Duh… Anak Juga Bisa Kena Stroke

Seide.id – Siapa bilang stroke hanya menyerang orang dewasa, terutama kalangan lansia?

Anak pun ternyata bisa kena stroke.

Waspadalah bila anak sering mengeluh pusing. Terutama, jika keluhan tersebut berupa sakit kepala di bagian tertentu dan dibarengi mata serasa berkunang-kunang.

Apalagi, bila dua jam kemudian keluhan pusing tersebut makin menjadi-jadi.  Bahkan, disertai muntah-muntah serta kejang-kejang dan menurunnya kesadaran anak.

Kejadian yang berlangsung relatif singkat itu bisa berujung fatal.

,Anak usia sekoah yag semula ceriwis lantas jadi pelo dan terbata-bata. Begitu pula gerak tubuhnya yang semula lincah kini mendadak kaku atau bahkan lumpuh.

Nah, agar tak kecolongan, jika si kecil memperlihatkan gejala-gejala klinis tadi, jangan buang waktu. Sesegera mungkin bawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Pasalnya, angka kejadian stroke pada usia anak (childhood stroke) 2-5 per 100.000 anak per tahun.

Sedangkan pada bayi, angka kejadiannya lebih tinggi lagi, yakni mencapai 25 per 100.000 bayi per tahun.

Apa sih stroke?
Stroke adalah gejala klinis yang kejadiannya begitu tiba-tiba dan berlangsung sangat cepat akibat adanya gangguan di otak berupa perdarahan ataupun sumbatan.

Berdasarkan lokasi terjadinya, gangguan ini bisa bersifat lokal, dalam arti hanya sebagian otak saja yang terkena, atau mengenai seluruh bagian otak.

Soal waktunya, ada yang berlangsung sementara, ada yang lebih lama, bahkan permanen.

Pada stroke sementara, kondisi anak akan membaik dengan sendirinya. Namun,  stroke yang terjadi lebih lama, atau bahkan menetap, meninggalkan gejala sisa.

Yang menyedihkan, stroke juga bisa berakhir dengan kematian.

Berdasarkan penyebabnya, stroke dibedakan menjadi dua.

Pertama, stroke akibat perdarahan, yang disebut stroke hemoragik.

Kedua, stroke tanpa atau bukan karena perdarahan, yang disebut stroke iskemik.

Stroke iskemik berkaitan dengan sumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah di otak.

Ragam penyebab
Pada usia anak, ada beberapa penyebab stroke.

Penyebab pertama: hipoksia atau kekurangan oksigen pada bayi baru lahir; kekurangan vitamin K yang menyebabkan pembuluh darah mudah pecah; kelainan jantung yang menyebabkan suplai darah dan oksigen ke otak terganggu; benturan atau trauma pada kepala,  yang bisa mengakibatkan perdarahan di otak.

Ada juga stroke idiopatik. Penyebabnya tak diketahui dengan pasti. Infeksi virus yang ganas; atau, penyakit karena bakteri yang bisa menyebar sampai ke otak, seperti ensefalitis atau radang selaput otak.

Penyebab lainnya adalah penyakit demam berdarah. Kadar trombosit yang rendah memudahkan terjadi perdarahan.

Kalau perdarahannya terjadi di otak, bukan mustahil anak mengalami stroke.

Perdarahan di bisa pula terjadi karena kelainan pembuluh darah kongenital (bawaan) atau yang dikenal dengan istilah malformasi.

Contohnya, pembuluh darah si kecil berbentuk gulungan-gulungan benang. Kalau kelainan tersebut ada di bagian otak, pembuluh darah bisa pecah kapan saja.

Kemungkinan penyebab stroke lainnya adalah kelainan pembekuan darah, seperti trombositopenia.

Dalam kasus ini, kadar trombosit “dari sononya” sudah sangat rendah, sehingga lagi-lagi pembuluh darah jadi gampang pecah.

Stroke pada anak bisa juga diakibatkan oleh penyakit ganas, antara lain leukemia dan tumor.

Penanganan dan pengobatan
Penanganan dan pengobatan stroke tentu saja bergantung pada penyebabnya.

Kalau stroke terjadi karena perdarahan, yang dilakukan adalah tindakan medis untuk mengeluarkan darah tersebut.

Jika karena infeksi suatu penyakit, akan diberikan obat-obatan jenis antibiotika.

Sementara, bila karena masalah pembuluh darah, kondisi pembuluh darahnya yang akan diperbaiki dengan obat-obatan tertentu.

Sayangnya, tindak pencegahan stroke pada anak sulit dilakukan. Apalagi, bila akar permasalahannya adalah kelainan kongenital alias bawaan sejak lahir.

Peluang kesembuhan
Peluang kesembuhan tentu saja terpulang pada seberapa ringan atau berat stroke yang dialami anak.

Selain itu, seberapa dalam dan seberapa luas bagian otak yang terkena.

Khusus pada stroke ringan yang bukan karena perdarahan, biasanya serangan akan berakhir dalam 24 jam pertama.

Setelah itu kondisi anak akan kembali membaik.

Sayangnya, satu dari empat kasus stroke yang menimpa anak, bersifat menetap atau menimbulkan gejala sisa.

Artinya, stroke berdampak pada kemampuan kognisi, bahasa, dan motorik anak.

Akibat stroke, anak yang sudah lancar bicara akan mengalami kemunduran kemampuan bicara. Kemampuan berpikirnya pun akan menurun drastis.

Yang cukup menggembirakan, tidak seperti pada kasus-kasus stroke di usia dewasa, peluang kekambuhan stroke pada anak umumnya kecil sekali.

Bahkan, jika stroke yang dialami tergolong ringan, kondisi anak akan kembali normal 100 persen.

Soalnya, pada usia anak, otak masih mengalami proses plastisitas atau masih berkembang, terutama di usia tiga sampai  lima tahun, yang merupakan golden age.

Selepas usia lima tahun, sampai 18 tahun, otak anak masih tetap berkembang, meski relatif melambat alias tidak sepesat lima tahun pertama.

Dengan kata lain, meski pernah stroke, masih ada harapan bagi anak untuk membaik dibandingkan bila stroke dialami di usia dewasa.

Tentu saja dengan catatan, stroke yang dialaminya tergolong ringan. (Puspayanti)