Mengenang Bung Maza Yudha

Oleh NESTOR RICO TAMBUN

Seperti ada daun yang melayang jatuh. Seperti mendengar suara burung terbang menjauh. Lalu sepi. Begitulah rasanya menerima kabar kepergianmu, Bung. Sunyi. Tiada.

Kita bertemu pertama di Jalan Garuda, markas penerbitan KARTINI Grup, di pertengahan tahun 80-an. Bung bergabung di majalah SARINAH, saya di penerbitan buku. Tapi sebelumnya saya sudah sering mendengar nama Bung. Di Jakarta bergabung dengan teman seniman muda Garajas (Gelanggang Remaja Jakarta Selatan) di Bulungan. Antara lain menggeluti teater dan kepenulisan. Lalu kemudian jadi wartawan. Antara lain di majalah DEWI.

“Bung Nestor…!” Terngiang pertama kali Bung Yudha memanggil. Dengan vocal yang jelas, khas anak teater. Bung! Terasa dekat, tak ada jarak. Dan selanjutnya begitulah kita saling memanggil.

Di SARINAH Bung dikenal sebagai wartawan yang gesit dan produktif. Sesekali saya “mencuri” memasukkan liputan mandiri yang timeless. Sampai badai aneh itu datang.

Majalah KARTINI, yang sempat dibawa dan diterbitkan di tempat lain oleh beberapa tenaga redaksi seniornya, diputuskan Mahkamah Agung kembali ke Pak Lukman Umar. Pak Lukman menerbitkan KARTINI tandingan untuk memecahkan kebuntuan. Saya diminta mengerjakan editing naskah KARTINI tandingan itu, sendirian. Naskahnya, mayoritas naskah-naskah sisa SARINAH.

Heboh. Menpen Harmoko turun tangan. Keputusannya, KARTINI kembali ke Pak Lukman. Majalah SARINAH memisah. Yang membawa KARTINI selama ini diberi siup majalah PERTIWI.

Bung Yudha dan beberapa teman SARINAH milih bergabung ke KARTINI. Bung naik menjadi Managing Editor (Redpel). Pak Lukman menyuruh saya bergabung di KARTINI. Tapi oleh Pak Roedjito, pelaksana Pemred KARTINI yang baru disuruh jadi penulis lepas. Katanya, posisi sudah penuh. Lha? Mengerjakan KARTINI tandingan, masa jadi stringer?

Malamnya Soetikno datang menemui saya, meminta bergabung ke SARINAH. Dia adik Soesilo Moerti, Pemred SARINAH. Dia teman kuliah saya. Bung Yudha kaget saya tidak jadi bergabung di KARTINI. Bung menyesalkan saya tidak menemui Bung ketika ditolak Pak Roedjito. Ya, sudahlah.

KARTINI dan SARINAH bersaing ketat karena konsep isinya sama. Tapi saya tidak sampai 3 tahun di SARINAH. Saya ditawari bergabung dengan majalah GADIS. Mereka ingin saya ikut membantu menaikkan pamor GADIS, yang anjlok sejak majalah MODE terbit. MODE dibuat kru GADIS yang boyongan keluar. Saya menerima. Saya merasa SARINAH akan berbeda setelah Pemred Soesilo Moerti meninggal. Dan saya merasa, saya juga tidak terlalu dianggap di sana.

Dua tahun lebih GADIS sudah leading lagi. Eh, tiba-tiba Bung menyuruh seorang teman di KARTINI menghubungi saya, menawari pindah ke KARTINI. Bung Yudha butuh asisten untuk mengedit naskah-naskah reporter. Saya merasa, di KARTINI lebih terasa wartawannya daripada di majalah remaja. Saya meminta gaji agak tinggi. Eh, dikasih. Saya pindah ke KARTINI, meski GADIS berusaha menahan.

Saya ingat, hari pertama bergabung di KARITINI, 14 Februari 1991. Teman-teman di KARTINI lagi rame-rame Valentine-an. Itulah awal kerja sama panjang dan kedekatan kita. Kebetulan, kita sama-sama tinggal di Depok. Kita sering pulang bareng, saya ikut mobil Bung. Tugas-tugas kita lancar, karena kita bisa diskusi banyak.

Tugas terberat Bung, karena harus jadi penengah antara atasan dan bawahan. Bos kita, Pemred yang juga Direktur, agak paranoid, pencuriga, dan agak haus hormat. Banyak wartawan yang merasa takut dan tertekan. Padahal wartawan harus merdeka agar produktif. Butuh banyak tulisan bagus agar isi majalah bagus. Tapi Bung orang yang sangat gigih dan bersemangat.

Majalah KARTINI mengalami perkembangan baru. Punya kantor dan percetakan baru di Pulogadung. Bung Yudha juga keren, menjadi salah seorang yang awal-awal naik Suzuki Vitara di pertengahan 1990-an itu.

Untuk menghadapi tantangan yang makin berat. KARTINI merekrut repoter-reporter baru. Saya diminta membimbing wartawan-wartawan baru itu. Akhirnya Bung Yudha mengusulkan saya jadi Koordinator Reporter & Koresponden. Bung senang, karena liputan para koresponden sampai ke meja Bung sudah clear.

