Kuliner Nusantara, Dendeng Daun Singkong ala Nia Hwang Polim

Dendeng umumnya terbuat dari bahan daging ternak. Tapi Nia Hwang Polim di Desa Mekarsari – Rumpin, Bogor, mengolahnya menjadi dendeng, yang bukan cuma lauk-pauk untuk camilan dalam kemasan, melainkan juga dijual ke pasar . Bahkan berpotensi ekspor.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI.

Seide.id – Pemimpin Redaksi seide.id, Dimas Supriyanto Martosuwito, menginfokan ada undangan dari Khian Dju Polim, mantan jurnalis-foto majalah Sinar yang 12 tahun lalu alih profesi jadi petani di lahan seluas 12 hektar di Desa Mekarsari, Kecamatan Rumpin di barat-utara Kabupaten Bogor,  Jawa Barat.

“Saya meneruskan undangan Pak Hendrick, Kepala Desa Mekarsari yang juga pembina PKK (Pendidikan Keterampilan Keluarga) yang kebetulan keduanya dipercayakan kepada Nia Hwang, istri saya,” ungkap Polim, belakangan. Hendrick  Pak Kades menyebut, Ibu-Ibu PKK Mekarsari akan menggelar kegiatan penting dalam menunjang dinamika pembangunan Desa Mekarsari.

Apa yang akan digelar para Ibu PKK? Pasti akan selalu ada sesuatu yang menarik buat diliputi dan diberitakan. Maka dicangking Mas Dimas , saya dan isteri (Restiawati Niskala) yang rajin bikin liputan swadaya di You Tube, naik Commuter-Line dari arah Tanah Abang nuju Stasiun Parung Panjang, lantas sambung Go-Car menuju Balai Desa Mekarsari.

Idealnya kami berangkat ke TKP pagi hari. Tapi agaknya   Mas Dimas dan Mas Gunawan salah set, baru berangkat dari Stasiun Tanah Abang pk 10:00 Wib. Maka tah heran bila kami tiba di Balai Desa Mekarsari  lepas tengah hari, saat acara Ibu-Ibu PKK sudah usai, hihihi…! Untungnya Polim membuat foto dokumentasinya, hingga apa dan bagaimana acara para Ibu PKK binaan Bang Hendrick  bisa terbayangkan oleh kami.

Pasangan Nia Hwang  dan Khian Djiu Polim, mengolah daun singkong menjadi dendeng dan mengembangkan Nangkadak, nangka campur cempedak di kebonnya.

Berlokasi di kebun yang dikelola Polim, yang luas mengampar persis di samping dan belakang Balai Desa,  kegiatan bulanan para Ibu PKK kali ini antara lain: Bagaimana bertanam singkong yang cuma untuk dipetik daunnya? Bagaimana memanfaatkan dan mengemas hasil panen tiap hari  untuk dijual sebagai bahan sayur segar di pasaran? Dan bagaimana membuat dendeng dari daun singkong serta prospektifnya sebagai komoditas ekspor? Pengajarnya adalah  Nia Hwang dibantu Polim sang suami.

Dendeng umumnya terbuat dari bahan daging ternak. Tapi Nia Hwang Polim si Nyonya Kebun yang hobi masak, ingin berbagi pengetahuan kepada para ibu di desanya itu ihwal teknik sederhana mengolah daun singkong (yang melimpah di desa) menjadi dendeng, yang bukan cuma lauk-pauk untuk dimakan sendiri, tapi juga bisa dijadikan camilan dalam kemasan, dijual ke pasar bahkan berpotensi ekspor.

Bahan daun singkong mudah didapat, cara membuatnya jadi dendeng gurih dan renyah juga mudah.

1500 grm daun singkong yg muda cucibersih rebus sampai mateng cuci lagi diperas airnya iris halus sebelumnyasiapkan bumbu halus. Bawang merah +bawang putih, ketumbar +adas manis disangrai dan dihaluskan. Lada halus garam dan penyedap rasa 10 butir telur.

Dendeng Daun Singkong Nia Hwang Polim Berteman Lodeh Jantung Pisang dan lauk-pauk lainnya.
Foto foto : Heryus Saputro Samhudi.

Satu (1) kg tapioka campur semua dengan daun singkong aduk rata dan kukus sampai mateng. Setelah mateng potong kecil kecil kemudian digilas dgn rolling pin /botol yang barsih sampai tipis kemudian digoreng dengan minyak panas api sedang. Setelah matang biarkan dingin baru masukkan kewadah yang kedap udara. Dendeng daun singkong ini bisa bertahan sampai sebulan

Dendeng Daun Singkong nan crispy siap jadi teman makan nasi. Atau kemas dalam kantong plastik khusus, dengan isi berat 1 ons misalnya. “Tempelkan label sticker produktif home industri yang kita miliki  jual ke pasar atau tawarkan via on-line,”  kata Nia Hwang Polim.

Seide 28/06/2022 PK 21:11 Wib.

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.