Odong-odong, tak cuma wahana permainan tapi juga pelestari lagu anak, produk kreatif warga kampung di Pasar Senen, Jakarta Pusat – Foto Heryus Saputro
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
Di pucuk pohon cempaka
Burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul sepanjang hari
Dengan tak jemu-jemu
Mengangguk-angguk ia berseru
Trilili li li trilili…
Syair lagu Burung Kutilang karya Saridjah Niung yang kita kenal sebagai Ibu Sud itu, terdengar lapat-lapat dari ujung gang depan komplek rumah kami. Irama lagu anak yang populer itu langsung menyusup masuk dan tertangkap gendang telinga Naira, cucu perempuan yang sedang diajak Ibu-Bapaknya dolan ke rumah kami. Dan sebagaimana sudah kami duga, balita usia 3 tahun itu pun segera bereaksi.
“Odong-odong, Eyang…odong-adong…! Aku(h) mau naik. Ayo kejar…!” katanya seraya menarik jemari tangan saya, mengajak keluar halaman, mengejar arah suara nyanyian Burung Kutilang yang kian mendekat, bahkan kini terdengar berhenti di depan sebuah rumah. Dan rupanya…Naira bukan satu-satunya balita yang Ahad pagi itu mengejar odong-odong, sumber lagu anak Indonesia populer itu…
Entah siapa pencetusnya, ‘odong-odong’ adalah sebutan masyarakat awam di Jakarta dan sekitarnya, untuk bentuk-bentuk wahana permainan bagi anak-anak kecil yang awalnya dioperasikan dengan koin. Odong-odong umumnya tersedia di taman bermain, arkade, mal, ruang permainan hotel, bagian luar pasar swalayan dan pusat perbelanjaan diskon, atau di arena dream mollen alias kemidi puter
Odong-odong umumnya berbentuk mobil-mobilan, atau boneka kuda, ayam, kelinci, jerapah, atau moda bentuk lain yang bisa ditunggangi anak. Namun berbeda dengan mobil-mobilan yang bisa didorong dan bergerak kesana-kemari, odong-odong yang digerakkan oleh batere atau listrik bergerak statik di tempat, sekadar maju-mundur atau menganggu-angguk bagai laku boneka kuda dan wahana lain di kemidi putar.
Untuk bisa bergerak, mengangguk-angguk dan menyenangkan hati anak yang jadi penunggangnya, orang tua yang sedang ngemong anak harus membeli koin di kasir, memasukannya ke slot koin yang tersedia. Odong-odong pun jadi ‘hidup’, bergerak naik-turun maju-mundur, menghadirkan rasa gembira penungganggnya, dalam iringan lagu yang terpancar secara elektrik dari wahana odong-odong.
Itu nukil awal mula kisah kehadiran odong-odong, dan lalu kita tahu…ada banyak manusia kreatif Indonesia dalam bisnis non-konvensional. Ragam wahana odong-odong yang tadinya merupakan produk pabrikan, yang bahkan harus diimpor khusus dari negara tetangga produsen mainan anak, kini dibuat sendiri oleh anak negeri, dan bahkan dimodivikasi menjadi mix-product baru khas Indonesia
Sebuah bengkel pembuat odong odong ada di gang kampung pinggir Pasar Senen Jakarta Pusat. Berbahan fiberglass, boneka kelinci atau rangka mobil-mobilan dicetak, disemprot cat dan dipasang ke rangka gerobak semacam becak dengan pedal dan rantai penggerak roda yang tak cuma untuk penggerak odong-odong blusukan ke gang kampung, tapi juga meng’hidup’kan odong-odong tunggangan anak.
Odong-odong made-in kampung di pinggir Pasar Senen ini pula yang ditunggangi Naira dan teman-teman seumurannya. Bermain odong-odong yang bergerak karena digowes Si Abang Odong-Odong dalam tempo 5 menit gowes (cukup berkeringat Si Abang) sekali putaran, dengan bayar langsung Rp 5000, sembari mendengarkan lagu-lagu anak yang diputar lewat cassette-recorder yang menyatu di wahana itu.
Sebagaimana yang biasa digowes masuk berkeliling ke komplek rumah kami, odong-odong tak sekadar wahana bermain dan bersosialisasi para anak (balita khususnya), tapi sekaligus juga ibarat pelestari lagu anak, sebelum kelak mereka mendengarnya saat di bangku Taman Kanak-kanak.
Sudah waktunya para pencipta lagu anak juga menyosialisasikan karyanya lewat Tukang Odong-odong. ***
01/02/2022 PK 08:42 WIB






