Pohon bambu ternyata memiliki banyak kegunaan. Mulai dari makanan hingga kerajinan tangan.
Hal itu sudah di buktikan ibu- ibu di Kota Bengkulu.
Penulis : Debbi Safinaz
Dengan kreativitas yang mereka miliki, mereka bisa mengolah tanaman bambu ini menjadi kuliner rebung yang mantap dan menggugah selera.
Dengan kenikmatan yang dirasakannya kuliner ini bisa menembus pasaran ekspor luar negeri seperti Jepang dan sejumlah negara di Eropa.
Masyarakat yang berada di sekitar Bukit Barisan di Sumatera bagian Selatan, cukup berbahagia karena di sana banyak terdapat pohon bambu.
Selain dapat diolah menjadi bahan makanan, kerajinan dan bahan baku papan.
Pohon Bambu termasuk tanaman yang sudah cukup dikenal di Indonesia sejak ratusan tahun lalu.Termasuk di wilayah Bukit Barisan di Sumatera bagian Selatan. Jambi, Bengkulu dan Lampung.
Di semua wilayah ini terdapat 159 species bambu yang ada di Indonesia. Jejak sejarah bambu ini sudah ada dalam kehidupan masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu.
Meskipun tidak sama dengan tumbuhan pohon kopi, di wilayah ini bambu bukan hanya ditemukan di hutan, kebun tapi juga ada di halaman rumah warga. Bambu juga tak hanya digunakan untuk rakit dan angkutan. Namun, bisa juga dibuat untuk bahan makanan.
Menurut Sri, warga Desa Tebat Pulau, Bengkulu, bambu bisa dijadikan Lemaeh ( Lema ). Bahannya dari rebung ( bambu yang difermentasikan ) bersama ikan.
Cara membuatnya sangat mudah dan sederhana. ” Kita ambil bambu di Rejang Lebong bernama bambu seri — berwarna hijau, berukuran besar dan berkulit tipis — Bambu kemudian dicincang, dicampur ikan air tawar bersisik seperti ikan emas, mujahir atau sepat.
Lalu,” campur adonan tersebut jadi satu. Selanjutnya adonan disimpan dalam sebuah wadah yang dilapisi daun pisang dan tutup rapat. Proses fermentasi ini selama tiga hari,” ujar Sri.
Saat dimasak, biasanya Lemaeh dicampur dengan bumbu cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, santan kelapa, ikan, talas sedikit gula dan garam. Waktu mencicipi nya Lemaeh bisa dicampur dengan petai atau jengkol.
Setelah siap dimasak, Lemaeh dapat dijadikan lauk untuk perjalanan dan tahan lama dimasukan ke dalam bambu.” Ketahanannya bisa mencapai seminggu,” imbuh Sri.
Rasa Lemaeh adalah asam, pedas, manis, gurih serta sensasi rasa yang beda.
” Kami dengar makanan Lemaeh sudah di ekspor dalam bentuk kaleng,” kata Pramasty Ayu Koesdinar dari AKAR, sebuah lembaga non pemerintah yang mendampingi sejumlah desa di Hutan Lindung Bukit Daun dalan Program Hutan Kemasyarakatan ( Hkm ).
” Sebab bahan baku masih banyak di sini, bambu dan ikan. Jika ini terus berjalan baik, maka masyarakat akan menjaga tanaman bambu dan sungai serta danau sebagai penghasil ikan,” ujar Koesdinar.
Menurut Koesdinar, masyarakat sangat baik menjaga bambu tanaman di sekitar Hutan lIndung. Bukit Daun maupun sekitar Hutan lainnya. Selain mengandung oksigen, bambu juga bisa menampung air, menahan tanah longsor hingga meredam polusi.
Selain makanan Lemaeh, dan anyaman bambu. Potensi bambu yang lain yakni ini penjualan ekspor batang bambu. Beberapa negara seperti Jepang dan Eropa. Bambu sudah diolah menjadi bahan baku papan. Disinyalir lebih kuat dan penampilannya juga mewah.
Begitulah kegiatan ibu-ibu di sini. Jika perempuan didorong membuat sumber ekonomi baru, maka konflik masyarakat dengan pemerintah terhadap hutan akan terhindar atau terkurangi
” Sebab bahan baku masih banyak disini, bambu dan ikan. Jika ini terus berjalan baik, maka masyarakat akan menjaga tanaman bambu dan sungai serta danau sebagai penghasil ikan,” ujat Koesdinar.
Menurut Koesdinar, masyarakat sangat baik menjaga bambu tanaman di sekitar Hutan lIndung. Bukit Daun maupun sekitar Hutan lainnya.
Selain mengandung oksigen, bambu juga bisa menampung air, menahan tanah longsor hingga meredam polusi.
Selain makanan Lemaeh, dan anyaman bambu. Potensi bambu yang lain yakni ini penjualan ekspor batang bambu. Beberapa negara seperti Jepang dan Eropa. Bambu sudah diolah menjadi bahan baku papan. Disinyalir lebih kuat dan penampilannya juga mewah.
( Sumber : Mongabay.co.id )






