Pahit

Seide Ayahku percaya, bahwa tumbuhan apa pun yang bisa dimakan begitu saja atau diolah menjadi sayur, yang rasanya pahit, pasti mengandung obat. Atau paling tidak menyehatkan karena mengusir racun dari tubuh kita.

Ada juga gurauan norak-norak lucu, atau lucu-lucu norak tentang pahit dan pedas. Jika kita doyan sambal, maka teman akan berkomentar: “Doyan banget sambel,…apa hidup lo kurang pedes?”. Atau yg doyan tumis pare akan ada komentar: “Apa hidup lo kurang pahit?!”. Eeh,…hla aku kok, doyan dua-duanya,…tumis pare yang pedaass.

Apakah tumbuhan pahit yang paling akrab dengan masakan kita?
Aku cuma ‘berhasil’ mengingat-ingat,
ada 2 ,…daun pepaya dan pare.

Istriku, setiap habis masak atau jika kami makan buah-buahan, suka menyuruhku melempar biji-bijiannya di pot-pot yang ada di halaman mungil rumah kami. Biji-bijian yang paling umum biasanya tomat, cabe, pepaya dan pare. Biji-bijian itu ada yang survive alias tumbuh, ada yang kering dan mati.

Hari-hari ini ada beberapa tumbuhan yang tak kami kenal muncul, selain – tentu saja – pare, cabe dan pepaya yang kami kenal.

Pohon pare, hanya berbuah 2 butir saja. Ketika sudah agak lumayan besar dan hendak aku petik tapi urung,…sayang rasanya.
Untuk dimasak ya tanggung, cuma dua butir. Lagipula kami senang melihatnya, sampai pare itu kuning dan ranum.

Aah, seranum-ranumnya pare,…tetap saja pahit ‘kali yee..?!

(Aries Tanjung))

Mas Wendo, Aji dan Alex