Menyaksikan Festival Danejo yang Diakui Unesco (1)

Seni perkusi di Festival Danejo, dari festival yang bermakna spiritual untuk memuja roh penjaga gunung yang melindungi kota. Festival ini juga dimaknai sebagai doa untuk kedamaian kota dan semua keluarga, menjauhkan penduduk kota dari bencana sekaligus harapan agar ladang pertanian mereka selalu subur. foto Syah Sabur.

Oleh SYAH SABUR

SUNGGUH beruntung, kunjungan tujuh wartawan ke Korea Selatan, khususnya kota Gangneung, bersamaan dengan digelarnya Festival Danoje atau Festival Dano di kota tersebut. Ketujuh wartawan ini adalah pemenang lomba tulis MRT yang diundang untuk studi banding tentang transportasi di Seoul dan Gangneung pada 29 Mei hingga 5 Juni 2022.

Ini memang bukan festival sembarangan karena sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda pada 25 November 2005. Pengakuan itu diberikan sebagai apresiasi atas kecerdasan budaya dan keseniannya yang luar biasa. Festival kali ini makin istimewa karena digelar setelah dua tahun dihentikan akibat pandemi covid-19.

Tahun ini, festival yang berlangsung tanggal 30 Mei hingga 6 Juni ini mengambil tema Festival Gangneung Dano Eurachacha. Media lokal Yonhap menulis, eurachacha bermakna “suara yang dibuat ketika seseorang mencoba mengatasi lawan, situasi, atau objek yang sulit”.

“Ini juga bisa dimaknai sebagai upaya mengatasi kesulitan covid-19 dan kembali ke kehidupan sehari-hari bersama melalui Festival Gangneung Danoje, sebuah festival harapan dan doa,” tulis Yonhap.

Mengutip pejabat dari Festival Gangneung Danoje, Yonhap juga melaporkan, “Karena ini adalah waktu di mana warga Gangneung dan para turis sangat lelah karena covid-19, kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Festival Gangneung Danoje tetap menjadi sebuah festival harapan dan doa. Kami akan memastikan agar festival berjalan aman sampai akhir.”

Tahun 2020, ketika awal pandemi, festival ini diadakan secara online. Tahun berikutnya, festival tetap digelar namun dalam skala kecil yang sebagian besar berupa pameran.

Festival yang berlangsung di sepanjang aliran Namdaecheon di Gangneung, Provinsi Gangwon ini digelar pada hari ke-5 setiap bulan ke-5 penanggalan Korea (lunar). Dalam kalender tradisional Korea, tanggal tersebut dianggap sebagai hari yang paling bertuah karena mereka meyakini bahwa benda-benda angkasa berkumpul sehingga semua energi menyatu.

Festival ini memiliki sejarah terpanjang di antara festival lokal Korea. Festival ini juga memiliki makna spiritual karena dimaksudkan untuk memuja roh penjaga gunung yang melindungi kota. Festival ini juga dimaknai sebagai doa untuk kedamaian kota dan semua keluarga, menjauhkan penduduk kota dari bencana sekaligus harapan agar ladang pertanian mereka selalu subur.

Soal kapan pertama kali festival ini digelar, memang masih simpang siur. Namun, berbagai sumber seperti ahli sejarah Heo-gyun menulis dalam bukunya bahwa dia melihat Gangneung Danoje pada tahun 1603. Ada juga pihak yang menyebutkan, festival Danoje berakar dari Cina (Duan Wu).

Belakangan, festival yang diselenggarakan oleh masyarakat Korea berbeda karena memasukkan unsur-unsur budaya asli Korea. Bahkan Yonhap menyebutkan, festival ini berusia 1000 tahun. Namun, di era modern, festival ini digelar secara rutin sejak tahun 1965. (BERSAMBUNG)

About Syah Sabur

Penulis, Editor, Penulis Terbaik Halaman 1 Suara Pembaruan (1997), Penulis Terbaik Lomba Kritik Film Jakart media Syndication (1995), Penulis berbagai Buku dan Biografi