SEBAGAI penyair, dramawan, teaterawan dan aktor film, Jose Rizal Manua fokus di bidang itu. Pendiri Teater Tanah Air ini yang kerap keliling dunia – bersama seniman teatar anak anak – itu mencari, menampung, dan menjual buku buku lawas dan buku baru, seputar isu seni dan budaya itu.
Perlahan namun pasti, Jose Rizal mewujudkan impiannya, menyediakan buku bekas, buku langka, buku seni dan budaya, serta mendapat pengunjung setianya. Lokasinya di pojok TIM. Dulu di pojok Graha Bhakti Budhaya, satu barisan dengan sineplek TIM 21, belakangan masih tak jauh dari sana.
Apa yang lebih menyenangkan dari mimpi yang menjadi nyata? Jose Rizal Manua kini mendapatkannya.
Selaku jurnalis peliput seni yang dekat dengannya, saya mengamati dan mengikuti. Kerap mampir juga, setiap kali menyambangi TIM – sekadar melihat lihat dan sesekali membeli. Jose yang baik hati kadang menerima uang pengganti dari saya – tapi juga sering menggratiskan buku yang saya inginkan. Apalagi kalau bukunya tipis tipis. “Bawa aja, Pri, ” katanya.
Saya memang ikut mempromosikannya di media saya beberapa kali. Penting diketahui oleh publik juga, ada toko buku lawas, yang khusus menyediakan karya karya seni dan budaya.
“Mas Jose, saya cari buku ‘Proses Kreatif’, kumpulan para sastrawan. Koleksi saya hilang, ” kata saya ketika mampir bareng Matt Bento di satu siang, pekan lalu.
“Yang sampulnya warna biru itu, ya? Memang buku bagus itu. Kosong, sayangnya. Nanti saya carikan, ” katanya.
“Saya sudah dapat yang satunya, ada cerita tentang Mas Willy juga. Dari penerbit lain. Tapi tidak sebagus yang itu, ” kata saya.
“Memang yang terbaik yang editornya Pamusuk Este itu, ” jawab Mas Jose.
Tak sulit mengkonfirmasi buku buku yang disediakan. Jose Rizal Manua bukan pelapak buku di Pasar Senen atau Blok M, atau Salemba dan Pinangsia, yang menunggui buku dagangannya semata mata untuk jualan. Dia juga pembaca buku yang tekun, dan buku pilihan. Maka dia tahu buku bagus.
“KAMU tahu, Pri, sepulang dari New York, Mas Willy diundang Korea. Tampil dan difasilitasi di sana. Saya ikut juga. Dan Korea kini jadi penentu seni budaya dunia, ” kata Mas Jose Rizal, saat duduk mantap di kursinya dan melihat saya mondar mandir melihat koleksi buku yang barangkali saya belum memiliki.
Mas Willy adalah panggilan kami untuk WS Rendra. Nama aslinya memang Willybrodus Surendra Rendra Brata.
“Bukan hanya Mas Willy yang diundang sama Korea. Semua seniman terbaik dunia diundang di sana, pentas dan berkarya di sana. Pemerintah memang menyiapkan, merancang, dan setelah dua puluh tahun jadilah seperti sekarang. K-Pop, Drakor (drama Korea) sekarang jadi pemainnya. Luar biasa, ” kata Mas Jose.
Pelajaran dari Korea, pemerintah Indonesia harus terlibat, dan menyiapkan matang untuk menjadi pusat budaya dunia. Korea yang selama puluhan tahun jadi negera industri bisa berubah jadi negara seni dan kreatif. Jadi pusat industri hiburan. Indonesia harus mengarah ke sana – kata Mas Jose.
Selanjutnya, oase di tengah kegersangan TIM






