Tikungan Indah Doktor Salim Said

Salim Said In Memoriam01

Rombongan wartawan Indonesia, H. Rosihan Anwar, Dr. Salim Said, H. Ilham Bintang saat melakukan audensi ke Walikota Los Angeles, Tom Bradley. Jika merujuk pada latar belakang pendidikannya, Salim Said seharusnya menjadi aktor atau sutradara. Ia pernah belajar di ATNI, sebagaimana alm. Teguh Karya (Steve Liem) dan Slamet Rahardjo. Tapi dia melakukan tikungan yang indah dalam perjalanan karirnya, dengan menjadi wartawan, pakar militer, dan diplomat. Foto foto : Dok. H. Ilham Bintang.

OLEH DIMAS SUPRIYANTO

SIANG kemarin senior saya di media, H. Ilham Bintang mengirim foto kami saat melakukan lawatan ke Amerika, tahun 1991 lalu, bersama H. Rosihan Anwar dan Dr. Salim Said – keduanya kini almarhum. Sebelumnya Bang Ilham menanyai saya, apakah masih menyimpan foto foto perjalanan ke AS dan saya menyatakan hilang. Karena foto itu saya buat dengan film negatif dan koleksi negatif saya rusak dan entah dimana. Saya dokumentator yang buruk. Pak H. Rosihan Anwar pernah mengomeli saya, unorganized karena kamar tempat menginap saya berantakan.

Bang Ilham yang sedang berada di Australia kemudian pulang dan kemudian mencari lagi koleksinya dan ketemu. Berbagi foto dengan saya di WA. Jurnalis Bintang Grup, boss PH Infotainment itu memerlukan foto foto kami, karena sedang menulis memoar tentang almarhum Salim Said. Dan seperti saya, tulisan sering lahir dari lembaran foto. Melihat foto, mengalir deras kenangan pada pengalaman masa lalu di foto itu, dan menjadi ide untuk ditulis dan jadi bahan tulisan.

Perjalanan ke Amerika Serikat dengan para senior itu, sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Membekas dalam ke dalam hidup dan karir saya. Berhari hari dengan jurnalis kawakan yang kaya ilmu dan ditempa pengalaman. Siapa yang mengingkari ketokohan H. Rosihan Anwar dan Doktor Salim Said? Juga H Ilham Bintang. Selain mengiringi penayangan film Bibir Mer (Arifin C Noor,1991) , juga audensi dengan Walikota Los Angeles Tom Bradley, mengunjungi Universal Studio dan Las Vegas.

Tanpa mengurangi rasa hormat, dengan gelar lengkapnya; Prof. Dr. H. Salim Haji Said, M.A, untuk waktu yang lama, saya mengenalnya sebagai Dr. Salim Said saja. Dan dengan gelar doktor saja sudah membuat saya sangat hormat padanya. Dia merupakan salahsatu senior dan guru saya di jurnalistik dengan pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa. Dia menguasai teori dan praktik dan mengabadikan ilmunya dalam buku.

Kita mengenangkan banyak akademisi yang produktif menulis buku teks dan teori saja. Mereka adalah guru besar di kampus kampus. Dan banyak praktisi lapangan piawai yang sedikit menulis buku, wartawan maupun politisi. Doktor Salim Said adalah dua duanya. Dia praktisi, teoritikus dan mencurahkan gabungan pengalaman keduanya dalam buku.

Saya terkenang salahsatu bab dalam bukunya, ketika menulis tentang militer Indonesia. Tak semata membuka kronik dan peta penguasa militer kita, namun juga pengalaman pribadi mewawancarai sejumlah jendral, termasuk LB Moerdani, jendral yang sangat disegani pada masanya, lantaran galak, tegas, dan juga jarang senyum. Di buku itu, Dr. Salim Said menulis, “Sebenarnya saya takut ketemu Bapak, ” akuinya. Tapi menjumpai tokoh konci penting bagi wartawan dan penulis buku militer. Sampai keduanya – di antara jurnalis, pengamat politik dan jendral lapangan itu – bisa menjalin hubungan akrab.

