Diaspora Jawa Reuni, ‘Ngumpulke Balung Pisah’ di Yogyakarta

Reuni Suriname01

Dari kiri Francis Kromowinangoen, warga Suriname yang kini tinggal di Belanda, Indrata Kusuma Prijadi selaku Ketua Penyelenggara Java Diaspora Event. 200 masyarakat suku Jawa yang tersebar di seluruh penjuru dunia rencana akan berkumpul “reriungan” di Pulau Jawa tempat nenek moyang, dan leluhur mereka dulu berasal Antara lain, mereka akan sowan ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menghadap Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja di sekaligus Gubernur DI Yogyakarta. (foto YP)

Oleh YUDAH PRAKOSO R.

NGUMPULKE Balung Pisah merupakan kalimat bahasa Jawa yang berarti ‘mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah’ – yang bermakna menyatukan kembali keluarga, teman atau pun kelompok tertentu yang sudah terpisahkan baik oleh waktu, jarak maupun kondisi yang berbeda.

Ngumpulke balung pisah memang perlu. Bila tak ada yang berupaya menyatukan kembali tentu saja hubungan relasi di masa lalu bisa saja hilang tak berbekas. Longgar dan kemudian lenyap. Padahal ada banyak
kenangan manis kebersamaan. Sayang bila lalu menguap begitu saja.

Pada 12 – 18 Juni 2023 mendatang masyarakat suku Jawa yang tersebar di seluruh penjuru dunia rencana akan berkumpul “reriungan” di Pulau Jawa tempat nenek moyang, dan leluhur mereka dulu berasal. Sekitar 200
orang akan menggelar Javanese Diaspora Event (JDE) V – Ngumpulke Balung Pisah dengan tajuk Napak Tilas Leluhur Jawa“.

Dalam acara itu menurut Ketua Javanese Diaspora Network – Indrata Kusuma Prijadi, mereka yang kini bermukim di Suriname, New Kaledonia, dan Malaysia ini akan melakukan roadtrip dari Magelang – Yogyakarta – Solo – Ponorogo – Mojokerto – dan berakhir di Surabaya. Di setiap kota ,mereka akan menggelar gtemu budaya dan berdialog denganh para pejabat dan masyarakat setempat selain acara-acara hiburan termasuk lomba masakan khusus masakan khas Jawa.

Dari para diaspora Jawa itu paling banyak pesertanya adalah dari Suriname. Mengapa banyak orang Jawa di Suriname? Peristiwa migrasi orang Jawa ke Suriname bermula pada periode 1890-1939. Menurut Franky Satimoen Kromowinangoen yang Rabu siang 7 Juni 2023 kami temui di Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, saat itu terjadi penghapusan perbudakan di negara Amerika Selatan .

Kemudian Belanda membawa orang-orang Jawa ke Suriname sebagai buruh kontrak. Kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan daerah-daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Semarang. pada tahun 1985 Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie (VHIJ) yang merupakan organisasi budaya Jawa terbesar di Suriname berdiri, dan semua anggotanya keturunan imigran dari Jawa.

Lebih lanjut menurut Franky, hanya 20 sampai 25 persen migran Jawa yang kembali ke kampung halamannya sebelum Perang Dunia II. Sebagian besar imigran menetap secara permanen di Suriname. “Kami adalah keturunan para imigran ini,” lanjutnya.

Franky juga mengungkapkan, orang Jawa di Suriname yang memiliki kerabat atau keluarga di Indonesia tetap menjalin hubungan dengan telepon ataupun media modern, seperti WhatsApp dan Facebook.

Kedutaan Besar Indonesia di Suriname juga rutin mengadakan perjalanan keluarga (family trip) dari Suriname ke Indonesia agar bisa bertatap muka langsung. “Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial untuk (rutin) bepergian ke Indonesia bertemu dengan keluarganya secara langsung, jadi kontaknya sebagian besar dengan telepon, e-mail, atau media sosial,” kata Indrata Puji Kusumo.

Bahasa Jawa di Suriname juga sangat terjaga kelestariannya karena warga setempat biasa berbahasa Jawa atau Jawa-Suriname. Francais Kromowinangoen anak Franky yang kini tinggal di Belanda memaparkan, perbedaannya adalah di kosakata dan tata bahasa.

Bahasa Jawa Suriname terbentuk dari Sranantongo (bahasa pergaulan) yang bercampur dengan bahasa Belanda dan Spanyol pada zaman kolonialisme, sehingga berbeda dengan bahasa Jawa di Indonesia.

Di Suriname kira-kira ada 80.000 orang keturunan Jawa. Orang Jawa di Suriname masih menerapkan budaya Jawa, tradisi, dan mengucapkan bahasanya.

Salah satu agenda Napak Tilas Leluhur Jawa di Yogyakarta, pada hari Rabu 14 Juni 2023 mereka akan bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DI Yogyakarta. Mereka akan menghelat acara makan malam dengan pertunjukan budaya Jogja sekaligus berdialog dengan menggujnakan Bahasa Jawa, Inggris, dan Belanda. */dms

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.