Pike (dieja Paik) ya, bukan Mike (dieja Maik). Pike itu perempuan, Mike itu umumnya lelaki karena (biasanya) panggilan dari Michael. Pike itu nama belakang atau nama keluarga. Sedangkan Mike itu “nama sayang” Michael. Michael biasanya nama depan. Seperti Michael Jackson. Meski ada juga orang terkenal dengan nama belakang Michael. Goege Michael, misalnya.
Pike itu aktris, lengkapnya Rosamund Pike. Sebaikya Rosamund kita panggil apa? Rosa saja ya. Kalo Samund kok kayak centeng dengan kumis melintang seperti penyamun?
Rosa kita amati dengan seksama, karena cantik dan ektingnya ciamik. Sementara mike, juga perlu diperhatikan dengan seksama, malah bukan cuma dengan mata, tapi juga dengan telinga, (biasanya diketuk-ketuk dengan jari telunjuk), karena jika kita sudah ngoceh panjang-lebar, ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, ternyata mike-nya mati. “Kan tengsin, kata anak milenial. Kalo kata orang jadul, tengsin itu singkatan dari teng-bensin. Tapi kalo kata anak milenial, tengsin itu… malu-malu gimanaaa. Seperti tertangkap basah gitu. Bener gak sih?
Puluhan tahun lalu, aku dan seorang teman (Ernawan B Prianggodo), “ditantang” oleh seorang pemred sebuah majalah remaja untuk menggambar di edisi khusus majalah itu. Karena cita-cita kami memang menjadi “tukang gambar”, maka tanpa ragu kami berkata “Oke” hampir berbarengan: sanggup!
“Bener, nih? Ini sekitar 60-70 persen… isinya gambar, lho. Dan, kalian hanya berdua, yang membuat ilustrasi”
Itu pun:…”Siaaaap!” sambut kami serempak. Ah, sayang aku tak punya dokumentasi majalahnya. Edisi khusus itu berisi para ilmuwan, para pionir, para penjelajah, para petualang pelopor, para penemu… demi kebaikan umat manusia di dunia. Salah-satunya adalah: Marie Curie. Tapi, aku lupa, siapa yang menggambar Marie Curie. Aku atau Er.
“Ini, mau blanyongan tentang apa sih?”
“Tentang Radioaktif!”
“Lhooo?!”
“Woleess,…santaaiii, dunsanak,…jangan bete dulu doong.”
Terus terang, aku agak belakangan “ngeh” terhadap aktris yg bernama Rosamund Pike. Anakku kerap menggoda: “Katanya ayah movie-freak.”
“Itu duluuu.” Mungkin, aku pernah, kerap atau sekelebat melihat wajahnya, di suatu film, tapi tak tahu namanya. Barulah tatkala menonton film Gone Girl, ketika dia beradu akting dengan Ben Afleck, aku memperhatikan dengan seksama. Ternyata akting Pike, sungguh ciamik. Menurutku, Ben Afleck (yang “telanjur” ngganteng, hehe), aktingnya jadi standar saja, jika tak mau dibilang kebanting.
Film ini berkisah tentang seorang wanita yang dengan cerdiknya memposisikan diri seolah-olah sebagai istri yang dianiaya oleh suaminya.
Sementara, kerabat, tatangga yang mengetahui bahwa sang suami orang baik-baik, berangsur-angsur, perlahan tapi pasti berbalik tak percaya. Mereka menduga bahwa sang suami adalah orang baik itu kamuflase saja. Hilangnya sang istri, semakin memperkuat dugaan itu. Sebuah film drama suspense nan unik. Dan akting Rosamund Pike, benar-benar ciamik.
Kemarin, sambil mencorat-coret sketsa di kertas, kadang mencuri-curi melihat tv, sekelebat aku melihat awal biopic Radioactive. Aku tentu langsung teringat Marie Curie. Ah, benar saja, ini biopic tentang Marie Curie. Lalu, aku bergumam, jika “disuruh” memilih siapa yang berperan sebagai Marie, aku langsung teringat: Rosamund Pike atau Kate Blanchet. Bukan Anna Hathaway, Agelina Jolie, apalagi Sandra Bullock.
Benar saja. Yang memerankan Marie, ternyata adalah… Rosamund Pike, bukan Kate Blanchet. Kate jika berakting juga ciamik. Tapi, Pike, dari sisi postur dan tirus wajahnya, menurutku lebih mirip Marie daripada Kate.
Marie Curie adalah wanita ajaib. Dia ilmuwan pertama yang meraih Nobel, dan satu-satunya ilmuwan yang meraih dua Nobel. Kimia dan Fisika!
Film diawali dengan Marie ketika kuliah di Sorbone Prancis dan berkenalan dengan Pierre Curie, ilmuwan Prancis. Pierre kelak menjadi suaminya. Masa kecil dan remaja Marie, yang bernama Marie Salomea Slodowska ,di Polandia nan memprihatinkan, orangtua Marie yang berprofesi guru dan hidup pas-pasan, sehingga sengsara, kurus, dan makan seadanya, tak dikisahkan.
Adalah Pierre Curie (Sam Riley) sesama ilmuwan yang selalu menyemangati dan mengajak Marie “pindah” ke laboratoriumnya untuk melakukan penelitian. Ketika hubungan dua orang ilmuwan ini sudah semakin akrab, Pierre mengajak bekerja sama melakukan penelitian.
Berkatalah Pierre: “Laboratoriumku, boleh jadi bukan laboratorium besar dan mewah. Tapi, lumayanlaah. Paling tidak sedikit lebih lengkap dan lebih baik daripada laboratoriummu yang seperti kandang ayam ini.” Marie tak tersinggung, mereka malah tertawa-tawa.
Marie tampak kurus dan pucat karena terlalu fokus dan begitu intens – meski pun tentu saja- bahagia, dengan penelitiannya. Marie berkata kepada Pierre yang begitu penuh perhatian, baik dalam penelitian, mau pun kehidupan pribadinya. Marie, tentu mengendus gelagat itu.
“Tolong… jangan coba-coba mencintaiku,” kata Marie suatu ketika. “Nanti kau akan kecewa. Sebab waktuku pasti akan habis di laboratorium dan penelitianku.”
Meski begitu, kecantikan dan terutama kejeniusan Marie, sebagai sesama ilmuwan, membuat Piere tak dapat mengelak dari kehendak alam, yaitu… cinta. Mereka lalu menikah.
Setelah menikah, setelah namanya menjadi Madame Curie dan mendapat dukungan penuh dari suaminya… kejeniusan Marie tak terbendung. Penemuan Marie diakui oleh para ilmuwan Prancis.
Namanya mulai dibicarakan. Diminta menjadi dosen di banyak Univesitas. Reputasi, dedikasi, dan kejeniusannya diperbincangkan di kalangan ilmuwan dengan takjub hormat. Di tengah-tengah kegembiraan dan kebahagiaan itu, suaminya tewas dalam suatu kecelakaan lalu lintas.
Marie Curie, wanita jenius awal abad ke-19, yang sangat berjasa bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, penemu radioktif, satu-satunya peraih dua Nobel, di tengah dua orang putrinya yang berangkat dewasa dan tampaknya juga akan mengikuti jejak ibunya menjadi ilmuwan, meninggal pada usia 66 tahun karena anemia akibat penelitian-penelitiannya…
Ilustrasi: Rosamund Pike
Akrilik di atas kertas artpaper bekas kalender, 45x30cm.






