Weird Food Diaries

Dunsanak, adakah di antara kalian yang menonton film “Wall E”?

Ini film anak-anak, animasi. Meski tak semua film animasi itu film anak-anak. Aku menontonnya ketika menemani anak-anakku (itu pun ketika itu mereka sudah remaja). Film yang menarik, apalagi pembuat ilustrasi musiknya adalah salah-seorang musisi idolaku, yaitu Peter Gabriel.

Film ini bercerita tentang bumi yang sedang sekarat. Manusia sudah menyingkir di suatu pesawat besoaar mirip planet di luar angkasa. Sementara itu, bumi ‘dibersihkan’ dari sampah-sampah dan segala ampas, barang rongsokan, dan kotoran yang dibuat manusia.

Yang membersihkannya adakah sebuah robot bernama Wall E. Di kisahkan tak ada mahluk hidup yang ingin tetap tinggal atau survive di bumi yang sudah sangat tercemar itu. Tetumbuhan pun musnah. Sang robot ketika ‘mengemas’ segala macam sampah, dipadatkan menjadi kubus-kubus, lalu disusun rapi, ditemani oleh seekor…kecoa!

Ini mengingatkan ungkapan seorang ilmuwan:
“Jika bumi tercemar oleh limbah nuklir, dimana manusia, hewan-hewan besar, kecil dan tumbuh-tumbuhan musnah,…masih ada yg mungkin akan survive, yaitu…serangga!

Seorang teman, entah pernah membaca dari jurnal ilmiah populer apa, mengutip analisa seorang futurolog:
“Kelak, ketika mahluk hidup yang besar, menengah dan kecil tak ada lagi untuk dimakan, maka manusia (daripada memakan sesama) akan memakan…serangga.

Sebetulnya tak perlu menunggu kelak, sekarang pun manusia sudah memakan binatang melata dan serangga.

Seorang teman bercerita. Masa kecilnya dulu, ketika musim laron tiba. Sore sampai senja, dia dan teman-temannya memunguti laron-laron yang menggeliat-geliat tak lagi terbang, karena sayap-sayapnya lepas. Disusun berjajar, ditusuk dengan kawat halus, seperti sate, lalu dibakar.

“Huenaaak”, katanya.

Beberapa teman (termasuk aku) spontan terlonjak. Reaksinya beragam, ada yang bengong. Ada yang terpaku. Ada yang terlonjak, seperti orang merasa geli atau merinding, atau gabungan ke-duanya. Anak-anak kecil di suatu daerah, ada yang menangkapi capung, dipanggang, lalu…lep, seperti makan teri. Ada juga yang memanggang tikus.

Beberapa hari lalu, aku menonton di saluran tv AFN (Asian Food Nerwork) tayangan unik, membuat geli-geli, ‘gimanaa,…tapi menarik. Nama tayangannya: “Weird Food Diaries”.

Dari judulnya saja sudah bisa diduga. Makanan yang akan dikonsumsi adalah makanan-makanan yang weird.

Ada ungkapan untuk menggoda bangsa tertentu: “Memakan semua yang merayap, semua yang terbang kecuali pesawat, memakan semua yang berkaki 4 kecuali kursi dan meja”.

Weird Food Diaries dipandu oleh seorang wanita yang -tentu saja- jauh dari kesan weird.

Namanya RosalynRozzLee‘. Dia adalah presenter, penari dan aktris film dan televisi kondang dan cantik kelahiran Singapur. Sungguh tak ada yang weird tentang itu.

-Jika pun ‘terpaksa’ mencari-cari..
yang agak weird adalah: rambutnya yang lurus, panjang, hitam, tapi rambut di ke-dua sisi di atas telinganya dicukur, seperti semplak. Sedikit tato cantik di pangkal lengan. Sebuah benda mirip cincin mengkilat berwarna perak, menggelantung persis di tengan-tengah hidungnya yang ditindik. Sekelebat, benda di hidung itu, terlihat lebih mirip…ingus.

Dalam tayangan Weird Food Diaries, terlihat Rozz mengunjungi, blusukan ke desa-desa di negara-negara yang penduduknya nampak terbiasa menyantap makanan aneh itu.

Di desa di Kamboja, Rozz mengkonsumsi.. laba-laba tarantula krispi goreng tepung. Yang ternyata rasanya tak berbeda dengan anak kepiting atau anak rajungan di goreng kering.

Melihat ekspresinya yang tak merasa geli, aku salut kepada wanita ini. Aku mungkin akan memakannya, jika tak tahu (dari bentuknya) atau tak diberitahu bahwa itu laba-laba tarantula. Membayangkan tarantula ketika masih hidup, dengan taring yang konon berbisa, perut dan kaki-kakinya yang berbulu,…hiiiiii.

