Tumbuh di lereng bukit atau pada hamparan tanah yang agak terbuka hingga lembar-lembar daunnya bisa menyerap sinar matahari sepenuh hati. Belakangan nampak sebagai tanaman hias di rumah-rumah berpekarangan luas.
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
TAK KENAL maka tak sayang’, begitu kata pepatah untuk menyebut bahwa kita cenderung tak sayang sesuatu karena tidak mengenali sesuatu tersebut. Tapi tak demikian rasanya untuk urusan bunga anggrek. Betapapun tak kenal namanya, tak kenal asal usulnya, orang cenderung langsung suka begitu melihat bunga anggrek.
Ada beratus jenis anggrek dan varian jenisnya. Belum lagi budidaya silang yang menghasilkan varian-varian baru. Kita sama tahu, anggrek sejati adalah tanaman epifit numpang hidup pada tubuh tanaman lain, tapi mandiri dalam soal makam dan minum. Berbeda dengan benalu yang numpang hidup di pohon lain, sekaligus mengisap makanan dari pohon inangnya itu.
Namun selain anggrek sebagaimana klasifikasi di atas, ada juga tanaman tanamqn berbunga cantik, warna-warni dengan bentuk-bentuk serupa bunga anggrek. Namun mereka bukan epifit, mekainkan hidup mandiri di atas tanah, yang karenanya jenis tanaman lili ini lantas disebut sebagai anggrek tanah.
Berapa banyak jenis lili berbunga serupa anggrek? Entahlah. Yang pasti walau tak kenal, saya sering melihatnya saat-saat mendaki atau turun gunung atau saat blusukan masik hutan. Mereka tumbuh di lereng bukit atau pada hamparan tanah yang agak terbuka hingga lembar-lembar daunnya bisa menyerap sinar matahari sepenuh hati. Belakangan saya juga menemukannya sebagai tanaman hias di rumah-rumah berpekarangan luas.
Apa saja nama ilmiah jenis-jenis anggrek tanah tersebut? Saya belum studi kasus ke perpustakaan tumbuhan. Saya baru sekadar motret dan memberi catatan kecil ikhwal model yang saya temukan, dan secara sepihak saya memberinya nama sekadar untuk saya ingat.
Ada temuan yang saya arsip dan kasih nama Blue Clasdic Lily, karena ini koleksi foto pertama saya pada 15 Agustus 2007, saat mendaki dan menemukannya di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur. Pada tempo pendakian yang sama, saya juga menemukan Blue Pen Lily di tepi Tanu Kumbolo di pucuk Semeru. Kata ‘pen‘ sengaja saya sertakan, karena ujing-ujung kelopak bunganya berbentuk seperti mata pena.
Ada pula Blue-Grey Lily yang berwarna biru padu abu-abu seperti warna celana blue jean, sekaligus mengingatkan saya pada kisah Pasukan Kavaleri Blue-Grey, tentara berkuda Amerika saat terjadi perang saudara di benua itu di abad ke-17 yang akhirnya melahirkan Amerika Serikat. Blue-Grey Lily saya temukan tahun 2020 di lereng Gunung Salak saat bersama Resti mendaki menuju Kawah Ratu dari arah Gunungbunder, Bogor Jawa Barat .
Dari alam tumbuhnya di hutan dan gunung, lili berbunga cantik itu dibudidayakan dan masuk toko tanaman hias serta popular sebagai anggrek tanah. Khususnya yang berbunga kuning yang saya potret tahun 2011 di RumahDua Taman Safari Indonesia – Bogor dan saya catat sebagai Yellow Triangle Lily serta Yellow Hornet Lily. *
08/10/2023 PK 19:24 WiB.






