Sudah jadi tugas gue di rumah mengambil alih semua pekerjaan berat yang gak mungkin dilakukan istri gue. Kalau pun dia bilang sanggup melakukannya, sudah pasti gue larang. Misalnya, memperbaiki instalasi listrik atau manjat ke atas genteng.
Dan yang paling fenomenal tentu saja betapa takutnya para istri saat masang selang gas. Karena takut meledak dan bisa menyebabkan cacat atau kematian, maka disuruhnyalah para suami. Istri cukup sembunyi atau jauh-jauh menghindar pergi.
Jadi kalau misalnya gas itu gak sengaja meledak, yang pasti para istri aman. Perkara suami berakibat cacat luka bakar atau mengalami kematian, ya apa boleh buat. Begitulah resiko menjadi suami. Harus siap mati demi istri.
Tapi ternyata hal itu gak berlaku bagi ibu negara Iriana. Ketika suaminya nekad pergi menantang bahaya membawa misi perdamaian di kancah perang Ukraina Rusia, dia gak mau leyeh-leyeh di rumah nyari aman. Gak mau kayak ibu-ibu pada umumnya yang merelakan suaminya tewas dalam rangka masang tabung gas.
Ibu Iriana kali ini gak mau membiarkan suaminya pergi sendirian masuk ke kancah medan perang. Dengan resiko bisa mati setiap detik. Entah kereta api yang ditumpanginya diserang rudal. Atau presiden jadi incaran para sniper yang bisa ada di mana saja.
Gak mau suaminya mati sendirian, makanya Ibu Iriana memilih ikut. Kalau harus mati ya marilah kita mati berdua, sebagaimana janji hidup bersama sampai maut memisahkan kita. Janji setia bakal sehidup semati. Bukan biarkan gue hidup, gak masalah suami mati.
Beda dengan masang selang gas di rumah, kali ini Ibu Iriana nekad mendampingi suaminya pergi ke zona perang. Dia gak mau di sana nanti cuma jadi pemanis atau pelengkap bahagia istri kepala negara, tapi juga minta dikasih kerjaan. Seperti memberikan bantuan obat-obatan dan menghibur ibu-ibu Ukraina yang sedang kesusahan lahir batin.
Puncaknya adalah perjalanan paling menegangkan naik kereta api berdua selama 12 jam menuju Ukraina. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan sangat berisiko.
Meski Ibu Iriana yakin suaminya pastilah sudah call a friend Putin agar kereta api yang ditumpangi mereka gak diserang pasukan Putin, tapi bukan jaminan gak ada rudal nyasar. Kalau hal itu sampai terjadi, minimal Ibu Iriana sudah membuktikan bahwa cintanya pada Jokowi bukan cinta kaleng-kaleng, tapi sungguhan cinta sejati sehidup semati.
Jadi gimana wahai para istri sekalian. Sudah siap mendampingi para suami masang selang gas?
Buat istri gue, apa juga sudah siap bantuin gue yang lagi bikin gazebo sendirian. Gak usah manjat-manjatlah, mau bantuin nyodorin reng baja ringan saat suami lagi di atap, cukuplah.
Semoga Perang Ukraina Rusia yang dampaknya meluas ke seluruh dunia, cepat berakhir.
Ramadhan Syukur






