Mauritius Bekas Pulau Budak yang Menjadi Negara Makmur dengan Pendapatan Per Kapita 228 juta !

Mauritius Bekas Pulau Budak yang Menjadi Negara Makmur dengan Pendapatan Per Kapita 228 juta !

Mauritius, yang sebelumnya menjadi pulau perbudakan, kini pendapatan per kapita mencapai Rp 228,400 dengan berbagai ras dan agama tapi tak menjadikannya sebagai perbedaan ( Foto: Lonely Planet)

Pernah dengar negara bernama Mauritius ? Mauritius merupakan negara kepulauan yang terletak di Afrika Barat dan berada di tepi Samudera Hindia. Jika pernah mendengar Madagaskan, yang dipopulerkan melalui film kartun, letak negara Mauritius ini 900 Km arah Timur Madagaskan.  Jauh banget. Namun Mauritus menyimpan pesona tersendiri.

Mauritius punya alam yang sangat indah. Tak kalah dari Maldives atau Karibia. Pulau Mauritius adalah sebuah negara yang terletak di barat daya Samudra Hindia. Pulau Mauritius juga menjadi salah satu bagian dari Kepulauan Mascarene dan Pulau Reunion. Karena keindahannya itu, Mauritius menjadi salah satu destinasi impian selebritis dunia. Melihat keindahan pantainya, orang tak mengira negara ini pernah mengalami masa paling mengenaskan dalam sejarahnya.

Pulau Perbudakan

Mauritius dulunya hanyalah pulau kosong yang jadi tempat persinggahan pedagang dunia. Menurut catatan sejarah, Mauritius ditemukan oleh pelaut Arab pada abad ke-10 dan kemudian Portugis di abad ke-16. Para pedagang yang berlayar di Samudera Hindia hanya menjadikan Mauritius sebagai tempat peristirahatan saja, lantaran dianggap tak memiliki potensi alam yang mampu menggerakkan ekonomi.

Saat Belanda masuk, mereka tertarik suasana lokasinya. Terutama, tentu saja, jenis tanamannya yang beragam. Belanda menduduki pulau tersebut dan diberi nama seperti Pangeran Maurits Van Nassau. Hanya 72 tahun di sana, Belanda meninggalkan pulau Mauritius dan dikuasai Prancis. 

Mauritius kemudian dikuasai oleh penjajah berikutnya, Prancis, yang kemudian membawa orang-orang Afrika untuk dijadikan budak di sana. Mereka diharuskan untuk berbahasa Prancis dan bekerja untuk Prancis. Pekerjaan yang harus dilakukan oleh orang-orang Afrika adalah industri gula. Prancis menetapkan penanaman gula sebagai industri utamanya. Penanaman gula ini justru membuat Mauritius berubah menjadi negara makmur. Tapi Mauritius belum aman. Karena pada abad ke-19 Prancis dan Inggris berperang.

Mauritius yang mulai punya daya tarik,  menjadi rebutan kapal dagang Inggris dan India. Pada tahun 1810 akhirnya Inggris menguasai Mauritius. Penyerahan Mauritius disahkan dalam Perjanjian Paris tahun 1814. Inggris yang tertarik dengan industri gula di pulau ini, juga  membawa banyak pekerja dari India untuk tinggal di Mauritius. Melihat kerjasama Inggris dan India, orang-orang Afrika di yang dibawa oleh Prancis pun berontak dan ingin menghapus perbudakan. Inggris pun setuju dan memberikan sistem kerja kontrak.

Kebangkitan Pulau Budak

Ekonomi Mauritius perlahan bangkit. Negara kecil di Samudera Hindia ini akhirnya bisa merdeka menjadi negara persemakmuran tahun 1968. Mauritius nampaknya belum puas, sampai akhirnya resmi menjadi negara republik pada tanggal 12 Maret 1992.

Masuk dalam Uni Afrika, Mauritius kini menjadi negara modern dan makmur. Gemah ripah loh jinawi. Sebuah upaya negara dalam memperjuangkan masyarakat untuk menciptakan ketentraman/perdamaian, kesuburan, keadilan, kemakmuran, tata raharja serta mulia abad.

Mauritius telah menapai itu. 

Pendapatan per kapita masyarakat tahun 2018 mencapai USD 11.238 membuat Mauritius sebagai negara terkaya di Afrika. Dari negara penghasil tebu, Mauritius berubah menjadi pusat keuangan dan teknologi informasi di Afrika dan Samudera Hindia. Orang kemudian menjuluki Mauritus sebagai Singaporenya Afrika.

