Foto : Zoltan Tasi / Unsplash
Secara menggemparkan di seluruh dunia, ada ketakutan akan penyakit dan pandemi saat covid 19 menyerang. Trauma masih tersimpan hingga kini, teristimewa bagi pribadi yang terkena virus dan keluarganya menjadi korban.
Sebelum.covid19, ada beberapa penyakit menakutkan seperti kanker, HIV Aids dan Serangan Kanrung.
Setiap orang memiliki prinsip, sikap dan cara menghadapi sakit, penderitaan dan kematian. Ada seorang sahabat, aktivis dan pegiat literasi, almarhum Helena Dewi Justicia, beberapa bulan lalu meninggal setelah sekian lama menderita kanker. Dia mengalami dan mengajdapi vonis penyakit itu dengan tenang, senyum dan masih berjuang berkarya selama sakitnya, hingga akhirnya berpulang dalam senyum. Ada hikmah yang ditinggalkan yakni soal cara pandang dan prinsip hidup dalam menghadapi penderitaan, kehidupan dan kematian. Sebagai kenangan dan doa, saya menuliskan sajak:
Memotret Berlian Sanubari – In Memoriam Helena Dewi Justicia
Tanpa Kekhawatiran
Bersama nelayan dan biduknya
dia bersahabat dengan samudera
Bersama para pencinta alam
dia berkelana di belantara dan mendaki puncak gunung
Bersama pada peselancar
dia bersahabat dan bermain dengan ganasnya ombak
Bersama pilot dan penerjun
dia akrab dengan ketinggian
Rupanya,
tanpa khawatir itu
pelajaran sejak balita
tanaman benih keyakinan di jiwa
tumbuh dirawat dalam sanubari
Kelemahan itu berkah kodrati
Tantangan itu kekuatan Ilahi
Sakit derita itu obat
Kesulitan problema itu bumbu
Kesenangan kemudahan itu hadiah
Ketika mata melihat indah
Ketika pikiran sebening embun
Ketika hati jadi mata air
Seluruh hidup dan alam semesta
adalah tarian indah Sang Maha Indah
Benih sanubari tumbuh menjadi
pohon keyakinan berbuah lestari
Hidup itu anugerah Pencipta
untuk disyukuri dan berbagi
untuk memberi dan berguna
untuk menulis amal kasih
untuk melukis dan menari
Bukan
untuk kenikmatan diri sendiri
untuk mengeluh dan menyakiti
Apalagi marah berontak memusuhi
sesama dan Yang Ilahi
Dan
ketika divonis sakit kanker
dinyatakan untuk dirinya
Secara fisik alami kelemahan
dicemaskan hidupnya oleh sesama
Dia justru menghibur
dan membagi kekuatan hati
memberi senyum makna sanubari
Buah pohon keyakinan jiwa
“Hidup harus disyukuri
Sakit derita bagian hidup
Hidup dan mati milik Allah
Allah itu Maha Cinta
Allah itu Maha Indah
Sakit itu juga cinta
Mati adalah kebahagiaan
karena kembali bersatu dengan Allah
Sang Pemberi hidup”
Helena Dewi Justicia
Telah pulang selamanya
dari Allah kembali ke Allah
dari cinta pulang ke cinta
Nafas syukur bersemi
dari berkah iman di hati
Senyum damai sahaja
terpatri dalam waktu
ditulisnya tanpa ragu
untuk kita, aku dan engkau
Kupotret sebuah berlian sanubari
bersinar indah lestari
dalam hidup Helena Dewi
Anugerah Sang Ilahi
untuk meraih makna sejati
bagi kita segenap insani
Simply da Flores Harmony Institute
Belajar dari Pengalaman Iman Para Pilihan Allah – Menulis Kehidupan 81






