Cintaku Mentok di Kebun Jagung (5)

Djadjo dan Resti di rumah duka saat wafatnya Rudi Badil (seorang dari pendiri Mapala UI) tahun 2019.

DONDY Rahardjo yang akrab disapa Djadjo (banyak sahabat di ring Satu bergurau menyebut nama kecil ini sebagai singkatan dari Djawa Djorok, hihihi!) adalah sahabat Resti, sekaligus orang yang seperti dengan sengaja dikirim Allah SWT untuk menjodohkan saya dengan Resti, hanya selang beberapa jam dari saya menemukannya menangis sendirian di dekat tenda yang sedang saya bangun.

Masih ingat peristiwa di lingkar api unggun Jamboree Remaja Yudha di Biringkanaya, Ujung Pandang? Djadjo, dari Pencinta Alam Garata Jakarta inilah yang membimbing Resti ke pusat arena, untuk bisa mendampingi saya yang siap baca puisi Sajak Cinta Tutup Tahun yang malam itu diplesetkan hadirin (entah oleh siapa) menjadi bertajuk Cintaku Mentok di Kebun Jagung, hihihi!

Djadjo yang tahun 2019 diangkat menjadi anggota kehormatan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) dengan nomor anggota MK-1000-UI, ini pula yang membuka saya jalan untuk bisa menjadi lebih dekat dengan Resti. Itu terjadi di geladak Ilolutta, beberapa saat menjelang badai mengamuk di perairan Masalembo yang populer sebagai Segitiga Bermuda Indonesia.

Ilolutta adalah, kapal yang membawa kami berlayar pulang dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Ujung Pandang ke Tanjung Priok, Jakarta. Memuat sekitar 800 orang penumpang plus sejumlah ABK, ukurannya sedikit lebih kecil dari Nuburi yang memberangkatkan kami dari Jakarta ke Ujung Pandang. Sepuluh tahun kemudian, kedua kapal perintis milik PELNI terdengar di-scrapping dan diual sebagai besi tua.

Seperti umumnya kapal penumpang, ada penumpang kelas satu (sekamar 2 orang), kelas dua (sekamar 4 orang), kelas tiga (sekamar 8 orang), kelas empat (sekamar 16 orang), dan selebihnya penumpang kelas deck yang sila menempati bangsal kosong di bagian dalam perahu, dekat kamar mandi umum dan jendela dapur dimana kami biasa ambil jatah ransum dengan misting pribadi, 3 kali sehari.

Penumpang deck, istirahat di bangsal terbuka, yang bagian tertentu dilapisi karpet tidur. Pada lembar tiket sudah tertulis, di lapak blok bangsal mana si penumpang deck bisa beristirahat. Namun bagi kebanyakan dari kami, jatah tempat itu hanya sekadar jadi lokasi menumpuk barang bawaan, Selebihnya kami lebih banyak berkelana di geladak dan ruang-ruang yang diperbolehkan bagi penumpang deck

Bagian favorit untuk kami ngobrol adalah geladak utama depan di bawah anjungan dan ruang kemudi, atau jalur di kedua sisi samping kapal yang dibatasi dinding pagar besi. Tapi untuk tidur, kami suka ber-sleeping bag di geladak atap buritan kapal, antara tanki air dan cerobong asap. Kami gunakan cincin kait (carabiner) dan tali kernmantle pengikat tubuh agar tak terlempar ke laut saat tidur hihihi!

Resti di Geladak Ilolutta diapit para sohibnya: almarhum Boyong, Djadjo dan Lina.

Di Geladak Ilolutta saat berlayar menuju Tanjung Priok itu saya merasa lebih dekat dengan Resti. Paling tidak, dimana ada Resti, disitu saya coba mendekat. Apakah ini yang disebut cinlok atau cinta lokasi? Saya tak tahu. Yang pasti saya suka saat ada teman menemukan kami berdua dan lantas meneriakkan kalimat Cintaku Mentok di Kebun Jagung, hihihi!

Tapi hidup tak melulu terisi oleh rasa bahagia. Ada masa dimana kegembiraan itu mendadak harus bisa dipendam sejenak, berganti rasa hati yang mendadak jadi mencekam dan menakutkan. Itu terjadi di kitaran 8 jam berlayar dari Ujung Pandang. Mendadak laut bergolak. Ombak besar membentur-bentur dinding perahu, Seorang ABK menyebut, Ilolutta sudah melintas masuk perairan Masalembu.

Pada situasi seperti itu, mendadak mesin kapal mati. Crew coba menghidupkan mesin. Tapi sudah lebih dari 2 jam mesin tak juga hidup. Kapal terombang ambing, terseret arus entah kemana. Di geladak belakang, beberapa dari kami sematkan shalat malam dan mohon lindunganNya. Terlebih di atas tiang palka, kami lihat sebuah bolalabuh warba hitam dikerek naik.

Bolalabuh adalah tanda darurat bagi sebuah kapal yang mendadak harus berhenti di tengah laut. Ada beberapa warna bolalabu yang biasa dikerek naik. Wana putih berarti kapal dalam keadaan normal. Warna kuning berarti sedang terjadi wabah penyakit atau kematian. Merah berarti ada gangguan kebakaran atau pemberontakan. Warna hitam berarti ada suatu keadian diluar logika. Wah!

Saat itu saya menulis sebentuk puisi, di samping Resti, Djadjo dan beberapa teman lain yang bertahan ngumpul di geladak buritan, dengan masing-masing mengenakan life-jacket yang atas seizin Kapten Frans dibagikan ABK kepada kami, rombongan pencinta alam Remaja Yudha yang lebih memilih beraktivitas dan bermalam di lingkar dalam Geladak Ilulutta. Bertajuk sama, puisi itu saya tulis di block-note:

Geladak sepi suara
Ombak yang purus datangnya dari kipas angin barat
Ditembungnya sajak malam pasang gelombang
Dilimburnya gigir laut menahan laju arungku,

Geladak sepi suara
Di tiang palka tersirat asmaMu
Selamat datang kesangsian
Ini kusiapkan seadanya
Kalau saja bolalabuh mesti dinaikkan
Dan jangkar kulego lagi
Di pelukMu.

Masalembo, akhir Desember 1979

Alhamdulillah, selang 8 jam terombang-ambing, mesin kapal bisa dihidupkan, dan kembali berlayar normal ke Tanjung Priok, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Padahal setahun kemudian, tanggal 27 Januari 1981, kapal ro-ro Tampomas II terbakar dan tenggelam dengan sekian banyak korban jiwa, juga di perairan Masalembo. Saya ingat seusai badai, saya memeluk Resti erat-erat, di depan mata Djadjo yang mengacungkan jempol ke arah kami. Subhanallah. ***


24/04/2022 PK 15:30 WIB

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.