Ngesti Budoyo Tampil Gemerlap di Gedung Pewayangan Taman Mini

Membawakan lakon Kresna Duta, grup wayang legendaris asal Semarang ini tampil gemerlap, membawa semangat tokoh Ki Narto Sabdo yang terkenang karena kreasi dan inovasinya

Seide.id – Gemerlap, itulah kesan yang terasa dari grup wayang orang legendaris asal Semarang, Ngesti Pandowo  tampil di Taman Mini, Jakarta Minggu Petang. Membuka kembali panggung Gedung Pewayangan Kautaman, setelah dua tahun dilanda pandemi Covid-19, Ngesti Pandowo membawakan lakon Kresna Duta.

Tampil di ibukota merupakan kebanggaan sendiri bagi grup Ngesti Pandowo, sebagaimana juga warga ibukota pecinta wayang yang ingin menyaksikan grup legendaris Jawa Tengah di Kota Semarang ini. Pilihan lakon Kresna Duta adalah adalah ikhtiar Prabu Kresna menjaga perdamaian dan perundingan di antara Pendawa dan Astina yang hasilnya menentukan apakah perang Bharata Yudha akan berlangsung atau tidak.

Para penonton Jakarta tidak pernah menyaksikan pemain pemain awal dan masa lalu Ngesti Pandowo. Tapi yang nampak di Taman Mini adalag generasi baru, yang hampir keseluruhannya  dari kaum terididik, para sarjana seni.

Grup karawitan pengiring menampilkan gending gending yang inovatif, terus menyusun karya baru. Bernuansa “sekolahan”.

Berbeda di gedung asalnya, di Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), di Candisari, Semarang,  dengan latar belakang dekorasi wayang, di Gedung Wayang Kautaman, Taman Mini,  tampil dalam set teater. Latar belakang layar gelap dengan tata lampu khas pertunjukkan teater.  Penataan kareografi panggung juga terasa memenuhi kaidah akademis.

Semangat yang nampak di panggung dan dibawa oleh lakon Kresna Duta, memang pembaruan terus menerus, sebagaimana tokoh Ki Narto Sabdo sang maestro dari Semarang yang kondang karena pembaruan gending gendingnya.  Dalam istilah Jawa disebut gagrag anyar atau new wave.

Ngesti Pandowo yang tampil rutin sejak 1 Juli 1937, merupakan satu dari tiga perkumpulan kesenian tradisional wayang orang profesional yang bertahan di Indonesia, di samping Wayang Orang Sriwedari di Taman Sriwedari Solo  (sejak 1922) dan Wayang Orang Bharata Jakarta (sejak 1972). Ngesti Pandowo terus bertahan di usianya yang ke 85 tahun kini.

Tampil gemerlap di Gedung Wayang Kautaman Taman Mini. Dedikasi kepada seni warisan leluhur.

Di bawah kepemimpinan almarhum Ki Sastro Sabdo dan Ki Narto Sabdo, di era 1970-an, WO Ngesti Pandowo menjadi kiblat dan acuan perkumpulan wayang lainnya, khususnya dari teknik dekorasi, iringan, kostum, kareografi dan trik panggung dalam pementasannya.

WO Ngesti Pandowo mengalami kejayaan di masa Bung Karno ketika dipanggil ke istana untuk pertunjukan khusus. Ngesti Pandowo bahkan mendapat anugrah Piagam Wijayakusuma dari Presiden RI masa itu.

Di Jakarta ada Wayang Orang Bharata bertahan tampil di akhir pekan. WO Bharata menaungi seratus lebih penari, pengrawit, dan sinden lintas generasi, menampilkan pertunjukan secara rutin tiap akhir pekan. Di Solo, Pemkot terus memberikan dukungan dengan pentas tiga kali sepekan dan menetepkan lakon lakon yang dirilis.

Regenerasi di kalangan penari dan penabuh gamelan berjalan relatif lancar dibandingkan penontomnya yang kian menyusut.

Menghadirkan wayang secara berkala adalah konskwensi yang harus dijalankan oleh komunitas wayang, khususnya Senawangi (Sekretariat Wayang Nasional Indonesia), setelah UNESCO menetapkkannya sebagai warisan budaya dunia pada 2003, disusul mendapatkan Hari Wayang Nasional setiap 7 November sejak 2018.

Komunitas wayang harus memelihara kepercayaan dunia melalui badan dunia UNESCO, bahwa seni wayang di Indonesia tetap lestari, dijaga dan dikembangkan. Tak hanya wayang orang dan wayang kulit, melainkan juga wayang golek, wayang beber, wayang menak, wayang potehi dll

Regenerasi pemain wayang orang di berbagai kota berjalan relatif lancar, namun nampaknya tidak di kalangan penonton. Di semua grup dan lokasi pertunjukan terus mengalami penyusutan penonton. Para pemainnya lebih sering tampil sebagai nostalgia, dedikasi, dan perjuangan untuk bertahan, melestarikan seni budaya leluhur, ketimbang mendapatkan popularitas dan kesejahteraan sebagaimana di masa lalu.

“Bagian terberat adalah ponokawannya. Kalau pemain ngomong sendiri, penonton  nggak peduli, nggak apa apa. Tapi kalau ponokawan melucu tak ada yang tertawa itu, sedih rasanya, “ celoteh tokoh Gareng (Sumar Bagiyo) di tengah pertunjukkan. – dms

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.