Kuliner Nusantara: Gemblong Ibu Juju

Banyak pengasong menenteng atau memanggul wadah gemblong bermerek Ibu Juju, karena produk Ibu Juju memang populer sejak dulu. Tapi jangan tanya apa dan siapa Ibu Juju? Umumnya pengasong akan geleng kepala.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

BILA Anda olahraga pagi jalan kaki keliling pedestrian Kebun Raya Bogor, atau sedang di kabin kendaraan di kemacetan jalan antara ujung Tol Jagorawi – Gadog – Cisarua hingga simpang Taman Safari Indonesia, hampir bisa dipastikan Anda akan jumpa para pengasong kue dengan stoples kaleng biru di bahu bertuliskan “GEMBLONG KETAN IBU JUJU” yang kadang juga diimbuhi kata “ASELI”

Gemblong adalah kue tradisional Nusantara bercitarasa manis dan gurih, terbuat dari bahan adonan ketan berbumbu garam dan kelapa parut dipulung-lulung dan dipenyet bulat-lonjong, digoreng kering dan lalu di’cemplung’kan ke dalam cairan (pasta) gula jawa ataupun gula aren, diaduk-aduk, diangkat, diangin-anginkan hingga salutan gula di bagian luarnya mengeras. Begitulah hikayat gemblong.

Ada banyak wilayah budaya di Indonesia dikenal sebagai penghasil kue gemblong, dengan nama daerahnya masing-masing. Satu penghasil gemblong yang sejak kecil saya pahami adalah Kota Hujan – Bogor (dan sekitarnya) di Jawa Barat. Pusat pengolahannya ada di Pasar Cisarua, warung yang ‘interior’nya dilabur cat warna biru, yang populer sebagai Warung Gemblong Ibu Juju.

Tapi itu cerita tahun 1970-an, saat saya dan Si Dia masih pacaran dan biasa mampir ke Gemblong Ibu Juju, sebelum kami hiking dan camping di ceruk-ceruk bukit di Kaki Gunung Gede-Pangrango itu. Dan kini, bila kangen icip-icip gemblong, kita tak perlu lagi berdesak-desakan masuk Pasar Cisarua, karena pengasong gemblong nyaris ada di tiap jengkal kemacetan ruas jalan menuju Kebun Teh Gunung Mas, Puncak.

Jangan heran bila banyak pengasong menenteng atau memanggul wadah gemblong bermerek Ibu Juju, karena produk Ibu Juju memang populer sejak dulu. Tapi jangan tanya apa dan siapa Ibu Juju? Umumnya pengasong akan geleng kepala, dan bahkan banyak yang tak faham bahwa di Pasar Cisarua dulu ada Warung Gemblong Ibu Juju. “Saya ambil dagangan di pabriknya,” kata seorang pengasong.

Pabrik yang mana? Milik anak-cucu Ibu Juju, kah? Atau gemblong produk lain yang sengaja dipasarkan dengan mendompleng nama Ibu Juju? Sistem pemasaran gemblong Ibu Juju kini memang bak usaha franchise yang tidak memiliki payung hukum. Bahkan bukan tak mungkin ada gemblong buatan sendiri, diasong dengan merk Ibu Juju, tanpa memberi keuntungan pada pemegang merk asli.

Lantas gimana dong, menikmati gemblong aseli produk aseli anak-cucu Ibu Juju? Susah. Banyak orang mampu mengolah gemblong seenak Ibu Juju mengolahnya. Gampangnya, beli saja sebutir. Apakah gurih-manis-pulen dan renyah? Bila lidah kitamemang merasa enak mengunyahnya, borong untuk dikudap saat menghadapi kemacetan jalan yang akrab di ruas Raya Puncak Bogor di tiap akhir pekan. ***

23/11/2021 PK 09:05 WIB

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.