Sesuai namanya, tubuh ikan ini berwarna biru dan putih keperakan. Tombak pada ikan ini membuatnya mudah dikenali di lautan luas. Blue marlin betina dapat tumbuh hingga sekitar 4,3meter dan berat mencapai 900 kg.
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
Sabtu sudah separuh jalan, malam minggu menanti sepenuh harapan. ”Kemana kita?” celetuk saya. “Kita ke Palabuhanratu aja, yuk…! Menghabiskan malam sebelum kantuk datang, menikmati Panggang Gindara atau atau Lobster Batik,” Jawab Resti. Gagasan apik dan terukur ‘modal’ di kantong, pikir saya seraya acungkan dua jempol, dan kami pun segera berkemas dan bersiap diri.
Kami, pasutri (pasangan suami-istri) memang biasa ‘jalan dadakan’ bila waktunya memang luang dan (itu tadi) cukup modal di kantong, ha…ha…ha…! Pun sore itu sebelum pandemi Covid-19, kami cukup mencangking day-pack, plus tenda portable kedap hujan kedap serangga kalau-kalau kami butuh istirahat gratis di lokasi. Naik angkot ke Kota Bogor, dan lanjut menuju Terminal Bus Antarkota Baranangsiang.
Piknik, jalan-jalan atau apalah namanya, bagi kami adalah relaksasi hidup menikmati dengan bahagia apa-apa yang ada di sepanjang langkah, sejak dari rumah, di lokasi tujuan, hingga tiba lagi di rumah. Demikian kali itu, kami santap malam Soto Kuning khas Bogor di depan terminal, sebelum duduk (dan tidur-tidur ayam) di jok empuk Bus-AC terakhir rute Bogor – Palabuhanratu di selatan Sukabumi, Jawa Barat.
Tengah malam, 2 atau 3 jam bus melaju santai…kami tiba di Palabuhanratu yang nyaris tak pernah tidur. Terang-benderang dari terminal hingga pasar dan pelabuhan tempat sandar kapal-kapal nelayan. Lapak-lapak pedagang buka hingga pagi. Sasaran kami adalah menikmati dan memotret suasana pelelangan ikan, dan pasar ragam produk segar yang baru ditangkap dari laut.
Lobster, kakap. kuwe, baronang, kepiting, kerang, layur, etem-etem Si Ikan Semar dan banyak lagi…tinggal pilih. Beli kotak stereofoam untuk membawanya pulang ke rumah Anda buat. hidangan temu kangen dengan teman lama esok pagi. Ada pula cakalang pindang, potongan-potongan dan fillet gindara (Lepidocybium flavobrunneum) segar yang dijual per kilogram, dan “Ahaiii…! Blue marlin…!
Blue marlin atau ikan layaran (Istiophorus platypterus, spesies layaran Indo-Pasifik yang ada di Indonesia) merupakan ikan besar yang cepat dan terkenal di dunia. Sesuai namanya, tubuh ikan ini berwarna biru dan putih keperakan. Tombak pada ikan ini membuatnya mudah dikenali di lautan luas. Blue marlin betina dapat tumbuh hingga sekitar 4,3meter dan berat mencapai 900 kg.
Karena itu di Palabuhanratu, pedagang (sebagaimana juga terhadap ikan gindara) menjualnya berupa potongan-potongan fillet, sesuai berat dan bagian tubuh ikan yang diinginkan pembeli. Kami beli 2 Kilogram, Rp 30.000 dan langsung membawanya ke resto di gedung berlantai dua pinggir pelabuhan, yang dilengkapi jasa layanan masak-memasak dengan tarif Rp 10.000 perkilo bahan. Asyiiik…!
Foto Heryus Saputro Samhudi.
Dengan hanya membayar tambahan berupa nasi putih (atau kentang goreng) plus minuman yang kami teguk. Atau bila ada pesanan menu lainnya, tengah malam itu kami nikmati Panggang Blue Marlin plus lalap selada segar dan mentimun serta Sambal Ciremai Kecap Manis, sebelum kemudian kami bergerak lagi menikmati sisa malam minggu di Palabuhanratu.
Ada banyak hotel, juga spot-spot pantai indah, aman buat membuka tenda. Tapi malam sedang bagus. Langit nyaris tak berawan. Kami cukup bergerak beberapa langkah ke batere, tanggul batas pelabuhan dan penahan ombak di dekat musollah dimana banyak orang memancing ikan dengan pancing lempar. Ada penjual kopi keliling. Di lokasi datar kami membangun tenda, atau ngobrol bareng pemancing.
Azan Subuh berkumandang. Usai bersih-bersih dan shalat, kami kembali melipat tenda dan semua barang bawaan (termasuk 1Kg panggang Blue Marlin yang sengaja kami pilah dan sisihkan buat oleh-oleh) balik masuk day-pack. Usai beli ini itu sebagai tambahan oleh-oleh, kami bergegas ke terminal mengejar bus pertama Palabuhanratu – Bogor yang terjadwal berangkat PK 06.30 WIB.
Siapa mau ikut? ***
23/02/2022 PK 22:02 WIB.




