Jurus- Jurus Cepat Menulis Cerpen

Ini adalah pembelajaran singkat yang mungkin saja masih kurang mendalam dalam penulisan sebuah cerpen, namun paling tidak ada panduan yang dapat memberi masukan dalam proses kreatif penulisan sebuah cerpen. Saat ini, profesi penulis bukan lagi sebuah profesi yang sulit dan tidak membuahkan hasil. Tengok saja toko-toko buku besar maupun kecil yang tersebar di seluruh Indonesia, hampir sebagian isinya dipenuhi oleh hasil karya penulis muda maupun tua yang nama mereka dikenal di dunia literasi atau fiksi Indonesia. Contohnya seperti Contohnya Gerson Poyk, Seno Gumira Aji Darma, Hamzad Rangkuti, Putu Widjaya, Leon Agusta, Beny Arnas, Sihar Ramses Simatupang, dll.

Jika kita tekun, hasil yang diperoleh dari menulis bisa memberikan lapangan kerja yang menjanjikan. Contohnya J.K Rowling, saat ini ia menjadi penulis terkaya di dunia. Hasil novel serial Harry Potternya telah memasukkan jutaan dollar ke koceknya. Dan menulis akan menjadi profesi yang menjanjikan, yang penting kita kreatif, rajin dan tak kenal lelah untuk belajar serta tidak patah semangat.

Ada Beberapa Syarat yang Harus Dimiliki oleh Seorang Penulis

1 EYD

Menulis tentunya bukan hanya sekedar menulis namun menulis harus disertai dengan penguasaan Ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Siapa pun yang telah mengenyam pendidikan dasar hingga menengah, mampu menulis. Namun menulis yang dimaksudkan di sini bukan hanya sekedar menulis apa yang kita rasakan, seperti diary, menulis kwitansi pembelian barang atau menulis pelajaran, dan diktat kuliah. Namun menulis yang dimaksud adalah, bagaimana kita menggambarkan apa yang kita lihat, kita alami dan kita rasakan ke dalam sebuah karangan yang berbentuk cerpen atau novel.

2 Rasa Penasaran

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, menulis yang menjadi topik pembicaraan kita adalah menulis cerpen dan novel. Kita akan membahas bagaimana dapat menulis keduanya dengan gaya bahasa yang asyik dan enak dibaca, dengan mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu mutlak, tujuannya agar cerita pendek (cerpen) atau novel yang kita buat mudah dimengerti, mengasyikkan dan mampu membuat pembaca hanyut pada cerita yang kita buat dan ingin terus membacanya. Keberhasilan dalam sebuah cerpen maupun novel adalah saat si pembaca penasaran, dan masih ingin terus mempertanyakan kelanjutan dari kisah yang dibacanya. .

3 Latihan

Selain penguasaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) persyaratan lain adalah latihan. Ya, menulis sebuah cerpen/novel yang bagus, menarik dan digemari pembaca tentunya harus dibarengi pula dengan latihan yang tidak pernah ada bosannya. Bila ditambah dengan talenta, (bakat), menulis akan semakin mudah dan menyenangkan. Ingat, penguasaan bahasa asing, terutama Inggris juga diperlukan. Sebab, banyak buku referensi untuk menulis, ditulis dalam bahasa Inggris. Jika anda hendak mem-browse internet, anda pun harus memahami kata-kata dalam bahasa tersebut.

