Penulis Jlitheng
Tak disangka, pukul 20.00 tadi malam, Rabu, 16 Maret 2022, istriku mendapat telepon dari ibunya, Mbah Putri, “Aku saiki wis tekan pringsewu… otw nang Jakarta.”
Sudah 60 km perjalanan dari desanya. Sangat jelas. Lebih dari sekadar mengatakan “ya” , tetapi “ya“ yang langsung dijalani. Kesanggupan yang melampaui sebuah janji di bibir atau mimbar.
Ketika ditanya mengapa? “Selak kepingin weruh putu dan bayi yang dikandungnya,”jawab Mbah Putri.
Itu bermula dari obrolan antara cucu dengan mbah putrinya Minggu malam yang lalu. “Pesenin lokan ya Mbah…. di freezer dulu…dibungkus rapat dan titipkan travel,” kata anakku.
Ada jawaban dari seberang sana, jauh… dari Karang Anyar, Wonosobo, Kota Agung, ujung Lampung Selatan, “Yo.., sabar.”
Sepenggal cerita relasi kasih harian yang mungkin dapat menuntun kita untuk memahami kedalaman cinta Tuhan kepada manusia.
Setiap tugas pelayanan, entah sebagai kepala keluarga, ketua RT atau ketua lingkungan, yang dialiri Firman Tuhan, pasti sanggup mewujudkan pelayanan yang melampaui janji-janjinya. Akan mampu menepis godaan-godaan rasa wegah dan dalih-dalih yang masuk akal.
Seperti janji mbah putri kepada cucunya itu; seperti kesetiaan suami menemani istri menjalani tugasnya; seperti ketekunan pendidik menjalani profesinya.
Salam sehat dan tidak enggan berbagi cahaya.






