Masih banyak jeram-jeram potensial di bagian hulu Sungai Kelara yang layak diangkat ke panggung nasional. Jeram’-jeram dan arus deras yang indah, dengan view eksotik khas pedalaman itu antara lain membentang di Kecamatan Turatea meliputi Desa Mangepong, Desa Langkura, Desa Bontomatene, dan Desa Jombe.
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
Seide.id 15/02/2023 – Indonesia sebagai negeri kepulauan dan sekaligus zamrud khatulistiwa, juga dijuluki sebagai negeri seribu gunung dan seribu sungai. Dari kehijauan hutan di ceruk-ceruk gunung itu mengalir turun sungai-sungai alami yang jernih, nerliku-liku mengisi lembah sebelum kemudian bermuara di pantai-pantai pulau dimana sungai-sungai itu mengalir menaearkan kehidupan.
Satu dari sekian banyak sungai milik Indonesia itu adalah sungai Kelara di Kabupaten Jeneponto, cuma sekitar tiga jam bermobil dari Makassar, Ibukota Sulawesi Selatan. Berhulu di kawasan Pegunungan Lompobattang, mengalir sepanjang sekitar 50 Km, sungai Kelara bermuara di Laut Flores.
Di satu ketinggian tebing aliran Sungai Kelara itu minggu lalu, persisnya di dekat Bendungan Karalloe, puluhan anak muda dari berbagai kota di Sulawesi Selatan – bahkan ada yang dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara – kumpul bersilaturahim di tenda-tenda nyaman kedap hujan kedap serangga, dipagari kendaraan-kendaraan offroad yang membawa mereka dan perlengkapan outdoor avtivity dari daerah tinggal masing-masing.
“Kami para pegiat alam, khususnya aktivitas olahraga wisata arus deras, yang sedang coba mengangkat potensi dan keindahan Sungai Kelara ke publik lebih luas,” ungkap Agustinus Lamba, master-dayung arus deras yang menggagas acara silaturahim sungai Kelara ini.
Diperkenalkan oleh kelompok penempuh rimba dan pendaki gunung Wanadri asal Bandung, saat digelar Citarum Rally 1975 di Sungai Citarum – Jawa Barat, ‘arus deras’ merupakan sebutan awal untuk kegiatan arung jeram sungai menggunakan rakit (rubber boat, kayak/kano, atau pun alat pengapung lainnya). Betapa pun istilah arung jeram (white water rafting) sudah dikenal luas, tapi tetap ada aktivis-aktivis sungai deras berjeram-jeram yang bertahan menggunakan istilah ‘arus deras’, sebagaimana diungkap Agustinus Lamba di Sungai Kelara.
Meliuk-liuk membelah ngarai sepanjang sekitar 50 Km dari hulunya di Gunung Lompobattang dan bermuara di pantai selatan Kelurahan Pabiringan, Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto, para pegiat arus deras di Sulawesi Selatan sudah sejak lama mengeksplorasi aliran Sungai Kelara yang selama ini mensuplai air bersih bagi kehidupan di DAS (Daerah Aliran Sungai) yang dilaluinya, dan sangat berpotensi untuk dikembangkan bagi kepentingan positif lainnya, antara lain sebagai ajang aktivitas wisata dan olahraga arung jeram.
Ada lintasan sepanjang 14 Km dari aliran Sungai Kelara yang selama beberapa tahun ini sudah dieksplorasi para aktivis arung jeram di Sulawesi Selatan dan menjadikannya sebagai ajang beraktivitas yang aman dan nyaman sesuai SOP (Standart Operation Procedure) yang berlaku dalam aktivitas yang memacu adrenalin itu. Bahkan sudah ada beberapa operator wisata arung jeram lokal yang beroperasi meng-guide wisatawan lokal ataupun mancanegara di jalur sungai yang start dari Kelurahan Tolo Kecamatan Kelara dan finish di Desa Paitana Kecamatan Turatea. Dan jalur tersebut, kawasan titik start dan titik finish, terhubung oleh jalan raya hingga memudahkan para aktivis dan wisatawan untuk mencapainya.
Menurut Agustinus Lamba, selain jalur 14 Km yang sudah jadi itu, masih banyak jeram-jeram potensial di bagian hulu Sungai Kelara yang layak diangkat ke panggung nasional. Jeram’-jeram dan arus deras yang indah, dengan view eksotik khas pedalaman itu antara lain membentang di Kecamatan Turatea meliputi Desa Mangepong, Desa Langkura, Desa Bontomatene, dan Desa Jombe.
“Untuk mengeksplorasi potensi yang belum terungkap itu, kami – gabungan aktivis arus deras Sulawesi Selatan dan aktivis arus deras se-Sulawesi umumnya, sengaja berkumpul di sini, kemping 3 hari, untuk membicarakan apa-apa potensi yang ada sekaligus rafting bateng Sungai Kelara dari bagian hulu,” ungkap Agustinus Lamba.
Selain sebagai ajang silaturahim, pertemuan itu sekaligus juga digunakan untuk memperkenalkan kehadiran IWWO (Indonesia White Water Opetator), organisasi nirlaba berbadan hukum yang berdiri sejak 28 Oktober 2022, untuk menaungi dan membantu operator/ perusahaan wisata arung jeram Indonesia dalam menjalankan usahanya secara sehat dengan mengedepankan unsur sabe & safety bagi wisatawan penggunanya.
“Siapa pun Anda, ayo datang dan singgah berwisata arung jeram di Sungai Kelara,” ungkap Agustinus Lamba yang juga merupakan pengurus inti IWWO. *
15/02/2023 PK 17:57 WIB.






