Seide.id – Menyambut kelahiran bayi, ada orangtua yang terkesan kurang bersyukur. Mereka berusaha keras “memperbaiki” penampilan fisik si kecil.
Padahal, mereka melakukan itu atas dasar mitos. Apa saja dan bagaimana? Berikut, beberapa contohnya.
Bantal cekung agar bentuk kepala bulat
Bantal khusus ini sama sekali tak diperlukan bayi normal.
Toh, saat tidur, bayi yang sehat akan menggerak-gerakkan kepalanya. Terlebih bila usianya sudah lewat tiga bulan, ketika ia mulai bisa tengkurap.
Tentu, posisi tidurnya akan berubah-ubah. Sebentar telentang, sebentar kemudian tengkurap.
Lain halnya bila bayi mengalami hipotoni atau kelemahan otot. Posisi tidurnya selalu telentang.
Itu karena tubuhnya lemas, tak mampu menyangga kepalanya. Akibatnya, kepala bagian belakangnya jadi berbentuk datar.
Nah, dalam kondisi seperti itu, bantal cekung akan bermanfaat.
Bentuk kepala yang juga sering dipermasalahkan adalah panjul.
Padahal, wajar saja kepala bayi agak panjul alias sedikit memanjang. Itu lantaran ukuran kepala yang relatif besar harus melalui jalan lahir yang sempit.
Tulang kepala jadi harus melakukan penyesuaian. Dalam istilah kedokteran, itu disebut moulage.
Menggunting bulumata agar tumbuhnya lentik
Para ibu yang dianugerahi bayi perempuan punya kebiasaan menggunting sedikit bulumata anaknya.
Konon, itu mereka lakukan agar kelak si bayi tumbuh jadi perempuan cantik dengan bulumata lentik.
Padahal, menggunting bulumata justru mengurangi fungsi proteksinya. Bulumata melindungi mata terhadap benda asing yang mengarah ke matanya.
Begitu juga kebiasaan mengolesi alis bayi dengan ludah ibu agar tumbuh lebih lebat. Seperti halnya rambut, alis yang tebal lebih ditentukan oleh faktor bawaan dan nutrisi yang baik. Mengolesinya dengan ludah malah membuat alis jadi tak higienis.
Mencubit pangkal hidung agar mancung
Orangtua dalam masyarakat kita mengidamkan anaknya berhidung mancung. Itu diyakini sebagai nilai lebih penampilan seseorang.
Jadilah nyaris setiap saat pangkal hidung si kecil “dicubit-cubit” sedikit agar tak pesek lagi.
Sebenarnya, bentuk hidung bayi lebih ditentukan oleh bagaimana bentuk tulang hidung yang sudah tergariskan berdasarkan ras.
Hidung kita sebagai orang Asia ras Mongoloid cenderung bulat dan pendek. Sedangkan, saudara-sadaura kita di Eropa (Kaukasoid) berhidung lancip dan tinggi alias mancung.
Jadi, meskipun pangkal hidung si kecil ditarik-tarik nyaris lecet, ya tidak akan mancung kalau memang tidak ada garis keturunan berhidung tinggi.
Menarik-narik daun telinga agar tegak
Sewaktu lahir, ada bayi yang telinganya tampak menempel ke kulit kepala. Jadilah si ibu menarik-narik telinga bayinya agar terlihat tegak.
Padahal, struktur daun telinga terbentuk oleh tulang rawan. Kalau bentuknya sudah seperti itu tak mungkin bisa “diutak-atik”, kecuali dioperasi. Yang terpenting fugsi pendengaran si kecil tidak terganggu.
Mengurut kaki agar tak kontet
Tak bisa dipungkiri, banyak orangtua mengharapkan anak mereka tumbuh jadi sosok tinggi semampai jika perempuan dan tinggi besar jika laki-laki.
Nah, harapan inilah yang mendorong para ibu di pedesaan untuk rajin mengurut dan menarik-narik kaki si anak agar panjang.
Bahkan, ada juga kebiasaan “memukuli” kaki si kecil dengan kacang panjang.
Begitu juga saat anak sudah kuat berdiri dan mulai belajar berjalan. Anak akan dijejakkan ke embun yang menempel di rerumputan.
Konon, semakin sering ritual ini dilakukan, semakin terpenuhi harapan anak mereka bakal tumbuh tinggi.
Tentu saja, ini cuma mitos, karena tinggi seseorang ditentukan oleh faktor genetik, hormonal, dan nutrisi.
Gunakan uang logam agar pusar tak bodong
Pusar bodong dianggap sangat tidak oke. Makanya, banyak orangtua kolot yang berusaha keras mengupayakan pusar anaknya agar tak menonjol.
Salah satunya, dengan meletakkan uang logam yang dibungkus kain kasa di atas pusar bayi lalu membebatnya dengan gurita.
Padahal, pusar bayi baru lahir memang tampak lebih menonjol karena dinding perutnya masih lemah. (Puspayanti, kontributor)