4 Rajin Membaca

Menuangkan pokok pikiran ke dalam bentuk tulisan yang enak dibaca dan mengasyikkan, memang butuh latihan dan wawasan yang luas. Untuk menjadi seorang penulis profesional,maupun hanya sekedar menyalurkan hobi menulis, menambah wawasan dengan membaca dan menyimak berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita sangat diperlukan. Bahan bacaan yang beragam akan memperkaya khasanah di jagat penulisan. Membaca karya-karya sastra,baik itu novel, maupun cerpen adalah mutlak, sebab dari hasil bacaan tersebut kita menjadi tahu bagaimana pola, bentuk, sistematik yang ditulis pengarang-pengarang besar dan terkenal dalam merangkai kata-kata dan menuangkan ide-ide mereka ke dalam sebuah cerita yang menarik, menegangkan, seru bahkan menyedihkan. Pemilihan kata-kata yang tepat, tentang topik yang akan ditulis, dan kecakapan dalam merangkai kalimat demi kalimat tidak akan berjalan lancar jika kita tidak rajin membaca. Dengan membaca, kita menjadi tahu gaya atau style pengarang dalam mengungkapkan kata-kata yang akan ditulisnya. Melalui bacaan, wawasan kita juga jadi bertambah, hal ini memberi dampak positif pada karangan yang akan tulis. sekaligus akan membuat cerpen/novel itu menjadi lebih berbobot.

5 Imajinasi

Satu hal yang diperlukan jika kita hendak membuat cerpen atau novel adalah imajinasi. Menurut pakar dan sastrawan Gerson Poyk, imajinasi tumbuh dari naluri seks (libido), imajinasi juga bisa berasal dari akal/logika dan imajinasi bisa berasal dari intuisi kreatif yang dituntun oleh hati nurani. Jika seseorang tidak memiliki imajinasi maka penulisan cerpen akan buntu. Imanjinasi akan merangsang seseorang untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

6 Everyday

Gerson Poyk kembali menjelaskan, dalam penulisan sebuah cerpen/novel bisa dilakukan dengan menulis kegiatan rutinitas manusia sehari-hari atau everyday. Contohnya, aktivitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat orang itu bangun pagi, bikin kopi, masak, sarapan pagi, siap-siap ke kantor, naik mobil, tiba di kantor bekerja, malam minggu pergi rekreasi, tahu-tahu saat pulang kantor tabrakan mobil. Dari kegiatan keseharian (everyday), tiba-tiba orang tersebut dihadapkan pada penderitaan, ia ditabrak mobil dan mati. Apabila keseharian itu ditulis dan ditambah dengan imajinasi si penulis maka dengan demikian nilai tulisan lebih bermutu, karena dari everyday kita sampai kepada tabrakan dan kematian, itu adalah hal-hal yang kontradiktif dan mustahil, absurd, karena di dalamnya ada kematian.

Contoh lainnya adalah, penulisan cerpen tentang kelahiran manusia di dunia ini. Saat bayi itu lahir ke dunia, dikisahkan si bayi tidak minta dilahirkan, dia lahir dengan menangis, tangisan itu menandakan bahwa kehidupan di dunia tidak sebahagia yang dibayangkan. Hidup ini penuh tangis dan air mata, itu lambang dari dunia ini, penuh tangis dan penderitaan. Sesudah itu si bayi hidup dari air susu ibu (ASI), tanpa ibu manusia tidak bisa hidup di dunia ini, ASI itu juru selamat berikutnya, sesudah itu setelah dia bisa makan bubur, ibu menyediakan bubur di piring, setelah anak itu remaja, peranan ibu diganti oleh ibu pertiwi, ibu pertiwi itu adalah bumi subur laut kaya, itu adalah simbol dari tanah di mana makanan bersumber dari situ, menulis dengan situasi seperti itu, akan menghasilkan cerpen/novel yang penuh dengan sisi-sisi kemanusiaan.

6 Logika Permukaan

Imajinasi berdasarkan logika/logos juga bisa menghasilkan cerpen yang berbobot. Misalnya, cerpen ilmiah yang mengandung psikologi dan ilmu-ilmu sosial. Dalam hal ini imajinasi seseorang tumbuh dari ilmu pengetahuan, dari logika. Imajinasi yang berasal dari pengetahuan dan logika ini merupakan imajinasi yang bermutu. Namun di sini ada logika permukaan, ada juga logika yang paling dalam yaitu intuisi kreatif.

