Belajar untuk Menganyam Kehidupan – Menulis Kehidupan 360

Foto : ddzphoto/Pixabay

Kita hidup dari sejarah masa lalu dan sekaligus membuat sejarah untuk generasi berikutnya. Maka, kita bisa belajar pengalaman masa lalu untuk bisa dijadikan guru untuk hidup saat ini, serta menoreh langkah ke depan. Pwngalam baik dan burik bisa dijadikan pelajaran, lalu kita bisa memilah dan memilih untuk keputusan pribadi kita, dalam memberi makna kehidupan ini.

Refleksi tentang perjuangan menganyam kehidupan pribadi itu, saya ibaratkan sebagai jejak langkah sejarah. Jejak langkah masa lalu, maupun jejak langkah pribadi membuat ziarah kelana makna. Maka kutulis dalam sebuah sajak berjudul:

Menyusuri Jejak-jejak Langkah

Hari ini,
Saya dan anda sekalian berdiri dan hidup di atas jejak-jejak langkah
Ketika berjumpa dalam hening
berdiri di hadapan anda sekalian,
saya pun sedang membuat jejak langkah,
dan anda sekalian pun sedang mengukir jejak langkah
Saat membaca tulisan ini

Berdiri melangkah dengan pikiran
ketika memandang ke segala arah, maka
yang terlihat adalah jutaan jejak langkah kehidupan,
jejak-jejak langkah peradaban,
Jejak-jejak langkah penuh makna,
bagi setiap pribadi yang peduli
untuk menyadari dan memberi arti bagi diri dan kehidupannya

Kita adalah para pengembara, yang dikirim Sang Pencipta, berziarah kelana di bumi,
dari misteri menuju misteri
Hadir penuh misteri dan tidak meminta terlahir,
hidup penuh misteri dan tanya untuk dijawab,
Nanti pulang kepada misteri,
karena tak mampu menolak kematian.

Yang kita tinggalkan adalah hanya jejak-jejak langkah, pilihan dan keputusan diri,
dari waktu ke waktu, dalam ruang yang membatasi
raga dan fakta kehidupan.

Ketika memandang ke masa lalu, ada jejak-jejak langkah para orangtua, leluhur, dan para pendahulu, yang sudah menulis sejarah peradaban. Ada kisah cerita suka duka insani,
ada terpatri sukses dan gagal dalam perjuangan, dan semua berpadu satu membangun peradaban, sehingga kita sekarang menikmati dan hadir di sini.

Ketika menelisik sebuah kampus, ada juga jutaan jejak-jejak langkah. Para pendiri telah menoreh cita-cita, ada visi misi dan program membangun kampus
Dan mereka telah tinggalkan jejak-jejak karya bhaktinya, maka sekarang kita pun bisa hadir dan membuat jejak langkah kita

Ketika menghitung jejak langkah pribadi, entah sebagai pengurus yayasan,
entah sebagai pada dosen, entah sebagai pegawai tenaga pendidikan,
Entah sebagai mahasiswa,
Kita semua telah tinggalkan jejak-jejak langkah, dan terus membuat jejak langkah setiap hari,
ketika datang melakukan tugas dan peran di kampus

Coba kita hitung, dalam satu hari, satu bulan, satu semester, selama kuliah sebagai mahasiswa, atau sebagai dosen selama mengajar, dan para pengurus yayasan serta tenaga pendidikan datang bekerja.
Secara fisik, berapa jejak langkah yang telah ditinggalkan di kampus?

Untuk setiap tempat profesi
Hal yang sama terjadi
ketika menjadi petani di kebun
ketika jadi pegawai pemerintahan
ketika menjadi seorang nelayan
ketika sebagai buruh pabrik
ketika sebagai aparat keamanan
Apa saja peran dan profesi
pasti membuat jejak langkah
menganyam kehidupan pribadi
agar bermanfaat dan bermakna

Berapa jejak langkah di rumah, di kampung kita, dan sepanjang perjalanan kehidupan pribadi masing-masing.
Dalam jejak langkah itu, kita menulis arti kehidupan dan melukis makna kehadiran diri kita. Ada perjuangan, ada suka duka, ada gagal berhasil, ada harapan dan cita, ada senyum dan air mata, ada Doa.
Dan
dalam setiap jejak langkah,
kuasa kebesaran Sang Pencipta
Selalu terpatri berpadu satu
dalam desah nafas dan desiran darah kita. Entah disadari atau tidak oleh pribadi kita masing-masing.

Selama masih ada nafas, kita terus membuat jejak-jejak langkah. Kita pasti terus berziarah berkelana, membuat prestasi, menciptakan karya, melahirkan amal bhakti, agar kehidupan pribadi kita membawa arti manfaat.
Arti manfaat bagi diri, bagi keluarga, bagi sesama sesuai dengan pilihan dan keputusan kita.

Setiap kita,
terus membuat jejak langkah pribadi. Sesama akan melihat dan membaca makna serta manfaatnya, lalu sejarah peradaban mencatat, serta alam semesta dan Sang Pemilik kehidupan menyaksikan tanpa sensor.

Ada satu harapan, agar dengan DOA, sesuai iman kita masing-masing, kiranya kita selalu berani menyadari dan memberi makna bagi jejak-jejak langkah sesama,
sehingga kita mampu membuat jejak langkah pribadi. Tujuannya adalah agar pribadi kita sungguh bermakna dan bermanfaat; bagi diri sendiri, keluarga dan sesama. Dan mari kita terus saling mendoakan, agar ziarah kelana kehidupan kita, sungguh berarti. Kita bisa menjadi berkat bagi sesama saudara.

“Aku ada karena kita ada
Kita ada karena sejarah masa lalu dan harapan generasi masa depan
Kita ada karena alam semesta ini menopang dan menjamin kelangsungan kebutuhan insani.
Semua realitas ada, karena Sang Pencipta terus berkreasi dalam misteri-Nya.
Misteri diri kita dan kehidupan
Misteri alam semesta
Misteri Sang Maha Misteri”

Belajar Memahami Diri dan Sesama – Menulis Kehidupan 352