Cerpen: Mencari Makam Untuk Pak Tisna

Dahulu Pak Tisna seorang sutradara film juga teater. Istrinya pun berkecimpung di dunia yang sama. Keduanya tampan dan cantik alami dengan balutan karunia keelokan rupa ragawi tanpa sentuhan atau polesan meja operasi seperti bintang-bintang film dan sosialita masa kini.

Entah mengapa, memasuki masa tua, tatkala bisnis hiburan termasuk perfilman mulai lesu menggeliat, keduanya yang selalu setia mengunjungi Taman Ismail Marzuki dan pementasan lainnya, ikut redup di dalam beragam hal alur kehidupan. Bisnis penerbitan yang dirintis sang istri pun layu dan lemah tak berdaya.

Ketika ada beberapa seniman tahu mereka hidup terpuruk di kontrakkan sempit dengan tiga anak lelaki yang menelusuri kehidupan dengan problema masing-masing, tanya di tiap para pelaku seni berkelindan, “kemana uang2 kala masih menjadi penggiat perfilman yang mengalir deras itu? Mengapa sepetak tanah dan rumah pun tak terbeli?”

Tanya itu tidak memberikan jawab yang memuaskan. Bahkan ada yang menjawab, “seniman bukanlah orang yang ego dengan melakukan tata kelola manajemen yang bagus di dalam keuangan. Jarang ada seniman yang mementingkan diri mereka sendiri, ada honor sedikit adalah milik bersama, nanti jika uang habis tinggal menunggu kebaikan hati Tuhan.”

Begitulah, keterpurukan kian merajalela, uang habis, kontrakan harus dibayar ditambah sang istri yang menderita diabetes sudah tak bisa bangkit dari tempat tidurnya, Pak Tisna hilang harapan. Beragam sumbangan yang ia terima dari belas kasihan sesama seniman, lenyap untuk urusan yang prinsipil, yaitu berobat sang istri (mereka tak punya BPJS), makan dan bayar kontrakan. Absurditas itu bagai jalinan akar derita yang terus saling kait-mengait.

Memohon bantuan pada anak-anak? Mereka pun menyusuri jalan yang tak beda jauh dari kedua orangtua mereka, dapat manemukan makan sehari tiga kali itu sudah cukup. Pak Tisna dan sang istri bagai menunggu Godot, pasrah jika tiba-tiba Tuhan mengambil nafas mereka.

Namun kematian yang diharapkan tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski ringkih dan sakit, usus tak pernah minta berhenti untuk diisi. Ditambah bombardir sang pemilik petakan untuk membayar kotrakkannya, pikiran Pak Tisman kian kusut. Boro-boro untuk menulis skenario film atau menawarkan diri sebagai sutradara, di tengah keringkihan tubuh ia mulai tak sanggup berfikir, keletihan psikis dan fisik telah berkompilasi menjadi satu kesatuan yang utuh menumpulkan semangatnya.

Pada senjanya waktu, toko buku usang yang masih bermukim di sudut Taman Ismail Marzuki, menjadi pilihannya untuk merebahkan raga. Sang istri yang tak berdaya dengan ragam penyakit itu, diserahkan pada anak-anaknya. Ia tak ada dana untuk membayar petakan mereka. Diusir sang pemilik kontrakkan adalah tragedi mainstream yang selalu teriadi bagi kaum marginal tak berpenghasilan. Andai bisa berseru pada Tuhan, mengapa Kau ciptakan manusia kaya dan miskin, barangkali itu sudah dilakukan Pak Tisna.

Pak Tisna duduk di perpustakaan itu hari lepas hari, menunggu seniman yang datang dengan harap terselubung mereka dapat rejeki sehingga bisa sedikit berbagai. Bermukim di kios buku itu menjadi pilihan terhormat ketimbang dia harus menggelar sarung di tepian rumah toko yang sudah tutup.

Dan malam itu, ia tahu bahwa hampir seluruh paru-parunya mulai tidak berfungsi secara normal. Di bangku plastik ia duduk sambil berselonjor kaki, ia seperti tertidur. Namun, dalam suasana sunyi, kala mahluk2 TIM sibuk berkesenian dan para seniman menuntut haknya untuk bebas berekspresi, Pak Tisna sesungguhnya tengah bertarung dengan sakratul maut.

“Waktumu sudah tiba, tak baik nongkrong terus di kios buku orang sambil menunggu belas kasihan. Ayo pulang, aku sudah menyiapkan tempat yang indah untukmu, lebih indah dari istana manapun di dunia ini!” Mungkin demikian sang malaikat elmaut berkata.

Dan keesokkan harinya kios buku geger. Pak Tisna yang terlihat seperti orang tidur, telah dingin tak bernafas. Para seniman terkejut. Permasalahan kemudian muncul, di mana dia akan dimakamkan? Siapa yang akan bertanggungjawab akan jasad dan pemakamannya? Situasi perekonomian yang tak membahagiakan hati telah tercatat selama waktu-waktu yang telah berlalu. Duh, Pak Tisna, saat telah tiada pun derita itu tidak juga lenyap.

Amboi, betapa sulitnya bagi seorang seniman untuk mencari makamnya sendiri. Kesedihan yang menyayat tak dapat mengalahkan nalar bahwa mayat Pak Tisna harus bersatu dengan tanah, sebab ada tertulis yang dibuat dari tanah harus kembali kepada tanah, dari debu kembali ke debu.

Ketika makam diperoleh, mungkin jiwa dan roh Pak Tisna dapat berbisik dengan lega, “akhirnya aku bisa membaringkan tubuhku pada tempat abadi yang tak terbebani lagi oleh segala persyaratan ragawi kemanusiaan. Aku merdeka kini! “

Ya Pak Tisna, sekarang kau telah bebas merdeka. Tinggal para seniman lain yang masih selalu menunggu, kapan Godot atau sinar terang itu benar-benar datang. Kapan….

Kisah ini hanya fiksi .

*May You Rest in Peace Pak Sutarno SK

(Fanny Jonathan Poyk)

Pualam Itu Telah Retak

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis