Orang Sombong Merasa Benar Sendiri

Sekiranya semua perbuatan orang lain itu dikomentari miring dan disalahkan, lalu bagaimana kebenaran yang sesungguhnya itu? Apa karena mempunyai mulut, kita lalu bebas berbicara untuk menilai atau menghakimi orang lain?

Maaf, jika kita tidak sependapat, sehaluan, atau tidak sealiran. Kita mestinya sadar diri dan memahami, bahwa Allah menciptakan kita itu baik adanya. Jadi, sungguh salah alamat, jika mulut ini digunakan untuk menghujat dan menyakiti sesama.

Lihatlah, Allah bersedih hati melihat kelakuan kita ini. Kita dianugerahi mulut agar digunakan untuk memuji dan memuliakan-Nya. Bukan untuk saling menjelekkan atau menyakiti, melainkan agar kita berkata-kata baik dan saling mengasihi.

Hal yang tidak pantas itu terjadi ketika orang yang membela dan berjuang demi memperbaiki kehidupan sesama dituduh sebagai pencitraan, ingin jabatan, dan seterusnya.

Kita bahkan tidak peduli, prihatin, atau membelanya. Sebaliknya, kita ikut menyerang dan menyudutkan orang itu, ibarat ula marani gebug, padahal dia dicederai oleh segerombolan orang barbar di saat bulan puasa yang penuh berkah itu. Dia berani korbankan diri demi perubahan dan kebaikan negeri ini.

Kita semestinya malu hati, merasa sebagai orang beriman yang baik, tapi tidak berempati dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Bahkan, kita menghalangi dan menuduh orang lain yang berbuat baik itu sebagai kamuflase.

Ternyata, kita berbuat baik itu sekadar teori, retorika, dan lewat medsos, tapi tidak mampu mewujudkannya.

Tidak ada guna kita merasa sok hebat, suci, dan sok baik. Lebih bijak kita menjadi pribadi orang asing, kecil, dan terpinggirkan. Kita melakukan amal kasih dengan cinta yang besar di daerah kumuh, kolong jembatan,… hingga tempat pembuangan sampah.

Jauhi gembar gembor dan publikasi, tapi lakukan kebaikan itu dengan sembunyi, karena Allah melihat hati.

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang