Sesungguhnya kasus-kasus beraroma kuliner, eh klenik bukan baru-baru ini saja terjadi.
Masih ingat kasus penggalian harta karun di Bogor?. Tak jauh dari istana presiden konon tersimpan batangan emas peninggalan sebuah kerajaan, entah bisikan dari mana. Penggalian itu melibatkan negara. Dan tentu saja ‘proyek’ bagi aparat di ‘kementrian terkait’.
Jika ditarik mundur lagi, orang-orang seumuranku tentu masih ingat pada kasus paling menghebohkan dan paling memalukan, karena berlangsung sekian lama dan melibatkan pejabat negara. Yaitu kasus Cut Zahara Fona.
Bagi anak-anak muda seumuran anak-anakku, baiklah aku petikkan sedikit “keajaiban dunia versi Indonesia” entah yang ke berapa ini.
Cut Zahara dan suaminya Tengku siapa, gitu (wah, maaf aku lupa namanya) bersekongkol melakukan penipuan yang sederhana saja sebetulnya (mungkin, mereka melakukannya sambil menahan tawa, saking geli dan saking bodohny orang-orang yg tertipu itu).
Cut dan suaminya mengaku mengandung anak ajaib yang bisa berkomunikasi dengan orang-tuanya ketika si janin berada dalam kandungan ibunya.
Maka repotlah negara menyelenggarakan segala permintaan si calon bayi.
Pasangan ini selama berbulan bulan pergi ke sana-ke mari naik pesawat terbang. Diwawancarai berbagai media. Berkunjung keluar negeri. Dan konon si calon bayi minta naik haji. Waktu itu negara menanggung segala biaya dan menyelenggarakan dengan senang hati.
Yang paling spektakuler adalah ketika seorang pejabat negara mendekatkan telinganya ke perut sang Cut yang nampak buncit, konon sedang mendengarkan si calon bayi berbicara.
Peristiwa itu diabadikan oleh wartawan dan terpampang di media kala itu.
Padahal semua itu hanya tipuan cemen belaka.
Ternyata Cut menyembunyikan taperecorder kecil di balik kainnya dan sesungguhnya dia tak hamil…
Sebuah tipuan cemen yang bisa merepotkan negara!
(Aries Tanjung)






