(83) RESI GOTAMA BERGUNCANG
Melihat kelakuan adik-adiknya yang semakin kasar dan beringas, Dewi Anjani berlari ke arah ayahnya, Resi Gotama sambil menjerit keras-keras.
“Romo, tolong Anjani Romo?!”
“Ada apa Anjani?”
“Aku dikejar-kejar oleh Guarsa dan Guarsi.”
“He, Guarsa! Dan kau juga Guarsi! Ada apa ini? Mengapa engkau mengejar-ngejar kakakmu seperti itu?”
“Romo Resi tidak adil?” “Tidak adil bagaimana?”
“Kakak Anjani diberi permainan yang bagus seperti itu, sedangkan kami berdua yang setiap hari selalu membantu Romo Resi bekerja di ladang, tidak diberi permainan seindah apa yang Romo Resi berikan kepada kakak Anjani!”
“Anjani, yang kau bawa itu permainan apa?” “Ini permainan pemberian Kanjeng Ibu namanya Cupu Manik Astagina.”
“Cupu Manik Astagina?”
“Iya Romo?!”
“Yang memberi ibumu?”
“Iya, Romo.” “Coba, Romo ingin melihatnya.”
“Ini, Romo. Tapi jangan diberikan kepada adik-adikku Guarsa dan Guarsi.”
Setelah Cupu Manik Astagina diberikan oleh Dewi Anjani kepada Resi Gotama, seluruh tubuh Resi Gotama berguncang hebat hatinya panas selaksa terbakar api membara.
(84) DEWI WINDRADI MENJADI TUGU BATU
“Anjani, ini cupu bukan sembarang cupu. Ini cupu ajaib milik para Dewa. Hanya para Dewa yang memiliki Cupu ajaib seperti ini,” kata Resi Gotama dengan tubuh gemetar.
“Oh, milik Dewa!” Kata Guarsa.
“Ya, Kajang, milik Dewa!”
“Kalau begitu berikan saja kepada saya Romo!” Kata Raden Guarsa.
“Ya, berikan saja kepada saya Romo!” Kata Raden Guarsi.
“Cukup! Diam, Guarsa dan Guarsi!”
“Kita harus diam dulu Kakang!”
“Iya, Dhimas!” “Anjani, benarkah ini pemberian ibumu?!”
“Iya Romo, cupu ini pemberian dari ibu.”
“Windradi!!!!” Seru Resi Gotama memanggil istrinya.
“Iya sang Resi.” “Aku mau bertanya Windradi. Jawablah dengan jujur! Cupu Manik Astagina ini pemberian dari siapa Windradi?! Karena selama aku menjadi suamimu aku belum pernah memberikan barang semacam ini kepadamu Windradi?!
Dewi Windradi hanya diam seribu bahasa, tak menjawab sepatah katapun. Ia sangat ketakutan. Iya tahu bahwa suaminya sedang marah besar. Iya tak berani memandang wajah suaminya. Ia hanya tertunduk pasrah penuh ketakutan.
“Windradi, mengapa diam saja? Aku ini suamimu, Windradi. Tidakkah engkau bisa memberi sepatah kata jawaban pun kepada suamimu ini Windradi???” Dewi Windradi tetap mengunci mulutnya. Tak sepatah kata pun keluar dari dalam mulutnya. Resi Gotama semakin marah. “Windradi! Aku tahu cupu Manik seperti ini yang memiliki hanyalah para Dewa. Berarti engkau mengkhianati aku Windradi. Windradi, engkau ditanya kok diam saja seperti tugu batu, Windradi!” Seketika itu juga, Dewi Windradi yang cantik jelita itu berubah wujud menjadi sebuah tugu batu di hadapan suaminya, Resi Gotama dan ketiga anak-anaknya.






