Para pendiri Kelompok SanaSiniSeni (Almh Violi Kasherman Fatin Hamama, Setyo Widodo, Kurnia Effendi, Jodhi Yudono, Restiawati Niskala) – Foto Heryus Saputro Samhudi
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
Seide.id 04/05/2023 – Sastra Reboan berulang tahun ke-15. Peristiwa ini dirayakan dalam bentuk ‘pesta pora sastra’ di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin – Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu sore tanggal 3 Mei 2023.
Dipandu MC Budayawan Betawi/penyair Yahya Andi Saputra, anggota komunitas dan aktivis sastra Jabodetabek (termasuk sastrawan gaek Rahmat Ali, novelis Saut Poltak Tambunan, Penyair/dramawan Jose Rizal Manua, dan kritikus sastra Maman S Mahayana) hadir memenuhi ruang pertunjukan lantai 4 Gedung Ali Sadikin untuk.menikmati sajian (baca puisi, pertunjukan musik, pantomim, drama pendek, termasuk sajian kopi plus rebus singkong dan jagung) para anggota Sastra Reboan.
Sastra Reboan adalah sebentuk paguyuban (kini orang merasa lebih keren dengan menyebutnya sebagai ‘komunitas’ , hi…hi…hi…!) sastra yang dibentuk oleh beberapa orang aktivis bersastra Jabodetabek, semisal Yo Sugianto (ketua pertama, dan kini tinggal di Yogyakarta), Ilenk Rembulan, Defi Triadi, dan Setyo Bandono. Paguyuban terbentuk di Warteg Alek, sebuah warung makan ‘bawah tanah’ yang nempel di samping Gedung PDS HB Jassin sebelum Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) TIM dirombak total dan kini hadir dengan wajah baru.
Awalnya, pahuyuban dibentuk untuk menerbitkan sebuah buku antologi puisi bersama. Tapi entah mengapa, rencana itu tak pernah terlaksana.
Sementara itu di Gelanggang Bulungan/Gelangga Remaja Jakarta Selatan, sejak lama hadir WaPres (Warung Apresiasi) Bulungan sebentuk ruang seni yang numpang tinggal di halaman Gelanggang Bulungan, yang kehadirannya antara lain digagas oleh seniman musik jalanan Antho Baret, pemusik/penyair Yoyik Lembayung, novelis/jurnalis Harry Tjahyono, sineas Embie C Noer, alm Teguh Esha, alm sastrawan/dramawan Ags Arya Dipayana, alm aktor Alex Komang, dll
WaPres Bulungan yang dilengkapi panggung pertunjukan dan cafe, digagas sebagai tempat ngumpul alternatif dari tempat serupa resmi dan mainstream. Dikoordnasi oleh pengelola, pengunjung, perorangan ataipun kelompok dipersilakan mempertunjukan karya seni.
Maka tak heran bila nyaris tiap sore hingga menjelang tengah malam (terkecuali malam Jumat), WaPres Bulungan berobah menjadi ruang seni alternatif dengan konsep ‘pasar malam’ seni/seniman, dalam arti siapapun seniman atau grup seni, sila tampil (gratis) di forum ini dengan terlebih dulu mengajukan diri apa bentuk seni yang hendak ditampilkan untuk pengelola carikan waktu yang pas buat menampilkannya kepada publik yang datang, naik yang kebetulan mampir atau yang sengaja datang atas undangan.
Berbagai pertunjukan seni hadir di WaPres Bulungan: musik, pemutaran film , pameran lukisan, performing-art, baca puisi, peluncuran buku dan lainnya. Peluang ini dimanfaatkan banyak pihak untuk untuk kemampuan berkesenian sekaligus mengapresiasikan bentuk kesenian itu kepada masyarakat.
Peluang ini, seingat saya, juga dimanfaatkan Yo Sugianto dkk untuk menampilkan acara sastra ‘campur sari’ sebulan sekali, yang kebetulan mendapat jadwal pada Rabu Malam.
Maka tercetuslah (kalau tak salah keluar dari mulut Seniman Bulungan – Yoyik Lembayung) ide nama Sastra Reboan. Pada poster/latar belakang panggung yang dibuat Sys (perupa dari Sanggar Garajas Bulungan) tertera label Pasar Malam Sastra Reboan .






