Freeman

Seide.id– Hari ini aktor Morgan Freeman berusia 86 tahun. Masih sehat dan masih berkarya. Orang kampung bilang: “Eighty six years old, and still counting“.

Morgan Freeman, mungkin salah-satu aktor kulit hitam yg ‘terlambat terkenal’. Untung saja dia termasuk orang yang sabar dan percaya bahwa segala sesuatu membutuhkan proses, maka dia terus belajar, tak anti kritik, berfikir positif, sehat, dan usianya panjang. Sehingga semakin tua, …karakternya semakin kuat dan bahkan semakin kharismatik. Mungkin salah-satu aktor kulit hitam yang paling berkharisma sekarang ini. Setara dengan Sydney Portier, aktor kulit hitam di zaman lainnya. Di zaman sebelumnya.

Terus terang, aku pun boleh dibilang terlambat mengenal Morgan Freeman (tsaaah, mengenal, nonton film-filmnye doang ‘kaleee, …iye, iye nonton doang). Yaitu di film “Driving Miss Daisy”. Sebelumnya mungkin saja aku sudah menonton film-filmnya. Tapi tak ‘nyantel‘. Sejak menonton “Driving Miss Daisy”, aku kecantol dengan aktor ini. Sejak itu, boleh dibilang aku selalu berusaha menonton film-film yang diperankannya.

Ada yang ingat film “Driving Miss Daisy” itu? Film itu, boleh jadi adalah film bagus, peraih Oscar yang tak begitu sukses (paling tidak di sini) secara komesil. Sebab di bioskop, yang menonton cuma kami, aku, 2 orang teman dan beberapa gelintir penonton lain saja.

Film ini tentang seorang sopir berkulit hitam Afrika-Amerika separuh baya (Morgan Freeman) yang sangat setia, lebih dari 20 tahun menjadi sopir seorang wanita manula berkulit putih (Jessica Tandy). Film itu ‘cuma’ berisi dialog-dialog saja. Bagi yang suka dengan atau penggemar film-film eksyen nan dinamis dan jedar-jedor, film ini tentu sangat membosankan. Film ini adalah ‘adu ekting’ antara aktor Morgan Freeman vs aktris Jessica Tandy. Film dengan skenario cerdas, berisi dialog-dialog bernas tentang hidup. Tentang eklpoirasi manusia. Tentang perbedaan warna kulit. Tentang rasialisme. Tentang peristiwa-peritiwa dalam hidup yang pernah terjadi, sedang terjadi dan… yang akan terjadi. Jessica Tandy sebagai manula yang perfect, cerewet dan kerap berkata tajam. Diladeni oleh Morgan Freeman sebagai sopir yang tenang, sabar, melindungi, tapi sesekali harus menahan emosi dan geregetan.

Karakter tokoh yang pernah diperankan Morgan sangat beragam. Aku akan ‘jembrengkan‘ berdasar ingatanku atau yang pernah aku tonton dan ‘nyantel’ saja. Tentu tahunnya tak runut. Sejak tokoh kocak tapi bijak berdarah timur-tengah, penasehat di film Robin Hood (bersama Kevin Kostner). Menjadi detektif (bersama Brad Pit). Menyelidiki pembunuh berantai kejam berdarah dingin di film “Se7en”. Menjadi Mandela di film “Invictus”. Bercerita ketika Mandela mendatangkan pelatih olahraga handal (Mat Damon). Untuk memompa harga diri dan semangat bangsanya. Menjadi ‘narapidana bijak’ dalam film asyik: “The Shawshank Redemption”.

Dan…nah ini…2x berperan menjadi Tuhan!
Memang film-film sekuel di mana Morgan Freeman berperan menjadi Tuhan ini berbau komedi.

Yang pertama berjudul “Bruce Almighty”. Tentang seorang presenter televisi (di perankan oleh Jim Carrey). Sang presenter televisi, sangat berambisi menjadi presenter terbaik dan terkenal. Tapi boro-boro meningkat kariernya, sang presenter malah terpuruk. Karier dan hidupnya berantakan. Hidupnya kacau. Di tengah-tengah nyaris putus asa, dia memohon dengan khusuk: “Seandainya Tuhan mendengar do’aku. Dan bertukar posisi, …seminggu saja”. Eeh, Tuhan mendengar. Naah, Tuhan yang diperankan oleh Morgan Freeman ini, menantang sang presenter untuk bertukar posisi seminggu saja. Biar merasakan bagaimana repotnya menjadi Tuhan.

Sekuelnya di mana Morgan ‘masih’ menjadi Tuhan, berjudul “Evan Almighty”. Sepertinya tentang bahtera Nabi Nuh. Evan, perlahan ‘diberi tanda’ bahwa suatu banjir yg sangat besar besar akan terjadi. Dimulai dari berpasang-pasang burung datang ke-kantornya. Tanah di atas bukit yang ‘tersedia lengkap dengan surat-surat atas namanya’. Jutaan kubik kayu tersedia dan dikirim atas namanya. Bisikan-bisikan berupa perintah dan langkah-langkah bagaimana cara membuat bahtera. Bagaimana berpasang-pasang hewan mendatangi bahteranya. Ternyata banjir itu datang dari bendungan di sebuah sungai yang dibuat oleh ‘pemda'(?), …tapi pembangunan bendungan itu tak sesuai amdal dan banyak dikorupsi, sehingga bendungan itu jebol.

Film Morgan Freeman yang aku ingin tonton tapi belum terlaksana adalah: “Bucket List”. Beradu ekting dengan aktor watak lain, yaitu Jack Nicholson. Ceritanya tentang 2 orang manula yg sudah divonis oleh dokter bahwa umur mereka hanya tinggal beberapa hari saja, karena penyakit kanker. 2 orang manula itu, sepakat untuk melakukan sesuatu yang gila-gilaan sebelum mereka mati. Salah-satu manula bertanya, makanan atau minuman apa yang terakhir kali ingin dikonsumsi sebelum mati. “Kopi luak dari Indonesia. Katanya itu adalah minuman paling enak di dunia”…

Mungkin karena sering memerankan orang-orang penting, presiden bahkan Tuhan, ..Seorang wartawan suatu ketika bertanya:
“Pak Freeman,…menurut anda, apakah Tuhan itu ada?”.
Morgan menjawab diplomatis: “Saya tak tahu. Sungguh tak tahu”.
“Apakah anda percaya kepada Tuhan?!”
“Wah,…ini pertanyaan yang sulit dijawab. Tapi begini, …ee apakah ini untuk kau tulis di mediamu atau pertanyaan pribadi?”
Sang wartawan memajukan wajah ke telinga Morgan, lalu: “Pssst,…dua-duanya, pak”
Morgan tak mau kalah. Dia juga mendekatkan mulutnya ke telinga sang wartawan, lalu:
“Pssst,…biarlah ini, jadi rahasia kita. Biarlah ini tetap jadi pertanyaan..”

Selamat Ulang Tahun, pak Morgan Freeman. Sehat-sehat, tetap berkarya selalu…

(Aries Tanjung)

Pabrik Tabloid