Dr Salim Said menggambarkan Jendral Benny Moerdani sebagai seorang patriot, nasionalis, seorang katolik abangan, yang bisa masuk Kabah di Tanah Suci, mendampingi lawatan Presiden Suharto. Karena sangat terobsesi melindungi bossnya. “Dalam melindungi Presiden, dia total, tak ada kompromi” katanya. Bahkan Jendral Benny sempat bikin kesal Ibu Negara, Ibu Tien (Suharto), karena terlalu banyak aparat yang berjaga di sekitar rumahnya.

Dalam upaya melindungi Suharto, dia harus ikut “mengasuh” anak anaknya, tapi kemudian melapor agar anak anaknya jangan terlalu jauh dalam bisnis karena bisa merusak reputasi Suharto sebagai Presiden RI. Tak terima dengan masukan itu, LB Moerdani disingkirkan dari kekuasaan.

Belakangan, ucapan Benny benar, dan Suharto mengaku salah. Anak anak Suharto merusak citra bapaknya.

JIKA merujuk pada latar belakang pendidikannya, Dr Salim Said seharusnya menjadi aktor atau sutradara. Ia pernah belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia, sebagaimana Teguh Karya (Steve Liem) dan Slamet Rahardjo yang dikelola Alm. Usmar Ismail dan Alm. Drs. Asrul Sani sebagai direkturnya. Dia pernah main dan menyutradarai beberapa pertunjukan teater.

Tapi dia melakukan tikungan yang indah dalam perjalanan karirnya, dengan hijrah menjadi wartawan di Harian Angkatan Bersenjata dan Majalah Mingguan Berita TEMPO dan kemudian menjadi sosiolog dan cendekiawan. Dari ATNI dia melanjutkan kuliah di jurusan Sosiologi UI hingga 1976. Kemudian meraih gelar doktor di Ohio State University, Columbus, Amerika Serikat, untuk ilmu politik. Lalu dikenal sebagai pakar militer.

Di usianya yang sudah lanjut, dia menjadi diplomat. Dia dipercaya dan ditunjuk oleh Presiden SBY menjadi Duta Besar Indonesia untuk Republik Ceko (2006–2010).

Trio wartawan senior 1991 – Dr. Salim Said, H. Rosihan Anwar dan H Ilham Bintang.

Prof. Dr. H. Salim Haji Said, M.A meninggal dunia di usia 80 tahun pada 18 Mei 2024, di Rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dia tetap dikenangkan sebagai tokoh pers dan perfilman nasional, akademikus, cendekiawan, Guru Besar Ilmu Politik dan mantan Duta Besar Indonesia. Dia menguasai teori dan praktik untuk banyak bidang yang ditekuni dengan segala totalitasnya.

Tokoh kelahiran Pare Pare, Sulawesi Selatan, 10 November 1943 ini menulis buku Profil Dunia Film Indonesia (1982), Militer Indonesia dan Politik: Dulu, Kini, dan Kelak (2001), Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013), Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto (edisi diperkaya, 2018) dan banyak lainnya. Juga karya ilmiah dalam bahasa Inggris.

KENANGAN dengan DR Salim Said yang tak terlupakan, selain lawatan ke Hawaii dan California adalah pengajaran kritik film dan ceramah politiknya. Saya teringat, dia guru saya pertama di bidang kritik film, pada pertengahan 1980an. Bersama saya ikut pelatihan wartawan film, Gantyo Koespradono (Media Indonesia), Octo Lampito (Kedaulatan Rakyat Jogya), Sam Abede Pareno (Suara Indonesia dan Jawa Pos, Surabaya).

Salim Said membahas film Nagabonar’ (1987) sebagai kajian kritiknya. Salim Said membedah, mengapa film itu melahirkan banyak Piala Citra untuk sejumlah elemen, film terbaik, aktor terbaik, tapi minus sutradara terbaik. “Dia terlalu patuh pada skenario Asrul Sani,” katanya. Drs Asrul Sani tak semata budayawan dan penyair, melainkan sutradara dan penulis skenario handal. Skenarionya dilengkapi dengan penempatan kamera, sudut pengambilan dan perintah yang sangat rinci. “Sebegitu patuhnya sampai sutradara tak punya kreatifitas sendiri, ” katanya . Kajian yang menarik.