Tapi akhirnya persoalan pecah. Bung akhirnya berkonflik dengan bos kita yang galak itu. Saya mendengar Bung sampai menangis. Saya dipanggil bos itu. Dia menyelidik Bung, curiga berkomplot dengan jajaran wartawan untuk menggulingkan dia. Aduh! Saya mengatakan, yang saya tahu sebagian wartawan takut sama bapak. Bung Yudha hanya berusaha menjembatani, mendekati anak-anak agar tetap semangat kerja. Bos itu tidak tahu, saya mengantongi tape recorder yang on.

Malamnya rekaman itu saya antarkan ke rumah Bung. Bung Yudha tidak ada di rumah. Besoknya, Bung mengucapkan terimakasih dengan wajah sangat haru. Tapi keadaan kayaknya sudah tak bisa diperbaiki. Bung akhirnya keluar bersama beberapa teman, pindah ke tabloid WANITA INDONESIA.

Saya orang yang merdeka sesungguhnya. Juga tidak pernah ambisius. Memegang tugas sepenting itu di redaksi majalah sebesar KARTINI, saya tidak punya mobil. Cuma beberapa tahun terakhir diberi inventaris jip Suzuki Katana bekas. Saya cuek aja. Saya punya keasyikan lain diluar kerja jurnalisme, menulis skenario sinetron. Tapi saya tetap sedih kehilangan teman.

Selain itu, saya melihat KARTINI dalam ancaman karena salah strategi. Frekwensi terbit ditambah, dari dua mingguan menjadi tiga kali sebulan. Sementara gejala krismon mulai mengancam. Harga kertas terus melonjak. Kebetulan, seorang produser menawari saya mengerjakan proyek sinetron dengan honor besar. Saya memutuskan keluar dari KARTINI, setelah menghabiskan waktu di sana 6 setengah tahun. Dua bulan setelah keluar, saya bisa beli mobil.

Akhirnya krismon melanda. KARTINI berhenti terbit. Dalam masa sulit itu, Pak Lukman Umar berpulang. Aset perusahaan harus dijual untuk membayar hutang dan pesangon karyawan. Tapi setelah itu Pak Bram, sang Pemred itu, menerbitkan majalah KARTINI kembali, tanpa melibatkan keluarga Pak Lukman.

Bung Yudha mendapat pemodal dan mendirikan majalah SWARA KARTINI. Saya akhirnya menerima tawaran keluarga Lukman Umar mendirikan Tabloid MUTIARA KARTINI, bersama Dasriel Rasmala dan Syarifudin Ach almarhum. Perkembangannya bagus. Tim redaksinya sudah jalan. Tapi keluarga itu memutuskan menghentikan penerbitan setelah 6 bulan.

Saya kembali ke dunia sinetron, antara lain bergaung di PH milik Mandra dan Rano Karno di Karno’s Film. Saya tidak tahu persis berapa lama, Bung Yudha saya dengar berhenti di SWARA dan mendirikan majalah sendiri. Tapi itu juga tidak lama. .

Media massa mengalami perubahan dan pergeseran. Generasi kita perlahan tergeser dari arus utama jurnalisme. Tapi tenaga kreatif seperti kita tentu saja tak mungkin berdiam diri. Seperti Bung, yang mengaku merasa enjoy mengelola majalah KERIS.

Dalam masa-masa yang berubah itu, kita jarang bertemu. Tapi jika ada reuni, atau teman-teman mengajak sekedar pertemuan terbatas, Bung selalu berusaha datang. Juga kalau peristiwa duka. melayat saat ada teman yang berpulang. Dan peristiwa duka juga menghinggapi Bung. Mbak Lies, istri Bung berpulang karena sakit, meninggalkan Bung bersama Didit, Riri, dan adek. Teman-teman juga hadir dalam pemakaman itu.

Satu hal yang mengejutkan, Bung Yudha main teater lagi. Bung jadi pemeran utama dalam sebuah pementasan di Bulungan. Agak nggak percaya, dalam pertemuan reuni eks teman-teman SARINAH di Tebet, Bung mengaku sudah mulai banyak penyakit. “Kelihatannya aja sehat bung,” kata Bung, tapi tetap dengan dengan tawa dan nada riang.

Sampai berita itu datang, pada pagi 11 Juli 2021, dari teman eks KARTINI. Bung berpulang karena terpapar pandemi Covid yang sedang mengepung negeri ini. Berita itu didapat dari Riri, putri Bung. Katanya, sudah mencoba membawa ke 10 rumah sakit. Tapi semua fasilitas penuh.

Sedih rasanya, Bung. Keadaan membuat teman-teman tak mungkin datang mengantar kepergian Bung ke tempat peristirahatan terakhir. Kesedihan itu seperti daun yang melayang jatuh. Seperti mendengar suara burung terbang menjauh. Sunyi. Tiada,

Terbayang wajah Bung yang tegas, ganteng, dan seperti tak berubah dari muda hingga tua. Terngiang suara Bung dengan vocal dan intonasi yang jelas, khas anak teater. Juga ketawa Bung dengan “ha-ha-ha” yang keras. Dan… panggilan “Bung” yang khas itu.

Selamat jalan, Bung Maza Yudha. Berat rasanya menerima sunyi dalam rasa tak berdaya ini. Hanya bisa memanjatkan setangkup doa kepada Tuhan Yang Maha, semoga segala amal Bung diterima, segala khilaf Bung dimaafkan, dan semoga IA menempatkan arwah Bung di padang terindah disisi-NYA. Amin.

Avatar photo

About Nestor Rico Tambun

Jurnalis, Penulis, LSM Edukasi Dasar. Karya : Remaja Remaja, Remaja Mandiri, Si Doel Anak Sekolahan, Longa Tinggal di Toba