Eksotika Mentawai (3) –  Tradisi Injak Sagaik di Matotonan 

Menginjak-injak cacahan empelur batang sagu yang sudah disiram air agar diperoleh saripatinya, yakni tepung sagu. Walau budaya beras juga sudah lama masuk Mentawai tapi sagu tetap jadi makanan pokok.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Seide.id 24/08/2022 – Bangsa Indonesia adalah juara dunia dalam hal makan nasi beras/padi. Alhamdulillah, di laporan tahunan Sidang Umum MPR-DPR RI, 16 Agustus 2022, Presiden Joko Widodo menyebut “…tahun ini kita sudah berswasembada neras”. Tak perlu lagi menggelontorkan Dana APBN sekian triliun rupiah untuk beli beras dari negara-negara lain, demi mencukupi kebutuhan nadional.

Orde Baru memang berhasil menjadikan beras sebagai bahan pangan favorit bangsa Indonesia. Di daerah belahan timur misalnya, banyak anak Indonesia tak lagi mau makan nasi jagung, tiwul singkong, ataupun popeda sagu,  karena dianggap sebagai makanan kampungan, karena kata guru Inpres di sekolah, “makan nasi beras amat sangat baik…!”

Masalahnya, produk beras yang dihasilkan sawah dan huma Indonesia tak sebanding dengan jumlah kebutuhan beras Indonesia. Maka jadilah kita negara pemilik sawah terluas dunia sekaligus negara mengimpor beras terbanyak dunia. Sementara tanaman pangan sumber karbohidrat lainnya yang melimpah di sekujur persada nusantara, terabaikan karena beras kadung  diminati. Ironis.

Bukan mengada-ada bahwa Indonesia adalah negara  pemilik tanaman karbohidrat paling variatif di dunia. Kita punya umbi-umbian, talas-talasan, bread-fruit alias sukun, berpuluh jenis pisang, kacang-kacangan yang melimpah di mana-mana. Indonesia juga penghasil umbi singkong utama dunia di atas Thailand, VietNam  Brazil, dan Kenya.

Masyarakat dunia juga tahu bahwa Indonesia juga negara pemilik 70% pohon sagu (Mertoxylon sagoo) dunia, tersebar di banyak kawasan pesisir, tawa dan danau, dan sepanjang tepian sungai di pedalaman Nusantara. Sagu juga memenuhi bantaran sungai Rereiket, sepanjang 42 Km antara Desa Madibag hingga Desa Matotonan, Siberut Selatan – Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Warga Matotonan yang medio Agustus lalu diseminar-nasionalkan untuk jadi “desa adat mandiri dan berkelanjutan”, injak sagak/sagaik (batang sagu) juga ditege (ditebang dengan parang) bagian pangkalnya, dipotong-potong jadi gelondongan ukuran 60-90Cm, dihanyutkan menghilir Sungai Rereiket (bagi warga yang berlampung di bagian hilir), diboyong pulang untuk dijadikan tepung sagu.

“Musagak/musagaik”, begitu masyarakat Mentawai menyebut aktivitas menyagu alias mengolah sagu, yang karena prosesnya diinjak-injak maka juga disebut “injak sagak/sagaik”  alias menginjak-injak cacahan empelur batang sagu yang sudah disiram air agar diperoleh saripatinya, yakni tepung sagu. Walau budaya beras juga sudah lama masuk Mentawai tapi sagu tetap jadi makanan pokok.

“Musagak/musagaik” atau tradisi injak sagak/sagaik biasa dilakukan warga di pinggir kampung tepi hutan, dengan membuat bedeng tinggi di atas parit air yang mengalir ke batang Sungai Tereiket. Empelur batang yang sudah direncah dan ditumbuk, dituang ke kotak papan yang diberi pancuran di ujungnya yang sambung-menyambung ke wadah tampung.

Dengan kukusan dari anyaman daun sagu yang diberi galah, air bersih di genangan parit ditimba dan dituang ke kotak berisi empelur, lalu diinjak-injak hingga hancur lebur. Air mengandung pati mengalir melewati saringan kasar (untuk menangkap ampas) yang berlapis saringan halus dari kain dan mengalir ke bak penampungan.

Hasil kucuran di bak penampungan dibiarkan mengendap. Air yang menggenang di atas, tradusinya  dengan disedot  dan dibuang dengan buluh ataupun batang daun pepaya dengan teknik pipa kapiler. Tapi kini digunakan selang plastik, hingga air terbuang habis dan menyisakan endapan putih kemerahan. Sedimen itu tak lain adalah tepung sagu  yang lantas diserok dan dirempalan dalam wadah berbentuk tabung terbuat dari pelepah batang pisang yang diikat rotan serta daun sagu.

Saripati daun itu siap diangkut ke Kota Padang yang juga menjadikannya komoditi ekspor. Sebagian dimanfaatkan warga sebagai ‘beras’ Mentawai.

Ibu pemilik homestay yang saya tempati  mengolah sagu dengan cara membungkusnya dengan daun sagu  membakarnya hingga kulit pembungkus hangus, dan isinya saya nikmati sebagai Sagu Panggang, teman sarapan pagi bersama BaladoTelor Ceplok. Hmmm…!** (bersambung)

24/08/2022 PK 22:38 WIB.

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.