Campur Baur

Ras Indo-Mauritius mencapai 70% dari total penduduk. Populasi lainnya adalah ras campur aduk; Afrika, Prancis, Tionghoa, India, dan ras campuran berbagai bangsa. Tak ada dan tak bisa orang di sana mengaku penduduk asli. Tak ada penduduk asli.

Mayoritas penduduk Mauritius beragama HIndu. Barangkali ini negara Hindu terbesar di dunia, di luar India. Jumlah penganut Hindu mayoritas, yakni 48.1%,  Katolik (27.2%), Islam (17.5%), Protestan (2.7%). Ada juga yang tak memiliki agama lebih dari 2.1%. 

Yang menarik adalah Mauritius yang memiliki warna Afrika yang terbelakang ini justru menjadi negara maju dan contoh akan toleransi. Baik soal agama maupun ras dan jender. 

Dari sekitar jumlah warganya yang hanya sekitar 1,5 – 2 juta, Islam termasuk minoritas di sana. Tapi dari minoritas ini pernah muncul seorang wanita aktif, cerdas yang menjadi presiden dari ras yang minoritas juga. 

Namanya Ameenah Gurib-Fakim (56), turunan India, minoritas dan sekaligus menjadi Presiden wanita pertama di negara yang terletak di Kepulauan Mascarene.

Ameenah, penerima penghargaan L’Oreal-UNESCO For Women in Science ( FWIS) Awad 2007, sejak lama menekuni dunia sains. Ia lahir dan besar di Quarre-Bornes, Mauritius dan menempuh studinya hingga meraih gelar Ph.D jurusan kimia, di University of Surrey dan Exeter Univeersiru, Inggirs.

Salah satu dorongan Ameenah masuk ke dunia baru ini mengingata di Mauritius sendiri, ada 300 spesies tanaman yang hanya ada di pulau ini. Ameenah semakin terkenal seantero negeri ketika ia mendirikan CIDP Research & Innovation ( Centre International de Development Pbarmeceutique) yang fokus pada tumbuhan untuk kosmetik,k nutrisi dan terapi kesehatan. Tiga hal yang dibutuhkan manusia, yang membuat Ameenah dihormati siapapun di Mauritius. 

Masuk Dunia Politik

Menjelang pergantian pucuk pimpinan negeri ini, Perdana Menteri Mauritius Anerood Jugnauth, mendekati Ameenah. Menurut Anerrod, Mauritius menginginkan seorang presiden yang sudah dikenal prestasinya, figur wanita yang berasal dari non-politik dan punya kredibilitas. Dan itu ada diri Ameenah. 

Gayung bersambut, Ameenah setuju. Salah satu obsesinya, selain mempertahankan kemakmuran negeri ini, ia juga ingin menambah pendidikan bagi warganya dan menemukan apa yang sudah hilang, yakni hutan. Sekarang ini hutan di Mauritius tinggal 2% karena proses modernisasi. Tetapi jika hutan itu diberdayakan dengan kekayaan tanaman di dalamnya, Mauritius akan menjadi heibata dari sekarang,

Itu sebabnya ia setuju masuk politik. “ Tetapi saya taidak memilih politik. Politiklah yang memilih saya.,” ujar Ameenah yang bahkan sehari sebelum pelantikan sebagai presiden presiden, Ameenah masih sibuk lembur di laboratoriumnya. 

Ameenah Gurib-Fakim pernah menjabat sebagai Presiden Mauritius ke-6 dari tahun 2015 hingga 2018, dan berlanjut lagi. Sayang, wanita yang dianggap menjadi role model ini terlibat kasus keuangan. Ameenah Gurib-Fakim dituduh membeli barang-barang mewah pribadi dengan kartu kredit dari sebuah organisasi non-pemerintah sebesar Rp 383 juta.

Ameenah Gurib-Fakim, lalu memutuskan mengundurkan diri per Minggu, 23 Januari 2022, Ia memilih mundur demi  “kepentingan nasional”. Dan kenyataan, mundurnya Ameenah ak membuatr Mauritius tenggelam. Negara ini telah memiliki ekosistem kuat dengan pondasi kebersamaan, kesetaraan dan salin gmenghormati antara penduduk, apapun perbedaannya.

Sebuah pelajaran berharga, sebaik apapun anda, sepintar apapun anda, sekuasa apapun anda, ketika masuk dunia politik, akan akan masuk perangkap dunia politik itu sendiri; ketidakberdayaan melakukan kecurangan dan kejahatan, disengaja atau tidak…

BACAAN LAIN

Uang Kripto Penting Untuk Masa Kini dan Masa Depan

KPK Hapus Lagu Kolaborasi Anti Korupsi Bersama Trader Indra Kenz

HUKUM LOA: Kita Akan Memperoleh Apa Yang Kita Cari

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.