Dia mengutip juga pernyataan sutradrara Arifin C Noor : “Sebenarnya belum ada film Indonesia itu. Yang ada baru ‘orang Indonesia bikin film’. Dan itu beda, tokh? ”. Menarik.

Profesor Salim Said menjadi pemakalah kembali di sebuah hotel di kawasan Kebayoran Baru untuk para jurnalis senior, bersama penulis film Indonesia dari Australia. Workshop film tingkat lanjutan yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, selama 3 hari (9-11 Mei-2018) – Salim Said hadir bersama Remy Sylado, Niniek L Karim, Marcelli Sumarno, Bre Redana menyegarkan kami dengan kajian filmnya. Itulah kenangan terakhir pertemuan kami.

Saat itu Profesor Salim Said sudah sepuh. Saya teringat, dia tak mau disela saat sedang bicara, karena jadi lupa pada topik yang dibahas. “Harap maklum, saya sudah tua, ” katanya dengan senyum khasnya.

BANG ILHAM sengaja tidak menulis perjalanan kami ke Las Vegas. Dia mengaku pernah menulis sebagiannya, tapi bikin tak nyaman. “Isteri saya marah, ” katanya dengan nada canda. “Biar saya yang menulisnya, ” kata saya di WA.

Jadi perjalanan kami ke Hawaii dan California pada tahun 1991 tak semata mengunjungi saudara saudara kita warga Indonesia di Amerika, menggelar film untuk mereka, audensi dengan walikota, melainkan juga berpesiar ke Universal Studio menyusuri Hollywood Walk of Fame, TCL Chinese Theatre dan berlanjut ke Las Vegas. Empat jam perjalanan ke pusat judi dunia itu.

Bagi para wartawan, tempat tempat gelap dan kelam, juga wajib dikunjungi untuk melihat langsung dunia lain. Melihat sendiri, tak semata mengarang lalu memberikan opini. Dan tak ada bantahan sedikit pun dari kami yang memutuskan untuk mendatangi kawasan berkilau di gurun Nevada itu. Menyambangi kota judi, tempat perbelanjaan dan Ibukota Hiburan Dunia itu. Sebagai junior di antara senior, saya manut saja.

Doktor Salim Said menyatakan di pusat judi itu semua makanan dan minuman dan kamar murah – dan dibuat murah, karena pengelola judi tak mengambil untuk dari kuliner dan kamar hotel, melainkan dari judi. “Bahkan kalau kamu biasa berjudi di situ, kamu bisa nginap gratis, ” katanya kepada saya. Saat ini promosi seperti itu sudah diketahui umum. Pada 30 tahun lalu, merupakan pengetahuan baru.

Memasuki Las Vegas kami terpana. Orang orang di sana tak mengenal siang malam dan tak kena matahari. Ruangan terang benderang dan menyala siang dan malam, tanpa henti. Kami ke dalam, antara lain ke bangunan megah milik Donald Trump – saat itu masih jadi pengusaha – yang biasa digunakan untuk siaran tinju dunia.

Pemandangan menakjubkan kami, banyak anak muda membawa orangtua yang sudah sepuh untuk berjudi. Bahkan mengawal dan menemani mereka berjudi. Di negeri kita, orang seusia mereka tafakur dan mengaji – sedangkan di sana masih takzim di depan meja judi. Dan asyik menarik tuas jackpot.

Kami pun tertarik untuk mencoba. Tapi sebelum itu kami semua meminta “fatwa” kepada yang paling senior di antara kami, Pak Rosihan Anwar. “Sepuluh dollar saja, jangan lebih, ” pesan Pak Ros. Dalam hitungan menit sepuluh dollar yang diyukar koin dari saku saya, lenyap ditelan mesin jackpot. *

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.