7 Logika Permukaan atau Intuisi Kreatif

Logika Permukaan atau Intuisi Kreatif lebih banyak memakai gaya bahasa naturalisme, selain itu juga mengandung unsur psikologi dan sosiologi. Misalnya kisah tentang seorang petani yang berjuang menopang hidupnya, tentang pengangguran, tentang orang miskin, tentang pelacuran dll. Melalui pengamatan keadaan di sekitarnya itu, lalu ditambah dengan bacaan yang menambah wawasan atau literature, maka akan tercipta sebuah cerpen yang natural berdasarkan logika atau intuisi kreatif.

8 Logika yang Mudah Dimengerti/Pop

Ada juga cerpen dengan memakai logika yang mudah dimengerti, misalnya cerpen-cerpen/novel tentang kehidupan di masyarakat di Amerika yang serba teratur, mewah dan semuanya serba ada. Apa yang digambarkan dalam cerpen tersebut memakai unsur everyday yang ringan, yang tidak ada gejolak atau tidak ada unsur-unsur humanis, semuanya datar-datar saja. Seperti kisah sebuah rumah tangga yang mewah, hidup nyaman, dan tidak ada gejolak-gejolak yang menggugah sisi kemanusiaan, di dalam cerpen/novel itu tidak ada konflik karena ditulis dengan budaya pop yang burjouis..

9 Konflik Filosofis dan Perang Dunia

Karangan yang berat adalah karangan yang bertutur tentang perang dunia, tentang masalah-masalah besar dalam sejarah, dalam dunia. Di dalam cerpen/novel tersebut dituturkan tentang akibat dari sebuah peperangan di mana banyak orang yang mati. Atau bisa juga menuturkan ada wabah di suatu desa sehingga terjadi endemik yang membuat banyak orang terjangkiti hingga akhirnya meninggal. Contoh lain adalah meletusnya gunung Merapi, di sana terjadi pengungsian besar-besaran, serta meninggalnya Mbah Marijan. Ini juga yang disebut dengan cerpen logika, namun logika yang datang dari hal-hal yang besar. Dari sini kita akan sampai pada filsafat tentang alienasi atau keterasingan manusia. Kita dapat memasukkan unsur politik, seperti komunisme, kapitalisme dsb, tokoh-tokoh dan ide-ide mereka kita masukan, di situ ada konflik-konflik filosofis yang tinggi. Semua itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Untuk mengungkapkannya kita harus memiliki perbendaharaan kata yang luas, intelek, sangat penuh dengan data (literer) dan cerdas, artinya karangan seperti ini sudah lebih tinggi dari logika keseharian Amerika (pop), itu sudah bercampur antara agama dan filsafat dan keterasingan manusia. Pengarang-pengarang yang memperoleh hadiah nobel biasanya mengarang seperti itu, contohnya seperti Tolstoy dalam novelnya War and Peace.

10 Karya Sastra

Sebuah karya sastra merupakan bentuk ungkapan pikiran, hasil imajinasi dan perasaan seorang pengarang dalam usahanya untuk menghayati kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya, baik yang dialaminya maupun yang terjadi pada kelompok masyarakatnya. Hasil imajinasi pengarang tersebut, dituangkan ke dalam bentuk karya sastra untuk kemudian dihidangkan, dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh pembaca.
Ada juga yang mengatakan karya sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai medianya, umumnya sastra berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang nilainya tergantung pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa.
Dan karya sastra disebutkan pula merupakan karya fiksi hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan dan mampu mengungkapkan aspek estetika baik antara aspek kebahasaan maupun aspek makna.
Kesimpulannya, karya sastra merupakan teks-teks yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide semangat, keyakinan dalam satu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Bahasa dalam sastra dapat berwujud lisan maupun tertulis.
Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta, akar kata sas yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Sedangkan tra menunjukkan alat, sarana. Itu sebabnya, sastra dapat berarti : alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran.

