sebenarnya, torehan tinta emas yang lain telah kami terima 15 tahun sebelumnya. Perlindungan Allah itu nyata lewat tangan-tangan yang rela berkorban dari almarhum romo Fx Pranoto, saudaraku almarhum bapak Mateus Suparto dan bu Yayu Markapi. Peristiwa itu terjadi di sekitar masa Paska. Untuk mereka bertiga kami juga akan bernyanyi “I will never forget you, my friends”
Tepat pada 1 November 29 tahun yang lalu, kedekatan Allah membuka jalan berkat namun terjal yang harus kami lalui. Kedekatan-Nya lewat jabat erat tangan-tangan penuh kasih dari Romo Tarsis Leitsubun alm, Om Matias, Tante Jianne, Pak Bing alm, mbah Tum, Mas Jan, Dik Agus, Pak Pudjo. Mengharukan cara Allah menyapa. “I will never forget You, my Lord and my friends”.
Seperti Tangan Tuhan yang tak terlihat namun hadir, ada banyak tangan yang tak tampak namun selalu ada, dan merangkulkan tangan mereka di pundak, maka kami tidak goyah. Mereka adalah alm kedua orang tua, alm Om Pudjo, alm tante Paula, alm Om Bing, alm Koh De, adikku Petra, mas Bagyo, bro JH, Sis Sisil, Swan, Tress, Lilian, Erlan, Yulian, Ibrahim Masyhur dan banyak lagi. Dari hati ini kunyanyikan juga : I will never forget you, my friends.
Sehebat-hebatnya manusia, adalah mereka yang selalu ingat bahwa Allah kita tak pernah jauh dan selalu ingat bahwa ada orang – orang tertentu yang diutus untuk menemani.
Salam sehat dan tetap semangat bersaksi tentang Sang Kesetiaan Allah.






