Dinamika Zaman dan Pergulatan Jatidiri -Menulis Kehidupan 301

Foto : ejaugsburg/Pixabay

Prinsip hidup, nilai dan hakekat makna, aturan hukum, kepentingan dan kebutuhan, selera dan gengsi adalah bagian yang ada dalam diri pribadi manusia. Manusia sebagai pribadi dengan kesatuan jasmani rohani, sesuai dengan konteks kehidupan dan zamannya. Manusia yang makluk istimewa, tetapi juga mempunyai kelemahan dan keterbatasan.

Maka, ada suka duka, ada juga kontradiksi, masalah, paradoks dan anomali dalam pengalaman kehidupan dari waktu ke waktu, dalam sejarah manusia hingga kini. Maka saya tuliskan refleksi tentang hal itu dalam sajak:

Sebutir Anomali Kehidupan

Hal yang luar biasa
Hal yang sangat istimewa
karena biasa dialami kita
maka menjadi biasa saja
bahkan…
Tidak ada apa-apanya
Nafas….
Detak jantung…
Kehidupan…
Debu tanah…
Udara….
Matahari….
Dan
Sang Pemilik segalanya
Biasa-biasa saja
Tak ada apa-apanya
Seperti dianggap tak bermakna

Ada beritanya di medsos
Lalu
petugas keamanan menanganinya
Seorang bayi ditemukan
terkubur dengan ari-arinya
Tak tahu ibu bapaknya
entah apa pun alasannya
“kehidupan seperti sampah
seorang anak manusia dibuang…
tak berdaya… mati”
Banyak yang prihatin
Ada yang beri komentar
“mengapa tidak ke panti asuhan
kenapa tidak dibiarkan hidup
Biar kami bisa asuh
kami yang dambakan anak….”
Dan
masih banyak komentar lain
Lalu, sunyi sepi hilang

Dentuman musik pesta bergema
Gemerlap lampu disko mempesona
jauh lebih menyentuh rasa
Kegiatan olahraga dan musik
jauh lebih memikat selera
Perjuangan memenuhi kebutuhan
lebih menguras energi nalar
Berita politik dan iklan
lebih memacu andrenalin massa
Aneka tawaran di medsos
sungguh menggugat gengsi
Hingar bingar pesona digital
sungguh merebut jiwa nurani

Baru kupahami faktanya
bayi yang terbuang itu
bocah yang malang itu
Bukan apa-apa
untuk kebutuhan jiwa ragaku
Bukan siapa-siapa
untuk gengsi dan keperluanku
Bukan sanak saudara
yang berguna bagi diriku
Bukan urusan yang penting
untuk gengsi dan materi
Bukan hal yang istimewa
bagi ketenaran nama pribadi
Bukan artis dan pejabat
bagi para penggemarnya
Bukan sebuah prestasi
bagi pribadi dan komunitas
Bukan sebuah nilai luhur
untuk mendapat pujian kehidupan
Padahal…
ini fakta tragedi kemanusiaan
ini udara bagi nafas
ini darah bagi tubuh
ini tanah bagi insani
ini matahari bagi manusia
Sesama saudara….

Bayi mungil yang malang
Orangtuanya yang membuang
Mereka adalah sesama saudara
Bagian dari ibu bapanya
Bagian dari para keluarganya
Bagian dari para tetangganya
Bagian dari para sahabatnya
Bagian dari masyarakat adatnya
Bagian dari umat agamanya
Bagian dari warga masyarakatnya
Relasi hakiki kodrat kehidupan
Udara dan darah manusia
Satu udara satu darah
Sesama saudara
aku, engkau kita semua

Sepertinya…
Ini hanya sebutir debu
di hamparan satu benua
Ini hanya secuil sampah
di luasnya laut samudera
ini biasa-biasa saja
Tetapi…
titik debu butir tanah
ketika masuk di mata
ketika jadi virus di raga
ketika menyumbat nafas
Maka
bisa mengganggu diri pribadi
Dan
mungkin ada apa-apanya
bahkan jadi luar biasa
Karena
keselamatan diri terancam
kehidupan bisa bermasalah
jiwa raga bisa sirna
Kesadaran…
Penyesalan….
selalu datang kemudian
Bahkan terlambat

Belajar Membaca Tulisan Alam Semesta – Menulis Kehidupan 298