Flora Indonesia: Kedoya, Cempaga, atau Majegau

Penulis: HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Asep menyan majegau,
cendana nuhur dewane,
mangda Ida gelis rawuh,
mijil sakeng luring langit,
sampun madabdaban sami,
maring giri meru reko.

Syair itu ditulis seorang sahabat untuk saya, syair yang baru saja ditembangkan seorang pedanda pada upacara persembahyangan di sebuah pura di Bali, syair yang mengungkap keberadaan “menyan Majegau”, pewangi dan aroma terapi berbahan campuran serbuk menyan dan kayu Majegau yang dikenal masyarakat Bali, jauh sebelum dupa dengan lidi (sebagaimana hio kaum Tionghoa) dikenal luas.

Syair di atas juga menunjukkan bahwa pohon (kayu) Majegau, atau juga dikenal sebagai Cempaga, memiliki kedudukan tinggi dalam tradisi masyarakat Bali. Bukan cuma digunakan untuk ramuan aroma terapi, melainkan juga kerajinan ukir kayu untuk membangun rumah dan pura. Bahka, nama tumbuhan tersebut menjadi toponimi dua buah kampung di Bali, yakni Kampung Cempaga di Bangli dan Kampung Cempaga di Buleleng.

Buah Kedoya, Cempaga atau Majegau – Foto HSS

Ada beberapa jenis pohon yang di Bali dikenali sebagai Majegau atau Cempaga, dengan nama daerahnya masing-masing. Sama dengan di Bali, orang Jawa umumnya mengenalnya sebagai Cempaga. Orang Sunda menyebutnya pohon Pingku. Orang Madura mengenalnya sebagai Kheuruh. Tumbawa Rendai di Minahasa. Di Jakarta orang Betawi mengenalnya sebagai pohon Kedoya.

Seperti di Bali, di Jakarta juga ada kelurahan bertoponimi Kedoya, yakni Kedoya Selatan dan Kedoya Utara, yang keduanya masuk wilayah Kecamatan Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat.

Tapi, tanyalah orang Bali atau pun orang Betawi, apa kenal pohon Cempaga, Kedoya, atau Majegau? Jangan kaget bila banyak orang cuma geleng-geleng kepala sambil bilang, “Itu pohon langka atau mungkin sudah punah.”

Bunga Kedoya, Cempaga atau Majegau (Foto: HSS)

Benar. Cempaga atau Kedoya atau Majegau kini memang nyaris tak tumbuh lagi di kota atau pun kawasan pemukiman, karena kayunya yang bagus dan keras serta berkhasiat obat, sejak dulu dieksploitasi secara berlebihan sebagai bahan membuat rumah atau perabot, kerajinan tangan, bahkan bahan ramuan obat. Pohon langka yang bisa mencapai tinggi 45 meter itu kini hanya menghuni hutan rimba Indonesia.

Syukurlah kita punya Kebun Raya Bogor, yang eksis sejak 1817. Dipenuhi 15.000 species tumbuhan tropis, museum hidup seluas 87 hektar itu juga mengoleksi beberapa jenis pohon Cempaga atau Kedoya atau Majegau, yang diregistrasi dengan beberapa nama ilmiah, antara lain Dysoxylum densiflorum (Blum.) Miq., Dysoxylum gaudicaudianum, dan Dysoxylum parasiticom (Osbecl) Kosterm.

Bentuk daun Kedoya (Foto: HSS)

Penasaran? Sila datang ke tepi barat Danau Gunting, yang posisinya tepat berada di selatan Istana Bogor dan rumah dinas Mas Jokowi, Presiden kita. Di situ Anda bisa puas memotret rimbun daunnya, bunganya yang cantik, dan buahnya yang tumbuh di bagian bawah pokok batang. Juga tersedia biji buahnya di seed shop, bila Anda atau gubernur ingin menanamnya di pekarangan rumah atau taman kota.

.

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.