Inilah JR Moehringer, penulis di balik buku Spare, memoar Pangeran Harry. Sebelumnya, dia pernah menjadi ghostwriter— penulis bayangan – di balik perjalanan hidup dan karir petenis Andre Agassi dan Phil Knight, salah satu pendiri Nike.
JR MOEHRINGER bukan penulis kemarin sore. Dia jurnalis kawakan yang pernah memenangkan dua Pulitzer, penghargaan paling bergengsi bagi wartawan di Amerika Serikat.
Jurnalis dan penulis 58 tahun ini telah memenangi dua Pulitzer untuk penulisan features sebelum beralih ke buku atas nama orang lain (ghostwriter).
Karya terbarunya, memoar Spare adalah buku non-fiksi dengan penjualan tercepat dalam sejarah Inggris, menurut penerbit Penguin. Pada 2021, Page Six melaporkan dia memperoleh bayaran mencapai US$1 juta (Rp15,5 miliar) untuk menjadi ghostwriter bagi Pangeran Harry, yang kini heboh itu.
Sebelum beralih menjadi penulis buku, Moehringer merupakan jurnalis New York Times. Tapi dia pindah ke Colorado dan bekerja untuk Los Angeles Times pada 1994.
Selama di LA Times dia menjadi finalis Pulitzer Prize in Feature Writing pada tahun 1998 untuk artikelnya Resurrecting the Champdan menerima penghargaan Pulitzer Feature Writing pada tahun 2000 untuk artikelnya Crossing Over – tentang ketegangan yang muncul saat sebuah kapal feri dioperasikan di komunitas kecil yang terpisah di Alabama.
Menjadi salah satu ghostwriter terbaik sering kali berarti sengaja tidak terdeteksi. Menjelang perilisan buku memoar Agassi pada 2009, dia mengatakan kepada New York Times: “Seorang bidan tidak membawa pulang bayinya.”
Beberapa persepsi Moehringer tentang Andre Agassi dan sekarang Pangeran Harry – keduanya merupakan laki-laki yang rumit dengan hubungan orang tua yang menjengkelkan – mungkin muncul dari hubungannya yang rumit dengan ayahnya.
“Saya yakin semua orang bercita-cita menjadi dia. Dia penulis yang sangat brilian. Sangat sulit untuk menulis buku untuk orang lain dan pada tingkat tertentu tidak terkesan seperti ditulis oleh orang lain,” kata agen buku Madeleine Morel tentangnya.
Ghostwriter terbaik tidak hanya menulis dengan apik, mereka juga mampu mewujudkan subyek mereka tanpa sedikit pun terkesan seperti seseorang yang sedang memberikan impresinya terhadap orang itu. “Dia adalah tingkatan tertingginya,” ujar Morel lagi, kepada Observer.
Menjadi salah satu ghostwriter terbaik sering kali berarti sengaja tidak terdeteksi.
Menjelang perilisan buku memoar Agassi pada 2009, dia mengatakan kepada New York Times: “Seorang bidan tidak membawa pulang bayinya.”
Tentang referesnsinya sebagai Ghoswriter, untuk masuk ke dalam jiwa Andre Agassi, dia membaca karya psikoanalis Sigmund Freud dan Carl Jung, katanya kepada New York Times. “Freud sangat membantu,” kenangnya.
“Terutama Civilization and Its Discontents dan gagasan soal naluri kematian. Salah satu pilar kepribadian Andre adalah perilaku merusak diri sendiri, dan saya sadar saya telah menyingkirkan gagasan bahwa ini bisa menjadi bagian yang alami dari sifatnya.”
JR Moehringer dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Ayahnya seorang DJ rock’n’roll di masa-masa awal radio FM – telah meninggalkan keluarganya. “Radio memberikan secuil akses kepadanya. Jadi dulu saya selalu mencoba menghubunginya,” katanya kepada Terry Gross dari NPR.
“Saya tidak tahu kalau dia memiliki shift tertentu setiap hari. Jadi saya duduk di beranda membawa radio transistor ini. Dan saya memutar tombol dengan sangat lambat, mencoba menemukan suaranya.”
Autobiografi Moehringer sendiri pada 2005, The Tender Bar, membahas masa kecilnya di Long Island. Kisah hidupnya itu diangkat dalam film yang dibintangi oleh Ben Affleck
Selain Tender Bar dan karya-karya ghostwriter-nya, dia juga menulis novel berjudul Sutton tentang perampok bank bernama Willie Sutton.
John Joseph Moehringer lahir di New York City, 7 Desember 1964 . Kini, ayah dua anak, tinggal di San Francisco bersama istrinya, Shannon Welch, yang juga dikenal sebagai editor buku . – dms






