Maukah Berjaga Bersama-Ku Satu Jam Saja? – Catatan pada Halaman ke-13

Untuk kesekian kalinya pembaca bertanya: “Kapan tulisan-tulisan ini akan dibukukan?”

Jawab saya sama: “Biarlah tulisan-tulisan ini seperti benih yang ditabur.” Ada yang jatuh di tanah yang subur, tanah berduri, tanah berbatu, dan bahkan di pinggir jalan.

Awalnya saya tidak ingin menulis. Bermula dari suara yang terus berulang,“Mukah kamu berjaga bersama-Ku satu jam saja?” terlintas sebuah gambaran yang menyedihkan, ketika Dia tergoncang antara “minum piala” atau “boleh berlalu” dalam situasi ditinggalkan oleh para murid-Nya.

Jawab saya: “Aku mau.”

Maka, setiap malam, awalnya tepat tengah malam, sambil berucap doa rosario, saya berjaga. Beberapa kali saya tertidur. Bangun lagi.

Saat berjaga itu ada banyak hal yg melintas di benak ini, antara lain, “Apa yang dapat saya lakukan agar ada lebih banyak lagi yang berjaga?”

Maka, lahirlah “berbagi cahaya” dengan cara menulis. Tepat pada 11 Juli 2018 tulisan pertama saya buat dan saya share, awalnya kepada dua sahabat dengan awalan “Salam pagi”.

Sebenarnya ada banyak cara untuk “berjaga”. Kuncinya ada tiga: mau, mau berbagi, dan mau mewujudkannya. Seperti kisah heroik dokter seribu rupiah itu.

Saya sudah hampir 70 tahun. Sudah lama pensiun, tetapi tidak menerima uang pensiun bulanan. Karena kemurahan Tuhan, selalu saja ada teman atau institusi yang butuh pelatihan atau seminar.

Uang? Tak punya banyak untuk saya bagikan. Tapi, saya punya buah pikiran dan bisa menuliskannya dengan baik. Maka, saya menulis dan saya bagikan buah pikiran itu kepada para sahabat tentang hidup, cara menjalani hidup dsb. Dengan nama yang silih berganti: embun pagi, pelangi pagi, berbagi cahaya. Dan entah apalagi.

Apa yang saya lakukan?
Saya sisihkan rata-rata dua jam setiap malam dari waktu tidur saya untuk menulis. Hasilnya saya share setiap pagi ke banyak teman.

Mungkin sudah lebih dari 1.000 tulisan dalam tiga tahun terakhir ini. Plus 2.000 jam waktu tidur saya.

Itu tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan 40 tahun pelayanan dokter seribu rupiah di Abepura. Lebih tak ada apa-apanya lagi jika dibanding dengan “tetesan darah sampai akhir dari Juru Selamatku”.

Pernah ada yang bertanya : “Sampai kapan akan menulis?”

Jawab saya: “Sampai jari-jari saya enggak bisa nutul HP lagi.”

“Maukah berjaga bersama-Ku satu jam saja?”
“Ya, saya mau,” jawab saya.

Salam sehat dan mau berbagi cahaya.

Penulis: Jlitheng

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.