Serangan Rusia ke Ukraina Berdampak pada Harga Mi Instan di Seluruh Dunia

Dua negara yang berperang mengekspor sepertiga gandum dunia menyebabkan rantai pasokan terganggu dan berdampak pada kenaikan harga mie instan di seantero dunia.

Seide.id – Dampak dari perang Rusia dan Ukraina dapat dirasakan sampai ke ujung dunia, termasuk Indonesia, di mana harga mi instan diprediksi akan naik bila perang terus berlanjut.

Pasalnya, Ukraina dan Rusia yang tengah berperang – memproduksi sepertiga ekspor gandum dunia.

Dengan ditutupnya pelabuhan Ukraina dan tidak adanya petani karena sebagian besar dipaksa untuk ikut berperang, rantai pasokan gandum dunia pun ikut terganggu.

Awal Maret lalu, ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan harga mi instan di Indonesia akan naik akibat perang.

“Kalau kita makan mi ayam atau mi instan itu juga 100 persen bahan bakunya diimpor,” katanya dalam sebuah webinar (01/03).

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan sementara ini konflik kedua negara tersebut belum menimbulkan “dampak signifikan” pada persediaan gandum ataupun harga mi instan dalam negeri.

Kasan mengatakan Indonesia masih memiliki persediaan gandum sebanyak 1,2 ton yang akan bertahan sampai dua bulan ke depan.

Menurutnya, kenaikan harga mi instan sudah diprediksi, namun nilainya tergantung pada seberapa lama perang akan berlangsung.

“Potensi kenaikan harga mi instan akan jauh lebih kecil jika intensitas invasi tersebut tidak berlangsung lama,” ujarnya.

Menurut World Instant Noodles Association, atau asosiasi mi Instan dunia, kenaikan harga juga akan terjadi di Jepang, yang termasuk lima negara yang mengonsumsi mi instan terbanyak di dunia.

“Harga bahan, termasuk gandum dan kelapa sawit sudah naik dan pabrik besar di sini sudah memutuskan untuk menaikan harga lima sampai 12 persen,” ujar juru bicara organisasi tersebut.

Dari negeri Kanguru, ABCNews melaporkan, warga Australia berada di antara 19 negara pemakan mi instan terbanyak.

Mengutip World Instant Noodle Association pada tahun 2020, 440 juta mi instan dikonsumsi di Australia.

Aisha Wilson, mahasiswi Queensland University of Technology mengatakan keluarganya selalu membeli satu kardus mi instan berisi 30 bungkus untuk sebulan.

“Saya tidak bisa memasak. Masakan saya seringkali adalah mi instan yang ditambahkan daging atau salad,” ujar Aisha.

“Cepat dan sederhana sekali, butuh 10 menit saja di dapur. Gampang.”

Sebagai penggemar mi instan, Aisha terkejut mendengar bahwa perang di Ukraina akan menaikkan harga produk tersebut.

“Tidak pernah terbayang apa dampak dari kejadian seperti ini,” katanya.

“[Tapi] sebagai seseorang yang sering makan mi instan, pada akhirnya, saya lebih mengkhawatirkan kondisi warga di Ukraina, Rusia, dan negara sekitarnya.”

Selanjutnya, harga sudah naik 15-20%

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.