11 Sastra Tulis

Menurut A.Teeuw, bahasa tulis memiliki tujuh ciri, yakni : dalam bahasa tulis antara penulis dan pembaca kehilangan sarana komunikasi suprasegmental, kedua dalam bahasa tulis tidak ada hubungan fisik antara penulis dan pembaca, dalam teks-teks tertulis, penulis tidak hadir dalam situasi komunikasi, teks-teks tertulis dapat lepas dari kerangka referensi aslinya, bagi pembaca, tulisan dapat dibaca ulang, teks-teks tertulis dapat diproduksi dalam berbagai bentuk dan jangkauan komunikasi yang lebih luas, dan komunikasi menembus jarak, ruang, waktu, kebudayaan.
Sastra tulis dapat dijabarkan ke dalam sub-sub genre yang terdiri atas puisi tulis, prosa tulis dan drama tulis. Karya tulis berupa fiksi dibagi menjadi roman, cerita pendek dan novel.

12 Unsur-Unsur dalam Tulisan Fiksi

Dalam membangun sebuah tulisan yang bersifat fiksi, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.

a Unsur Instrinsik

Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur-unsur ini menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya yang betul-betul sastra di mana unsur-unsur secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik dapat membuat sebuah cerpen, novel atau novelette dapat terwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut pembaca, unsur-unsur cerita inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah karya sastra, unsur yang dimaksud adalah tema, alur, tokoh, setting dan sudut pandang.

b Unsur Ekstrinsik
Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi tidak secara langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme dari sebuah karya sastra. Atau secara khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang memengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra akan tetapi tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Contohnya adalah psikologi, sosial, agama, sejarah, filsafat, ideologi dan politik.

c Tema
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan, tema merupakan istilah ide yang mendasari sebuah cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Jadi kesimpulannya, tema adalah ide cerita. Dalam penulisan tema, pengarang tidak hanya ingin sekedar bercerita, tetapi mau mengatakan sesuatu yang dimaksudkan adalah dapat berupa suatu masalah kehidupan.

d Alur
Alur adalah unsur struktur yang berwujudkan jalinan peristiwa di dalam karya sastra, yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu yang diwujudkan antara lain oleh hubungan sebab akibat, tokoh, tema atau ketiganya. Jadi kongkritnya alur cerita adalah rentetan peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan sebab-akibat.

e Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Jadi orang (tokoh) adalah isi pokok sebenarnya dari semua fiksi, sebagian besar nonfiksi, semua drama dan puisi. Sedangkan penokohan adalah proses yang dipergunakan oleh seorang pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh fiksinya atau pelukisan watak pelaku yang digambarkan oleh pengarang. Penokohan mempunyai peranan penting dalam menentukan keutuhan dan keartistikan sebuah fiksi.

f Latar (Setting)
Latar (Setting) adalah lingkungan fisik tempat kegiatan berlangsung, alam kerap digunakan sebagai inspirasi pelukisan latar pada sebuah cerita. Jadi latar atau setting adalah landas tumpu yang digarap para penulis karya fiksi sebagai unsur penting. Ia terjalin erat dengan karakter, tema dan suasana cerita. Latar atau setting memberikan pijakan cerita secara kongkret dan jelas, hal ini untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca sehingga tempat yang ada di kisah fiksi tersebut seolah-olah sungguh ada.

g Ending, Sad Ending atau Happy Ending, Ending Menggantung
Ending dari sebuah cerita bisa beragam, ada yang sad ending, happy ending atau ending yang tak terduga, semua tergantung dari si penulis untuk menentukan ending dari cerita yang ditulisnya. Ending ini akan berpengaruh ke sisi psikologis pembacanya. Penulis yang senang memanjakan pembacanya, akan membuat kisah yang ditulisnya berakhir dengan bahagia atau happy ending, ada juga penulis yang membuat pembacanya menangis sedih usai membaca karyanya, namun ada penulis yang gemar membuat ceritanya menggantung sehingga si pembaca menjadi penasaran. Ending cerita terletak di tangan penulisnya.

Ini deskripsi singkat cara menulis cerpen, semoga bermanfaat

Fanny Jonathan Poyk

E-Mail dari Nina

Sastra, Kebijaksanaan dan Empati Jiwa

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis