Inflasi terjadi di berbagai negara karena dampak krisis pandemi corona dan perang di Ukraina. Tapi mengapa inflasi di Turki sampai melebihi 70 persen?
Seide.id – Perang Ukraina dan kenaikan biaya energi memang menyebabkan kenaikan harga hampir di seluruh dunia. Namun inflasi di Turki bahkan sudah tingi sebelum konflik Ukraina pecah. Pada bulan Mei menurut statistik resmi tingkat inflasi sudah mencapai 73,5%, hampir sepuluh kali lebih tingi dari angka inflasi di Jerman pada bulan yang sama.
Kelompok Riset Independen Inflasi Turki ENAG bahkan menyebutkan, angka sebenarnya masih jauh lebih tingi lagi dari angka resmi yang diumumkan pemerintah. Mereka memperkirakan inflasi mungkin mendekati kisaran 160 %. Lembaga statistik resmi Turki TUIK sebagai reaksinya mengadukan ENAG ke kejaksaan, dengan tuduhan menyebarkan angka-angka yang sengaja dirancang untuk merusak reputasi TUIK.
Perekonomian Turki memang mengalami masa-masa bergejolak jauh sebelum Rusia menginvasi Ukraina. Upaya pemerintah untuk meredam inflasi tidak menghasilkan apa-apa. Pemerintah misalnya menaikkan upah minimum secara drastis, tapi itu hanya mengakibatkan harga-harga naik lebih tingi lagi.
Harga bahan makanan naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnyaHarga bahan makanan naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya
Dipicu kenaikan harga gas dan bahan bakar
Setelah perang pecah di Ukraina, harga-harga makin melonjak, terutama yang berkaitan dengan energi dan bahan bakar. Menurut TUIK, biaya transportasi, yang juga mencakup harga gas dan solar, naik 224% pada Mei 2022 dibandingkan Mei 2021. Karena Turki memenuhi hampir semua kebutuhan energinya dengan impor, negara itu sangat terpukul dengan kenaikan harga minyak dan gas di pasaran dunia.
Bersamaan dengan itu, harga makanan dan minuman non-alkohol juga naik hampir dua kali lipat selama setahun terakhir. Inflasi pada harga makanan dan minuman mencapai 91,6% pada bulan Mei 2022. Akibatnya, banyak warga di Turki mengalami ketakutan eksistensial yang sangat nyata.
Ekonom Murat Birdal dari Universitas Istanbul, menyalahkan Bank Sentral Turki terkait inflasi tinggi ini. Juga sejumlah pakar keuangan mendukung tuduhan Birdal, bahwa Bank Sentral tidak bertindak secara independen. Untuk meredam inflasi yang melejit tingi, seharusnya Bank Sentral menaikkan suku bunga. Namun suku bunga tetap dibiarkan rendah karena pemerintahan Erdogan menghendakinya. Murat Birdal mengatakan, tingkat inflasi di Turki bisa mencapai angka tiga digit pada akhir tahun.
Presiden Erdogan justru menegaskan, inflasi adalah dampak dari suku bunga yang terlalu tingi, suatu hal yang bertentangan dengan teori ekonomi yang selama ini jadi pegangan bank-bank sentral lainnya. Karena pimpinan Bank Sentral membantah argumennya, Erdogan sampai beberapa kali mengganti pemimpin Bank Sentral dan akhirnya menempatkan kerabatnya di posisi penting itu.
Erdogan juga mengganti kepala TUIK, yang menghitung tingkat inflasi tinggi pada awal tahun. Dalam sebuah rapat umum akhir pekan lalu, Erdogan kembali menyatakan tekad tidak akan menaikkan suku bunga, bahkan kemungkinan akan menurunkannya lagi.
Selanjutnya, Politik ekonomi salah arah