Thailand, Vietnam (kebetulan ke-dua negara itu pernah kami kunjungi), Laos dan Kamboja adalah negara-negara yang penduduk desanya ‘doyan dan biasa’ menkonsumsi makanan-makanan -yang menurut orang kota besar nampak aneh itu.

Di Thailand, aku sempat hendak ‘menantang’ diriku sendiri dengan mengkonsumsi serangga. Aku meminta sopir taxi sekaligus guideku hari itu mengajaknya ke tempat di mana biasa makanan-makanan aneh dijajakan. Tapi hari hujan lebat sehingga tak jadi.

Pak Alex (pasti nama Thailandnya bukan itu) mengatakan: “Sebetulnya makanan itu,…tak saya anjurkan untuk dikonsumsi,…bagaimana ya,…tidak higienis, pak. Tidak bersih. Syukurlah, hari hujan, sehingga kita tak jadi. Saya takut anda sakit perut. Tapi jika besok anda masih penasaran, silakan saja. Tapi ‘kan sudah tak bersama saya lagi,…hahaha” kami pun tertawa-tawa.

Di suatu persawahan desa di Kamboja, Rozz yang mengenakan T-shirt lucu bertuliskan: “I hate insect”, tapi huruf ‘h’ m-nya dicoret, diajak menangkap…tikus. Aku dengar tikus sawah memang enak.

Di desa-desa di Sulawesi orang-orang desa, konon biasa saja mengkonsumsi tikus sawah. “Tikus sawah itu enak. Dagingnya seperti marmut.”

Aku pernah makan daging marmut dan kelinci, tapi aku tak tahu. Jadi bayangan marmut atau kelinci hidup tak menari-nari dalam benak ketika mengkonsumsinya. Tapi tikus?,…mau dibilang tikus sawah itu enak dan jauh lebih bersih daripada tikus got kek,…tetap saja yang terbayang adalah tikus dan…got.

Ketika Rozz, memakan tikus yang sudah diberi bumbu rempah-rempah sedemikian rupa, diungkep, lalu dipanggang,…tapi bentuknya tetap seperti tikus yang…sedang terlentang, sangat terlihat dari ekspresinya dia sedang bertarung antara dengan rasa geli, dan penasaran. Rasa penasaran menang (tak bisa tidak aku kagum!).

Dia menyobek potongan daging paha tikus panggang itu, mengunyahnya, dan…matanya terbelalalak, senyumnya mengembang, lalu dia bilang: “You know what? Setelah saya bertarung, antara rasa geli dan penasaran dan rasa penasaran menang,…setelah mengunyah,…aku takjub, sama sekali tak menyangka jika tikus ternyata dagingnya seenak ini!”

Ketika, Rosalyn ‘melamar’ dan diaudisi (lihatlah, bahkan aktris kondang pun melamar dan diaudisi!) sebagai pembawa acara untuk tayangan itu, dia berkata lucu.

“Bagi orang-orang dari suku bangsa tertentu, dari negara-negara tertentu, mungkin biasa saja mengkonsumsi makanan-makanan itu. Seperti: tikus, ular, laba-laba, biawak, kelelawar, ulat pohon, janjrik, larfa semut, rayap, kodok (entah mengapa kita perlu ‘menghaluskan’ dengan: katak), biawak, dll. Tapi bagi, orang yang belum pernah,…hiiiiiii. Lucu juga, ketika berfikir,…kok yaa,…saya mau-maunya diaudisi untuk acara ini. Tapi,…saya suka tantangan,…dan saya terkaget-kaget. Setelah mengkonsumsi makanan-makanan aneh itu, ternyata… surpriiissseee,…enak!”

Di sebuah kota di Jawa Tengah, dia mengkonsumsi daging…biawak. Alih-alih merasa enak atau geli, aku merasa heran! Hlo,…hla iya. ‘Gimana gak heran. Kok bisa-bisanya warung itu memasak hewan yang konon sudah dilindungi karena sudah semakin langka di dunia. Dan tak ada seorang pun yang melakukan sesuatu tentang itu?!

Di Australia saja, yang jenis biawak, kadal dan jenis reptilnya dianggap paling beragam, reptil (yang kebanyakan dilindungi karena semakin langka), jika terpaksa dibunuh, harus betul-betul selektif. Yang sudah tua -baik jantan atau betina- (repot juga yak, ‘gimana tahunya biawak jantan atau betina, tua pulak?!) dan tentu saja yang sudah tak produktif menbuahi atau dibuahi pasangan untuk melanjutkan keturunan speciesnya.

Nah dunsanak, jika -seperti prediksi futurolog- bahwa manusia kelak mengkonsumsi serangga, maka yang paling siap adalah penduduk desa-desa di Thailand, Kamboja, Vietnam dan Laos.

Nyook, kita latihan makan laron…

Aries Tanjung